Minggu, 04 September 2011

[masih] UNTITLED


===
ulgo sipeul ttae ureoyo seulpeumdeureul aesseo chamji marayo
geudaega dasi useul su itge naega anajulgeyo
Cry when you want to cry. Don’t purposely hold in your sadness
I’ll embrace you so that you can smile again

Wajah gadis itu menghadap ke jendela sebuah ruangan rumah sakit yang ditempatinya, tapi Sandeul tahu betul pandangannya tidak ke gunung yang tegak menjulang di kejauhan sana. Tidak kemanapun.
Bahkan gadis itu sedikit tersentak ketika Sandeul memegang pundaknya dari belakang. Sudah setengah jam yang lalu Sandeul berada di ruangan yang sama, tetapi gadis itu baru menyadarinya.
“Ah, Oppa.” Gadis itu menoleh. Tanpa senyum yang biasa menghiasi wajahnya.
“Kau mau kuantar ke balkon? Kau bisa memandang gunung tanpa terhalang kaca jendela di sana.” Sandeul menawarkan bantuannya untuk mendorong kursi roda tempat si gadis itu duduk.
 Gadis itu menggeleng lemah, lalu kembali memandang entah apa di balik gunung itu.
Sandeul tidak kehabisan akal untuk mencari perhatian gadis itu. Ia menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya seolah kedinginan. Tak lupa ia merapatkan jaketnya.
“Pendingin ruangan di sini dingin sekali,” keluh Sandeul sembari berpura-pura sedikit menggigil.
Tapi tak ada tanggapan apapun dari gadis yang sepertinya tidak mendengarkan Sandeul.
“Kau tidak ingin merasakan sinar matahari di luar, Ha Ni?” usik Sandeul lagi.
Kim Ha Ni sepertinya tidak mendengarkan ocehan Sandeul sama sekali.
“Ha Ni?” Kali ini Sandeul mengeraskan suaranya.
“Ah? Eh? Apa, Oppa?” Ha Ni terlihat gelagapan.
“Kau tidak ingin merasakan sinar matahari di luar? Aku merasa dingin sekali di sini.”
“Err, kalau begitu kau keluar saja, Oppa. Aku tidak apa-apa di sini sendiri.”
Sandeul tidak sabar lagi. Ditariknya kursi roda Ha Ni lalu segera didorongnya menuju balkon. Tak peduli protes Ha Ni.
“Oppa! Aku kan sudah bilang aku tidak mau.” Ha Ni hampir menangis. Sandeul baru menghentikan kursi rodanya setelah mereka tiba di balkon.
“Kenapa? Bukankah kau sangat menyukai matahari di pagi hari Minggu?”
Gadis itu menunduk. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Tubuhnya menegang kaku. Ha Ni berusaha sekuat tenaganya untuk tidak menangis.
“Menangislah, menangislah kalau kau ingin menangis, Ha Ni. Tapi jangan benci matahari itu. Jangan hindari ia.” Sandeul berlutut di depannya, menyamai tinggi badan gadis yang terduduk di kursi roda itu.
“Matahari di pagi hari Minggu membuatku ingin berlari, Oppa. Aku membencinya sebab kini aku tidak bisa berlari lagi.” Gadis itu mengangkat wajahnya, menatap lurus ke mata Sandeul.
