Senin, 17 September 2012

[Flash Fiction] In The End ...

Percuma.
Satu kata itu saja yang terngiang-ngiang di telinganya, serupa kaset yang diputar ulang terus menerus.
Bukankah sudah kubilang sebelumnya?
Ia tahu, kalimat itu akan terarah padanya.

Ia menatap cermin. Benar saja, sosok di hadapannya kini sedang menertawainya. Keterlaluan! Ia tidak tahu apa-apa tentang apa yang kurasakan.
Praangg!!
Sosok mengerikan yang tadi menertawainya kini hancur. Potongan-potongan kecilnya mempertontonkan air mata yang tiba-tiba saja menderas.

Senggukan dan seringaian itu lah yang pada akhirnya mengiringi aliran darah dan air mata yang bersumber dari sebuah lubang penyesalan yang sia-sia.

Sabtu, 24 Maret 2012

Speechless

............
Saya speechless. Sungguh. Hanya debaran jantung, yang temponya mendekati detak yang biasa tercipta saat saya sudah 15 menit jogging, yang mewakili ke...[apa ya termnya? Saya bener-bener bingung sendiri. Kagum, terkejut, amazed, dan.... pengen (?)] an saya ketika saya membaca sebuah buku kecil berjudul "Karunia Terindah". Buku tersebut merupakan souvenir pernikahan salah satu tetangga saya.
Unik, bukan, membuat buku sebagai souvenir pernikahan? Saya pikir itu merupakan sebuah terobosan yang sangat kreatif. Two thumbs up, deh, buat dia!! :) 
Dalam buku tersebut, si penulis yang merupakan mempelai wanita menceritakan kisah cinta mereka sejak pertama kali mereka berkenalan. Betapa perbedaan usia 10 tahun ternyata tak mampu menghalangi niat suci si lelaki untuk menikahi gadis yang bahkan belum berusia kepala dua.
FYI, si perempuan ini seumuran sama saya, dan itu yang membuat saya cukup "Hah?" saat tahu dia mau menikah. Tapi, saya bukan anti nikah muda, kok, hanya agak terkejut saja (dan sedikit membayangkan, kalo gue yang ngalamin, gimana ya???). Bahkan saya salut banget, dia berani mengambil keputusan itu walaupun ada yang pro-kontra. Berulang kali ditulis dalam buku itu bahwa ia sangat menghargai perbedaan, dan betapa perbedaan itu terasa sangat indah baginya karena menjadikan hidup ini berwarna. Huaa, suka banget dengan sikapnya yang begitu bijak dan dewasa ^^
Life is Never Flat, tulisnya dalam buku itu, seperti yang ada di iklan snack favorit saya. Kisahnya benar-benar nyess banget buat saya. Dalam waktu beberapa bulan saja, mereka yang awalnya tidak saling mengenal, sekarang sudah menjadi pasangan yang sah secara hukum negara maupun agama. Tanpa pacaran. Bahkan, "nembak"nya pun langsung ke bunda si perempuan ini duluan, sebelum ngomong ke sasarannya.
Jadi inget ucapan dosen saya waktu itu, yang kira-kira bunyinya, "Jangan seneng kalo ada yang bilang 'Aku cinta kamu'. Minta buktinya: berani nggak dia ngelamar?"

Untuk teman TPA-ku, Annida Putriga (yang entah masih kenal saya atau nggak, hehe), selamat menempuh hidup baru yang akan tetap nggak flat ini ya! Semoga keluarga baru kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Aamiin.
.
.
.
N.B.: Gue kapan, ya? :p

Selasa, 20 Maret 2012

rindu pelangi

Aku lupa hari apa. Saat itu aku sedang agak terburu-buru setelah membeli buku faal di daerah barel. Aku melihatmu, Mr. Rainbow, entah sedang apa bersama salah seorang teman lelakimu.
Kita mengenakan baju berwarna sama! Merah. Warnamu. Warna kesukaanku. Entah mengapa aku langsung tersenyum sendiri saat menyadarinya, setelah kau hilang dari pandangan beberapa detik sebelumnya.
Hanya beberapa detik, memang. Tapi aku menghembuskan napas serupa kelegaan saja. Akhirnya aku bisa melihatmu setelah berbulan-bulan berada di kampus yang sama.

Langit terik sore itu. Matamu semakin serupa garis saja.

P.S.: Aku masih ingat sifatmu yang agak mudah bangga. Jangan senang karena aku hanya merindukanmu sebagai pelangiku. Hanya itu. 

