Minggu, 04 September 2011

SAKURA -part 6- (END)


Tiba-tiba saja Sakura merasa mendapat pencerahan dari pembicaraan gadis yang baru saja putus dengan pacarnya yang merupakan alumni sekolah Tomoyo dengan temannya.

-Part 6-
Pagi-pagi sekali Tomoyo sudah mendengar grubak-grubuk di lantai satu. Sambil menguap, ia melirik jam dindingnya.

SAKURA -part 5-


“Maaf, Shaoran…” bisik Tomoyo yang bersandar di balik pintu kamarnya. Tangannya meraih bandul di kalung yang melingkari lehernya lalu membukanya. Tampak foto dua orang lelaki paling dicintainya di dalam bandul itu. Ayahnya, dan seorang lelaki lain.
-part 5-
Tomoyo bukannya tidak tahu perasaan Shaoran padanya. Justru ia sudah mengetahuinya bahkan sebelum adik sepupu kesayangannya itu tahu. Tomoyo hanya berpura-pura tidak tahu dan berharap Shaoran akan dapat melupakan perasaannya pada Tomoyo.

SAKURA -part 4-


-part 4-
Normal POV
Minggu pagi. Sakura menggeliat di ranjang single-nya dengan mata masih terpejam. Setelah melirik jam yang bertengger di meja kecil di sebelah tempat tidurnya, ia mengerang. Sepagi ini ponselnya sudah berisik, mengganggu tidurnya saja.

SAKURA -part 3-


-part 3-

Sakura’s POV
BRUKK!! Dengan asal kulempar tas sekolahku ke atas meja makan. Segera aku menghambur ke

SAKURA -part 2-


“Ada yang mengganjal pikiranmu?” tanya Shaoran khawatir.
“Aku – aku baik-baik saja.” Jawab Sakura yang langsung menunduk sambil menyesap ice cappuccino nya, tak ingin membalas tatapan khawatir Shaoran.
-Part 2-
Shaoran’s POV
Selama beberapa saat aku dan Sakura terdiam, sesuatu yang tidak biasa bagi kami, dua makhluk yang kalau ketemu sama-sama sakit jiwa itu. Kalau kami diam begini, kemungkinannya adalah