Sandeul menatap mata indah yang kini balas menatapnya. Mata yang dulu penuh kilau harapan, kini redup. Tak ada sinar kehidupan di mata itu. Sejak sebuah kecelakaan merenggut kaki kanannya, modal utama karirnya sebagai atlet lari nasional. Kecelakaan antara dua motor itu melibatkan tiga orang gadis. Ha Ni sendiri di motor yang dikendarainya, dan dua orang gadis lain di motor yang lain. Kecelakaan yang terjadi tidak lama setelah matahari terbenam itu nyaris menjadi kecelakaan maut. Atau memang kecelakaan maut, karena pengemudi motor yang lain itu terlalu parah untuk bisa selamat.
“Kau pasti akan berlari lagi.” Sandeul berusaha terdengar yakin, seyakin yang diyakininya bahwa Ha Ni pasti bisa berlari lagi.
Gadis itu tertawa. Tawa yang miris. “Aku bukan anak kecil yang bisa kau hibur dengan dusta, Oppa. Kakiku bahkan sudah tidak ada.”
“Tolong yakini ucapanku, Ha Ni. Aku serius.” Sandeul tidak gentar jua merobohkan tembok duka Ha Ni.
Ha Ni terdiam. Ditatapnya lekat mata Sandeul. Mata yang masih penuh harapan, termasuk padanya. Mata yang begitu yakin akan ucapannya tadi.
“Benarkah, Oppa? Aku bisa berlari lagi?” tanya Ha Ni. Tak peduli sebelah kakinya sudah diamputasi. Tak peduli bila ternyata Sandeul Oppa-nya ternyata memang membohonginya. Gadis itu hanya ingin sinar harapan di mata Sandeul menular ke matanya.
“Ya.” Sandeul mengangguk mantap. Senyumnya mengembang.
Ah, Ha Ni sangat suka senyuman itu. Senyuman matahari. Bibit sinar yang mulai tumbuh di matanya seolah mulai berkecambah.
himi deul ttaemyeon jamsi swieogal su itdorok naui eokkaereul billyeojulgeyo
When you’re tired, I’ll lend you my shoulder so that you can rest for a bit
Tetes-tetes peluh berleleran di sekujur wajah dan tubuh Ha Ni, tapi gadis itu enggan berhenti untuk berlari. Kaki palsu yang belum lama dikenakannya memang tidak senyaman kakinya semula, tapi dengan kaki itu Ha Ni bisa berlari lagi.
BRUGG! Untuk ke sekian kalinya Ha Ni terjatuh. Sandeul langsung menghampirinya, tapi gadis itu menggeleng kuat-kuat untuk menerima bantuan lelaki itu.
Dengan susah payah Ha Ni mencoba berdiri lagi. Sedetik kemudian tubuh lemasnya kembali ambruk. Kekuatannya sudah habis. Ha Ni kini pasrah dibopong Sandeul ke pinggir lapangan.
“Aku bisa berlari lagi, Oppa…” Ha Ni tersenyum lirih mengatakannya.
Sandeul mengangguk mengiyakan. Dibukakannya sebotol air mineral sebelum disodorkan pada Ha Ni. Gadis itu menerimanya lalu dalam waktu singkat menghabiskan 600 mL isinya.
Ha Ni tersenyum puas seraya memandangi kaki palsunya, senang pada kenyataan bahwa perkataan Sandeul tempo hari bukanlah sekadar hiburan kosong.
Sandeul pun tersenyum lega memandang gadis di sebelahnya sudah kembali “hidup”. Disandarkannya kepala gadis itu di pundaknya seraya dilapnya keringat Ha Ni dengan handuk kecil yang dibawa gadis itu.
I pray no tears in your dreams
I know you’ll fly high in your life
“Walaupun kakimu palsu, kau tetaplah juara sejati, Ha Ni. Walau kau kini tidak bisa lagi mengikuti lomba lari yang biasa kau ikuti, kau tetap bisa menjuarai lomba lari para penyandang cacat. Kau masih dan akan selalu menjadi juara. Aku yakin itu.”

i sesangeun jageun nuneuro tto geudael boryeogo hajiman
boran deusi dangdanghage malhal su isseo You’re the only one
Although this world tries to look at you with a small view
I can confidently say you’re the only one
“Aku gugup, Oppa.” Ha Ni mengaitkan jemari kedua tangannya erat. Beberapa titik keringat menyembul dari pori-pori di dahinya. Untuk pertama kalinya Ha Ni kembali ke lapangan untuk bertanding setelah kehilangan kaki kanannya.
“Kau pasti bisa, Ha Ni. Semangaaat!” Sandeul mengacungkan kepalan tangannya ke udara.
Ha Ni tersenyum lemah. Dilihatnya sekeliling. Para penyandang cacat peserta lomba lari seperti dirinya tampak percaya diri. Beberapa orang terlihat mencuri pandang ke arah Ha Ni dengan tatapan kasihan terhadap mantan atlet lari nasional itu. Tampak jelas keraguan mereka terhadap Ha Ni dengan kaki palsu barunya.
Sandeul memegang dagu Ha Ni lalu mengarahkan ke arahnya, memaksa gadis itu menatapnya.
“Believe in yourself.”

jogangnan kkumeul chajayo an doendaneun mareun haji marayo
geu kkumeul dasi irul su itge naega dowajulgeyo
Find your broken dreams again. Don’t say that you can’t
I will help you to make that dream come true
Mata Ha Ni masih belum berhenti mengalirkan dukanya. Tubuhnya masih berguncang. Napasnya masih tersengal. Hidungnya bertambah besar dan merah.
Sandeul memegang pundak Ha Ni, berusaha mengalirkan kekuatan pada gadis itu.
“Oppa, apa ini artinya aku tidak ditakdirkan untuk berlari?” Ha Ni bertanya dengan suara sengaunya.
“Kalah satu kali bukan berarti kau mengambil jalan yang salah, Ha Ni. Lagi pula ini pertandingan pertamamu dengan kaki barumu.”
“Tapi… itu tadi sangat buruk. Aku sangat jauh tertinggal. Aku berada di urutan terakhir! Kurasa aku tidak akan bisa menjadi juara, bahkan menyalip satu orang pun aku tidak mampu.” Ha Ni menangis semakin kencang. Bahunya semakin keras berguncang.
“Kau baru berlatih beberapa bulan, Ha Ni. Sedangkan mereka bertahun-tahun. Kau hanya perlu berlatih lebih. Aku akan selalu di sampingmu, menemanimu berlatih, mengiringimu pada kesuksesanmu. Aku selalu mendukungmu, Ha Ni.” Sandeul mengusap-usap puncak kepala Ha Ni.
“Tapi kau kan harus kuliah, Oppa. Sebentar lagi liburan panjangmu berakhir.” Ha Ni mengerucutkan bibirnya.
“Walau aku jauh, tapi doa dan hatiku selalu di sisimu.” Sandeul mengedipkan sebelah matanya.
Ha Ni tertawa, ia sangat sayang pada teman kecil yang tiga tahun lebih tua darinya itu.

sumi chaoreul ttaemyeon jamsi nuneul gamgoseo geudae miraereul sangsang haebwayo
When you feel like you can’t breathe, close your eyes for a bit and think about your future
Tidakkah kegagalan-kegagalan yang kau alami menyadarkanmu, Kim Ha Ni? Kau harus membuka matamu, lihat dunia di hadapanmu. Jangan tenggelam dalam mimpi sia-sia mu.
Ha Ni menunjukkan sms yang dikirimkan kekasihnya. Pria itu sudah lelah melihat tangis Ha Ni di setiap kekalahan yang terjadi di setiap pertandingan yang diikuti Ha Ni.
“Satu persatu pendukungku mengundurkan diri. Keluargaku bahkan hanya setengah hati mendukungku sejak awal keikutsertaanku di kejuaraan penyandang cacat ini.” Ha Ni bertutur lesu.
“Apa aku memang buta, Oppa? Apa aku terlalu memaksakan diri di jalan ini? Aku… aku tidak kuat, Oppa. Aku tidak tahu bagaimana jadinya melepaskan diri dari sesuatu yang setengah nyawaku ada padanya. Aku tidak bisa membayangkan diriku berhenti berlari. Tapi, aku juga tidak yakin sanggup bertahan kuat di jalan ini. Aku tidak yakin mampu terus menghadapi kekalahan-kekalahanku yang seakan melarangku terus berlari.” Ha Ni kembali tenggelam dalam linangan air dukanya. Ha Ni memeluk kedua lututnya dan membenamkan wajahnya. Punggungnya kembali berguncang, menunjukkan rapuhnya ia terhadap apa yang membebaninya kini.
“Tanyakan hatimu, Ha Ni, apa yang sebenarnya kau inginkan. Kau akan menemukan jawaban apakah jalan yang kau lalui ini benar atau salah.”

