Minggu, 04 September 2011

SAKURA -part 5-


“Maaf, Shaoran…” bisik Tomoyo yang bersandar di balik pintu kamarnya. Tangannya meraih bandul di kalung yang melingkari lehernya lalu membukanya. Tampak foto dua orang lelaki paling dicintainya di dalam bandul itu. Ayahnya, dan seorang lelaki lain.
-part 5-
Tomoyo bukannya tidak tahu perasaan Shaoran padanya. Justru ia sudah mengetahuinya bahkan sebelum adik sepupu kesayangannya itu tahu. Tomoyo hanya berpura-pura tidak tahu dan berharap Shaoran akan dapat melupakan perasaannya pada Tomoyo.

SAKURA -part 4-


-part 4-
Normal POV
Minggu pagi. Sakura menggeliat di ranjang single-nya dengan mata masih terpejam. Setelah melirik jam yang bertengger di meja kecil di sebelah tempat tidurnya, ia mengerang. Sepagi ini ponselnya sudah berisik, mengganggu tidurnya saja.

SAKURA -part 3-


-part 3-

Sakura’s POV
BRUKK!! Dengan asal kulempar tas sekolahku ke atas meja makan. Segera aku menghambur ke

SAKURA -part 2-


“Ada yang mengganjal pikiranmu?” tanya Shaoran khawatir.
“Aku – aku baik-baik saja.” Jawab Sakura yang langsung menunduk sambil menyesap ice cappuccino nya, tak ingin membalas tatapan khawatir Shaoran.
-Part 2-
Shaoran’s POV
Selama beberapa saat aku dan Sakura terdiam, sesuatu yang tidak biasa bagi kami, dua makhluk yang kalau ketemu sama-sama sakit jiwa itu. Kalau kami diam begini, kemungkinannya adalah

Senin, 29 Agustus 2011

tonight

Di tengah hiruk pikuk penyambutan malam kemenangan dengan seruan takbir, pawai takbiran dengan aneka pernak-pernik perayaannya, ketupat-ketupat yang sudah digantung untuk disantap esok hari, bumbu opor yang mulai diracik, sampai baju-baju lebaran yang menanti untuk dikenakan saat bersilaturrahim dengan sanak saudara,
kok gue ngerasa ada yang mengganjal di hati gue ya?

Berat rasanya pisah sama bulan ramadhan :'(

gue sedih, target-target ramadhan gue belum tercapai, usaha gue untuk mengoptimalkan waktu sebulan ini dalam mencari pahala sebanyak-banyaknya belum cukup. Gue khawatir apakah amalan-amalan yang gue lakuin di bulan ramadhan ini bisa gue pertahanin dan tingkatin di bulan-bulan selanjutnya apa enggak. Gue takut, takut banget kalo gue ga bisa berjumpa lagi dengan bulan istimewa ini..

Tapi bukan berarti malam ini gue ga seneng sama sekali.

Di tengah suasana maaf-maafan ini, tanpa bermaksud hanya basa-basi mengikuti tradisi, gue berharap banget dosa-dosa gue diampunin, kesalahan-kesalahan gue dimaafin. Gue pengen kembali kaya gue 18 tahun yang lalu.

Semuanya, maafin gue ya..