Kebablasan

Entahlah. Saya bingung dengan apa yang terjadi pada diri saya belakangan ini. Kurang konsentrasi, mungkin?
Bayangkan saja, hari Jumat (16 Maret 2012) saya mau ke sebuah tempat edit video di deket sebuah universitas swasta di daerah Kelapa Dua. Saya naik angkot 112 jurusan Depok-Kp Rambutan, dari kampus saya sekitar abis maghrib. Nah, berhubung saya tidak tahu letak persisnya kampus yang jadi patokan itu, saya bertanya pada teman saya. Tapi, sayangnya jawaban darinya tidak membuat saya cukup mengerti. Alhasil, saya kebablasan. Kesalahan fatal saya, saya nggak tanya sama orang lain. Saya nggak tanya supir angkotnya, saya nggak tanya penumpang lain juga. Barulah, setelah angkot yang saya tumpangi sudah memasuki Jalan Raya Bogor, saya baru menyadari, kok kayaknya jauh banget ya? dan saya bertanya pada seorang ibu di sebelah saya.
"Oh, itu mah udah kelewatan neng. Jauuuh.. Neng turun aja di sini, trus naik angkot kayak ini lagi dari seberang."
Finally, ongkos yang mungkin seharusnya hanya 2000 atau 3000 jadi 6000 karena harus naik 2 angkot bolak-balik. -___-"
Besoknya, saya lagi-lagi "kebablasan". Ketika mau ke rumah salah satu senior saya di daerah Jagakarsa, daerah yang asing banget buat saya, saya naik berbagai angkot sebelum mendapatkan angkot yang benar. Saya dari Pasar Minggu naik angkot ke jurusan Depok, turun di stasiun Tanjung Barat, naik Kopaja 616 turun di ujungnya, jalan sampai ujung jalan M. Kahfi dan naik angkot 20. Padahal, angkot 20 itu bisa saya naiki dari Pasar Minggu (gubrak!!) tapi karena saya nggak ngerti rute angkot dan malas bertanya (bukan malu), jadilah saya berkeliling kota dulu hahaha.
Tapi, kisah "kebablasan" itu belum dimulai. Saat saya naik angkot 20, saya berpesan pada si supir angkot agar berhenti di Jalan yang menuju rumah senior saya. Si supir mengiyakan, dan saya percaya padanya. Sampai akhirnya saya sms teman saya dan melaporkan posisi saya saat itu (setelah lama di angkot tersebut) bahwa saya berada di depan sebuah panti asuhan besar. Teman saya membalas, "turun". Singkat, dan membuat saya bingung. Si supir angkot masih tampak tenang-tenang saja, seolah tujuan saya masih jauh. Saya kemudian menelepon teman saya, dan dia bilang seharusnya saya turun di depan panti tadi. Saya pun bertanya pada si supir.
"Oh iya, Mbak. Saya lupa!"
Walhasil, saya berjalan kaki dari tempat si supir menurunkan saya dengan seenaknya :'( menuju rumah senior saya, karena uang saya habis, Saudara-saudara!! Miris.. Untung saya secara kebetulan meng-sms teman saya tidak jauh setelah melewati panti, kalau tidak, mungkin saya sampai di Pasar Minggu lagi! Meskipun saya harus jalan kaki lumayan (bacanya dengan nada tertentu hehe) jauh, sih.
Eeeh, hari Seninnya (19 Maret 2012), saya "kebablasan" LAGI! Kali ini bodohnya saya kebablasan di kampus sendiri. Saya naik bis kampus dari depan fakultas saya. Bermaksud untuk kembali ke kosan, saya baru sadar bahwa saya sudah sampai di tujuan ketika bis sudah melalui tulisan "Gymnasium" yang artinya sudah terlewaat... hiks hiks hiks :'(
Untung bis kampus gratis, jadi saya turun di halte lain dan naik bis kampus lagi ke halte tujuan saya.

Apa yang salah denganku??

Minggu, 18 Maret 2012

PHP

Maksud hati ingin segera off internetan dan segera tidur, tetapi sapaan seorang kawan membatalkan niat saya. Malam ini dia curhat lagi, seperti biasa.
Lagi-lagi topik yang umum diceritakannya dan teman-teman saya yang lain. Cinta. Ya, apalagi yang lebih diminati orang-orang seusia saya? Kadang kala, kalau saya sudah mulai bosan dan lelah, saya mendesah dalam hati seraya bergumam sendiri, "Nggak salah apa, lo milih untuk curhat ke gue? Bahkan jam terbang lo udah juauuh di atas gue untuk masalah ginian."
PHP, alias pemberi harapan palsu, banyak dari mereka yang curhat ke saya mengecap orang-orang yang dicurhatin ke saya itu dengan sebutan demikian. Sikap yang sangat perhatian, sinyal-sinyal positif, tanggapan yang baik, dan sebagainya, memang mudah sekali membuat orang berharap. Sayangnya, ternyata harapan itu palsu. Akhirnya, orang yang sudah terlanjur berharap tadi jadi keki sendiri.
Mungkin karena terlalu sering mendengar kasus-kasus PHP ini, saya jadi mengalami learned hopelessness. Saya "belajar" untuk putus asa. Demi menghindari harapan-harapan palsu, saya memilih tidak berharap sama sekali. Entahlah, sesuatu yang biasa dianggap kebanyakan orang itu sebagai harapan, saya enggan menganggapnya demikian. Sehingga dengan terpaksa saya menggeneralisasi "harapan-harapan" yang ada sebagai bukan harapan. Miris banget, ya, kayaknya? Hahaha. So far, saya belum merasakan dampak buruk dari perilaku saya ini. Secara, saya belum membutuhkannya. So, saya memilih untuk single but not available. Yaah, meskipun kakak saya seringkali sibuk sendiri. Mulai dari menceramahi, menasihati, menyindir, sampe mengomel sendiri dengan sikap saya yang seperti itu.
Ya sudah lah, jodoh gak kemana, kan?
Lagi-lagi kakak saya memprotes. "Tapi kan harus ikhtiar juga!" katanya.
Tapi kan saya belum berniat menikah dalam waktu dekat ini. Hehehe. :p