I pray no tears in your dreams
I know you’ll fly high in your life
“Walaupun kakimu lelah, kau tetaplah juara sejati, Ha Ni. Walau kau sedang hilang arah, kau bisa tanyakan hatimu kemana harus melangkah. Kau masih dan akan selalu menjadi juara. Aku yakin itu.”

I sesangeun jageun nuneuro tto geudael boryeogo hajiman
boran deusi dangdanghage malhal su isseo You’re the only one
Although this world tries to look at you with a small view
I can confidently say you’re the only one
“Perunggu?” tanya kekasih Ha Ni saat gadis itu menunjukkan medali pertama yang ia peroleh setelah beberapa kali mengikuti perlombaan lari.
Ha Ni mengangguk cepat, menunggu tanggapan lebih lanjut dari pria yang sudah tiga tahun menjalin hubungan dengannya itu.
Pria itu diam saja. Hanya memandangi medali Ha Ni tanpa minat.
“Bagaimana kemajuanku?”
“Sebentar lagi pasti kau akan dapatkan medali emasnya!” Alih-alih kekasih Ha Ni yang menjawab, justru Sandeul lah yang menanggapinya.
Kekasih Ha Ni hanya mengangguk menambahi ucapan sahabatnya semasa SMA sekaligus comblangnya itu.

Uh jikyeojulge nunmul heullineun geudae gyeoteseo
amu geokjeong malgo swieo ijen nae pumeseo
nungae maechin tteoreojiji annneun seulpeum
kkumsoge geochin boiji annneun meokgureum but
neoneun utji mwo apeum ttawin deo chamji malgo
jeo haneullo nopi nallyeobeoryeo ijen kkeuteul hyanghae gallae
jeobeodwotdeon nalgae pyeolchyeojwo Take my hand
Uh I’ll protect you and stay by your side as tears flow
Just rest without any worries in my embrace
The sadness formed in your eyes that won’t fall
In your dreams there are rough dark clouds that don’t show but
you smile. Don’t hold back your hurt anymore
Just throw it high into the sky. I want to go towards the end now
Open up the wings that were folded away. Take my hand
Maafkan aku yang tidak cukup kuat untuk selalu memompa semangatmu. Aku hanya orang yang sama lemahnya dengan dirimu. Aku tidak mampu melihat air mata perjuanganmu. Aku hanya bisa berharap kau dapatkan mimpimu. Sekarang aku bukan lagi kekasihmu dan mulai sekarang juga kau bisa mencari orang yang lebih baik dariku. Terima kasih, dan maafkan aku.
Ha Ni tidak menangis, tetapi tangannya bergetar saat membaca pesan itu. Ponselnya sudah membentur lantai kalau Sandeul tidak segera menangkapnya.
“Boleh kubaca?” Sandeul meminta izin Ha Ni untuk membaca sms itu.
“Baca saja.” Ha Ni berjalan kaku seperti robot menuju bangku. Tangannya belum berhenti bergetar dan tatapan matanya kini kembali kosong.
Sandeul membaca cepat sms itu. Matanya terbelalak begitu tahu apa isinya. Ditatapnya Ha Ni setelah selesai membaca sms dari mantan kekasih gadis itu. Ha Ni tidak juga menangis, atau masih belum menangis. Gurat keterkejutan, kekecewaan, kesedihan, kemarahan, dan berbagai emosi lain bercampur di matanya.
“Ha Ni…” Sandeul menghampiri gadis itu.
“Apa kau juga mau pergi, Oppa? Apa kau juga akan meninggalkanku? Pergilah jika kau mau. Aku akan tetap dengan mimpiku. Walau harus merangkak, aku pasti tetap menuju mimpi itu.” Ha Ni berceloteh dengan senyum. Senyum yang diharapkannya dapat menguatkan dirinya sendiri.
Sandeul tersenyum, ia senang dengan semangat Ha Ni. Tapi itu tak berarti ia akan berhenti menyemangati gadis itu.
“Aku tidak akan pergi.”

dasin ulji marayo
Don’t cry again
Semangat, Onnie! Kami selalu mendukungmu! J
Kim Ha Ni, kami yakin sebentar lagi kami akan menyaksikanmu berdiri di podium paling tinggi!
Kami selalu mendoakanmu, Nuna! Jangan menyerah!
We love Kim Ha Ni! We proud of you! Don’t give up!
Ha Ni menangis. Ia begitu terharu atas dukungan dari para penggemarnya. Dikumpulkannya beberapa surat dan email yang sudah di-print. Walaupun jumlahnya sudah jauh lebih sedikit daripada yang pernah diterimanya di masa kejayaannya, tapi Ha Ni tetap merasa sangat bahagia.
Sandeul tersenyum senang melihatnya.
“Ha Ni, mengapa ada kanvas kosong di sini?” Tanpa sengaja Sandeul merusak suasana. Ia heran melihat kanvas kosong besar terpampang di penyangganya berada di kamar Ha Ni. Beberapa botol cat dan palet serta kuas tergeletak di meja kecil di samping kanvas itu.
“Ah, itu… mamaku membelikannya untukku. Ia bilang aku bisa melukis bila aku jenuh.”
“Wah, ibumu perhatian sekali padamu.” Sandeul senang mendengarnya.
Tapi Ha Ni justru sebaliknya. Senyum di wajahnya perlahan pudar.
“Ia ingin aku melukis, bukan berlari.”

I pray no tears in your dreams
I know you’ll fly high in your life
“Walaupun hatimu lelah, kau tetaplah juara sejati, Ha Ni. Walau kau perlahan-lahan kehilangan penopangmu, kau tetap bisa berdiri. Kau masih dan akan selalu menjadi juara. Aku yakin itu.”
chagapge byeonhan maeumdeureun geudaereul alji motajiman
nuguboda meotjin geudae nae gyeote isseo You’re the only one
Although hearts that changed coldly may not know you,
who is cooler than anyone, stay by my side. You’re the only one
Ha Ni tersenyum menggenggam sebuah amplop. Satu-satunya surat dari penggemarnya bulan ini. Tidak ada lagi email masuk dari penggemarnya.
Kalau semua orang berjalan ke selatan, padahal kau yakin arahmu ke utara, berjalanlah terus ke utara.
Karena hanya kau yang paling mengerti dirimu.
Kalau semua orang memaksamu menyerah, padahal kau yakin kau akan menang, jangan menyerah!
Karena kau yang menjalani hidupmu, merasakan jatuh bangunmu.
Kalau semua, ya, semuanya, telah hilang dari sisimu, telah pergi meninggalkanmu, menyisakan benar-benar hanya dirimu satu, ingatlah
Masih ada Tuhan yang memeluk mimpi-mimpimu.
Ha Ni menangis sambil tersenyum. Ia mendekap surat tanpa nama pengirim itu erat.
I pray no tears in your dreams
I know you’ll fly high in your life
“Walaupun kakiku palsu, kau tetaplah pendukung sejati, Oppa. Walau aku kini tidak bisa lagi mengikuti lomba lari yang biasa ku ikuti, aku tetap bisa menjuarai lomba lari para penyandang cacat. Kau masih dan akan selalu mendukungku. Aku yakin itu.”
“Walaupun kakiku lelah, kau tetaplah pendukung sejati, Oppa. Walau aku hilang arah, kau mengingatkanku untuk menanyakan hatiku kemana harus melangkah. Kau masih dan akan selalu mendukungku. Aku yakin itu.”
“Walaupun hatiku lelah, kau tetaplah pendukung sejati, Oppa. Walau aku perlahan-lahan kehilangan penopangku, kau yakin aku tetap bisa berdiri. Kau masih dan akan selalu mendukungku. Aku yakin itu.”
“Terima kasih, Oppa, terima kasih atas senyuman mataharimu yang senantiasa menyirami semangatku. Terima kasih atas senyuman mataharimu yang senantiasa membangkitkanku. Terima kasih atas senyuman mataharimu yang tak pernah lelah mengiringi perjuanganku dari nol hingga kini aku mengalungi medali emas yang kudambakan. Terima kasih atas senyuman mataharimu, cerminan cinta dan kasih sayangmu padaku.”
“Terima kasih atas senyuman matahari yang mengiringi penulisan satu-satunya surat penggemar paling setia tanpa nama itu.”
***
THE END
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar