Minggu, 04 September 2011

SAKURA -part 3-


-part 3-

Sakura’s POV
BRUKK!! Dengan asal kulempar tas sekolahku ke atas meja makan. Segera aku menghambur ke
rak penyimpanan peralatan makan dan mengambil sebuah cangkir hijau bergambar dinosaurus lucu kesayanganku lalu sepersekian detik kemudian aku sudah melesat ke depan lemari pendingin. Aku mengambil sebotol besar air dingin dan menumpahkan (bukan hanya menuangkan) isinya ke dalam cangkirku lalu menenggaknya. Segar rasanya tenggorokanku yang kerontang ini akhirnya dialiri kesejukan yang kudamba sejak di jalan menuju pulang tadi, karena Shaoran menolak mampir sebentar saja untuk sekadar membeli minuman. Mengingatnya aku menjadi haus lagi karena emosi.
Setelah perutku kembung oleh air dingin, aku mengambil kembali tasku yang tergeletak tak berdaya dan membawanya ke kamarku. Kamarku terletak di lantai satu, pintunya tepat menghadap meja makan. Aku membuka pintu kayu berwarna cokelat tua yang terlihat sangat kokoh itu dan memasuki ruangan yang tidak didominasi warna apapun. Rasanya semua warna ada di sini dan dalam porsi yang hampir sama. Dinding kamarku dilapisi wallpaper yang berwarna-warni, sprei dan selimut tebalku bercorak pelangi, lemari pakaianku yang semula berwarna putih itu sudah dipenuhi beragam stiker dan tempelan-tempelan lain yang berwarna-warni, meja belajarku sama saja keadaannya, bahkan lebih parah karena buku-buku, kamus, majalah, alat tulis, dan lainnya berserakan di atas meja belajar, meninggalkan ruang kosong dalam rak buku. Dan yang paling mengerikan adalah meja riasku. Itu kalau bisa disebut demikian, karena yang ada di atasnya sebagian besar bukan peralatan menghias diri. Tidak ada bedak, parfum, apalagi peralatan make up. Yang memenuhi meja riasku adalah toples-toples cemilan, benda-benda tidak jelas yang seharusnya dibuang saja, dan boneka-boneka sebesar genggaman tangan orang dewasa. Yang merupakan alat berhias diri hanyalah koleksi kunciran lucu-lucu kesayanganku, yang sebagian tercecer di kolong karena terjatuh. Sementara cerminnya hanya tinggal tersisa sedikit ruang untuk bercermin, karena sebagian sudah pecah dan aku merekatkannya dengan lakban hitam lebar. Selain itu, stiker-stiker dan coretan spidol juga menghiasi cermin itu. Alhasil tak tersisa banyak ruang lagi untuk bercermin, tapi aku tak peduli, toh aku jarang sekali bercermin.
Setelah mengganti seragam sekolahku dengan kaus gembel dan celana belel, aku menyalakan laptopku untuk bermain game. Tomoyo tadi pagi bilang ia akan pulang terlambat lagi, urusannya di sekolah benar-benar menyita waktunya.
Saat aku sedang bermain game di laptop, aku mendengar tukang pos datang. Aku keluar dan mengambil sebuah amplop yang bertuliskan nama Tomoyo. Pasti dari ibunya, yang rutin mengiriminya surat bahkan hampir setiap minggu. Ibu Tomoyo yang tidak bisa menggunakan internet itu sepertinya tidak puas bila hanya menelepon setiap hari. Padahal setiap bulan Tomoyo selalu kembali ke rumahnya yang jaraknya hanya dua setengah jam dengan bus itu.
Aku beranjak ke kamar Tomoyo yang terletak di lantai dua, tepat di atas kamarku. Aku membuka pintu ruangan yang didominasi warna putih itu dan masuk ke dalamnya. Kamarnya sangat, sangat rapi dan harum. Aku meletakkan surat yang kupegang itu di atas meja belajarnya. Ku sapu pandanganku sekilas. Biasanya aku sering berlama-lama di ruangan ini untuk mengobrol panjang lebar bersama Tomoyo. Tapi akhir-akhir ini Tomoyo sedang sibuk melakukan penelitian bersama teman-teman sekolahnya.
Aku duduk di kursi belajarnya dan mengamati ruangan itu lagi. Kulihat boneka Barbie kado ulang tahun papa yang ditukar Tomoyo dengan boneka beruang putih dari Shaoran. Tomoyo tahu aku tidak suka dengan boneka Barbie, jadi setelah dia mendapat boneka dari Shaoran dia mengajakku bertukar. Yah, walaupun itu tidak baik sih. Pasti kalau yang memberi kado tahu hal ini akan kesal setengah mati.
Aku tidak tahu mengapa Tomoyo ingin menukar boneka itu dengan Barbie-ku.
Aku baru saja ingin keluar dari kamar Tomoyo saat tiba-tiba mataku menangkap sebuah foto. Foto keluarganya. Tomoyo, almarhum ayahnya, ibunya, dan adiknya. Mereka tampak bahagia sekali dalam foto itu. Keluarga yang harmonis.
Aku kembali meneruskan niatku untuk keluar, tapi aku sudah tidak berminat melanjutkan pemainanku di laptop. Akhirnya aku memutuskan untuk memberi makan Kero. Kero itu tikus mungil kesayanganku. Tidak mungil juga sih, karena badannya yang diselubungi bulu cokelat itu sangat gempal. Nafsu makannya melebihi nafsu makanku, yang kata banyak orang seperti orang kelaparan yang sudah empat puluh hari empat puluh malam tidak makan.
“Kero…” sapaku yang langsung disambut antusias oleh Kero.
Kero mendengus-denguskan hidungnya ke pintu kandang. Tidak sabar menantiku (atau makanannya?).
Setelah memberinya makan, aku mengelus-elus punggungnya perlahan saat ia sedang lahap. Seperti kebiasaanku, aku mulai melacur alias melakukan curhat.
“Kero, apa kau kangen papa?” tanyaku walau Kero tak akan menjawabnya.
“Aku juga.” Aku terus bicara seolah-olah Kero merespon pertanyaanku dengan jawaban ‘Ya’.
“Sudah berapa lama ya papa pergi?” tanyaku lagi. Kero tetap sibuk dengan makanannya.
“Sebulan? Dua bulan? Kurasa lebih.”
Lama aku terdiam, memandangi Kero yang masih sibuk menghabiskan makanannya tanpa menghentikan gerakan tanganku di punggungnya.
Seingatku, terakhir kali papa melalui gerbang rumah adalah pada tanggal 1 April pada hari ulang tahunku yang ke enam belas. Saat itu papa baru saja tinggal selama seminggu di rumah setelah pulang dari luar negeri. Itupun hanya malam hari papa berada di rumah, karena siang hari papa harus kerja. Papa adalah seorang workaholic. Tiada hari tanpa bekerja baginya.
Tapi bahkan, hari itupun papa lupa bahwa enam belas tahun yang lalu ia tengah panik menemani mama yang berjuang melahirkanku. Barulah tiga hari kemudian papa meneleponku selama kurang dari satu menit dan berkata, “Selamat ulang tahun, Sayang.” Yang disusul oleh paket berisi boneka Barbie edisi terbaru yang datang beberapa jam kemudian. Sepertinya papa juga lupa kalau aku tidak pernah menyukai ikon perempuan cantik itu.
Yang jelas, saat ini aku kangen papa. Kangen sekali. Aku tidak marah pada papa yang mungkin akan dibenci anaknya kalau saja anaknya itu bukan aku. Yang aku rasa hanyalah aku sayang papaku.
^-^
Hari Senin tiga tahun yang lalu. Matahari terik sekali, sampai-sampai kulitku memerah seperti babi. Aku kehausan sekali. Tiga gelas jus jeruk yang sudah kosong berdiri kaku di depanku. Gelas keempat sudah akan meyusul barisan itu. Aku menyedot cepat-cepat karena bel berakhirnya istirahat berbunyi.
Aku masuk kelas tanpa merasakan apapun selain jantung yang tiba-tiba berdetak dengan lebih kuat. Bukan cepat, tapi kuat. Rasanya jantungku memukul-mukulku dari dalam. Aku tidak tahu kenapa. Tapi aku tetap bersikap biasa.
Saat guruku masuk, beliau tidak langsung memulai pelajaran. Ia terdiam sejenak di depan kelas lalu berdeham sebelum akhirnya berkata, “Selamat siang.”
Lalu ia kembali terdiam beberapa saat sebelum memilih untuk duduk. Selang beberapa detik, ia memanggilku.
“Sakura Kinomoto, bisa kau maju ke depan?” tanyanya.
Dengan bingung aku menjawabnya dengan langsung menghampirinya.
“Sakura,” ia berdiri saat aku sudah di depan. “Tadi ayahmu meneleponmu. Kau diminta pulang sekarang juga. Sebentar lagi kakakmu akan datang menjemputmu. Bersiaplah,” ujarnya seraya mengelus puncak kepalaku lembut. Bisa kulihat ada yang tak biasa dalam matanya. Apalagi, ini sangat aneh. Untuk apa papa memintaku pulang sekarang? Dan kenapa guruku bersikap seperti ini? Dan aku juga bisa mendengar ada nada serak yang berusaha ditutupinya saat berkata tadi. Ada apa dengan semua ini?
Tanpa bertanya aku segera kembali ke tempatku dan membereskan barang-barangku. Aku tahu ada sesuatu, tapi aku memutuskan untuk mengikuti saja.
Setelah beres, pintu kelasku diketuk. Kakakku muncul di ambang pintu, membungkukkan sedikit badannya. Aku kemudian mengikuti kakakku meninggalkan sekolah setelah berpamitan pada guru dan teman-temanku.
Sepanjang perjalanan kakakku hanya terdiam. Tapi aku tak berani dan tak ingin mengganggunya. Sampai tiba-tiba ia meminggirkan mobil dan menunduk, menyandarkan kepalanya di atas kemudi. Bahunya berguncang, awalnya pelan, tapi semakin lama guncangan itu semakin kuat. Aku menunggu dalam diam. Tiba-tiba aku merasa pipiku basah. Aku pun akhirnya menyadari bahuku juga berguncang hebat, sebelum akhirnya erangan tertahan bercokol di kerongkonganku. Kakakku langsung mengangkat kepalanya dan menoleh. Matanya yang merah dan basah memandangku.
“Ya, aku tahu kau sulit mengatakannya padaku.” Ujarku susah payah menahan erangan itu.
Kakakku mengulurkan tangannya dan menarikku ke dalam pelukannya. “Terima kasih, kau cepat sekali mengerti.”
Aku menggeleng. Aku baru menyadarinya setelah melihat kakakku menangis tadi.
Padahal aku tahu mama sudah lama terserang penyakit, dan semakin lama keadaannya semakin parah. Tapi aku tak pernah memikirkan bahwa suatu saat mama akan pergi. Setiap kali perasaanku tidak enak, aku tidak mau memikirkan mama, karena aku tidak ingin ketakutanku menjadi nyata. Sampai tadi aku merasa ada sesuatu yang tak biasa, aku juga tak ingin memikirkan mama. Tapi toh akhirnya aku sadar juga, ketakutan itu sudah tiba.
Sejak kepergian mama, hidupku berubah. Bukan hanya aku, tapi juga papa dan kakakku. Kami seperti hidup sendiri, seakan tali pengikat kami dalam keluarga sudah lenyap. Papa menyibukkan diri pada pekerjaannya, kakakku larut dalam pelajarannya di sekolah. Sedangkan aku, aku memilih menenggelamkan diri. Menyelami jiwaku dan mencoba mengenali diriku yang remuk ini.
Selama satu setengah tahun keluarga kami bagaikan kapal yang dihantam badai di tengah lautan dan pecah berkeping-keping. Setiap kepingan itu terombang-ambing dipermainkan ombak. Sendiri dan terpisah.
Tapi, akhirnya setelah waktu satu setengah tahun itu aku mulai terlepas dari ombak dahsyat itu dan dapat mengapung perlahan. Aku sudah bisa melihat sedikit lebih jelas sekarang, pandanganku tidak lagi benar-benar kabur.
Aku bisa melihat bagaimana papa masih berputar-putar dalam pusaran ombak, juga kakakku yang berkeliling tak tentu arah. Ya, aku bisa melihat mereka, tapi aku tidak bisa menangkap mereka.
Aku mencoba untuk bisa mengikhlaskan kepergian mama, karena sekarang yang aku tahu, yang lebih kuinginkan adalah agar mama tidak lagi menderita. Tapi aku juga tahu dan merasakan, sakitnya kehilangan orang yang amat kucintai dalam hidupku itu. Aku tahu sangat sulit bagi papa untuk bisa kembali membangun kapal yang baru untuk mengarungi kehidupan baru kami, karena untuk terlepas dari perasaan yang luar biasa perih itu saja bukanlah hal mudah. Aku pun tak tahu bagaimana cara melepaskan papa dari pusaran perasaan duka itu. Dan kakakku yang setahun setelah kepergian mama memutuskan untuk kuliah di luar negeri keadaannya tidak jauh berbeda dengan papa.
Akhirnya aku memilih untuk terus menjalankan hidupku sewajar mungkin seperti dulu. Aku ingin hidupku bahagia dan aku akan berusaha membuat keinginanku itu jadi nyata. Aku memilih untuk memaklumi sikap papa dan kakak yang memutuskan untuk mencoba menghindari kenyataan sebagai upayanya melepaskan diri dari belenggu pusaran hitam. Aku mencoba menerima keputusan mereka yang memilih tenggelam dalam kesibukan daripada menjalani hidup seperti dulu karena memang hidup kami tidak lagi sama seperti dulu. Jalan yang kami pilih memang berbeda, tapi aku mencoba menghargainya.
Beruntung aku selalu ditemani sahabatku sejak kecil, Shaoran. Shaoran memang tidak berbuat apa-apa untuk menolongku saat aku berjuang keluar dari lubang hitam itu. Tapi kehadiran Shaoran yang tidak pernah absen dalam kehidupanku membuatnya lebih mudah. Setelah kepergian mama itu, papa yang menjadi gila kerja sangat jarang menghabiskan waktu di rumah. Papa pergi pagi-pagi sekali dan selalu pulang larut malam. Kakakku yang sudah tinggal di luar negeri hanya menelepon sesekali. Shaoran-lah yang membuatku merasa bahwa masih ada manusia selain diriku.
^-^
TBC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar