Sabtu, 14 Februari 2015

Hujan season 2

Lebih dari setahun lalu
Hujan mengurungmu di dekatku
sekaligus melepasmu dari hatiku

Kini
Ada gerimis yang menyerupai
Tapi aku tak peduli lagi

Selasa, 21 Oktober 2014

Siapa itu Sahabat?

[Saat mengubrek-ubrek draft, aku menemukan ini. Sudah lama sekali aku menulisnya, tapi kenapa dulu belum langsung ku posting ya? Hehe]


Sehabis baca note-nya bang Tere Liye, saya jadi teringat pada sahabat-sahabat saya. Setuju sekali saya pada apa yang ditulis pada catatan tersebut.


Pun saya jadi terngiang ucapan salah satu rekan saya beberapa bulan lalu. Ia mengatakan bahwa ia merasa tidak memiliki sahabat. Sahabat, baginya, terlalu istimewa hingga sulit rasanya menempelkan predikat itu pada satu orang pun.

Saya tidak mengatakan bahwa saya tidak pernah merasakan hal yang sama dengannya. Sahabat, pun bagi saya, adalah orang-orang yang istimewa. Lebih dari sekadar teman mengobrol, teman bekerja, apalagi teman satu golongan saja. Hanya saja, sekarang saya dengan berani mengatakan bahwa saya memiliki sahabat, bahkan banyak. Kenapa? Entahlah, yang jelas saya berpikir bukan saya yang menurunkan "standar sahabat" saya sehingga banyak yang "lolos kualifikasi", melainkan karena mereka, sahabat-sahabat saya, adalah orang-orang yang sangat baik dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dan saya sungguh menghargai dan menghormati mereka sehingga titel "sahabat" itu saya lekatkan pada mereka. Dengan kata lain, bukan saya yang mengobral gelar itu, melainkan mereka memang pantas mendapatkannya.

Memang, bagaimana kriteria sahabat menurut saya?

Saya tidak bisa mengatakannya, karena itu urusan hati *tsaah :p*, tapi yang jelas, yang sejauh ini saya pahami (mungkin kelak akan ada pemahaman lain bagi saya), ketika kami sudah lama berpisah, sudah lama tidak berkomunikasi, sudah lama tidak terhubung secara fisik, hati kami tidak pernah berpisah, tidak pernah berhenti menjalin komunikasi, tidak pernah terputus. Bagaimana mengetahuinya? Mudah saja, saya tidak pernah merasa jauh dari mereka. Sehingga, ketika kami benar-benar bertemu, obrolan kami mengalir seolah tanpa ada jeda sebelumnya.

Maka, kelekatan terhadap sahabat bukanlah pada tataran fisik, misalnya kemana pun selalu bersama seperti kembar siam. Bukan, bukan itu yang saya maksud. Kelekatan itu ada di hati.

Ya, sejauh ini baru itu yang saya pahami. Mungkin sebenarnya ada hal-hal lain yang menjadikan mereka begitu berharganya bagi saya hingga saya sebut mereka sebagai sahabat.

Senin, 20 Oktober 2014

mencari kesalahan

aku masih melacak jejakmu yang terserak
bukan tuk pastikan kau lah yang layak
karena aku justru khawatir
jika tak kutemukan bukti tuk buatmu menyingkir

Minggu, 19 Oktober 2014

kujawab saja entah

apakah jiwa kita tertukar?
karena kutemukan kata-kataku dalam tulisanmu

apakah kita kembar?
karena kudengar lagu yang sama dengan lagu yang kau tulis dulu

apakah kau pencuri, atau aku yang telah kehilangan?

atau

apakah kau dan aku sebenarnya satu?

Senin, 01 September 2014

Why do I go?

Tulisan ini sebenarnya sudah lama saya buat, tapi baru sempat saya posting sekarang hehe.

Postingan ini masih terkait dengan perjalanan saya dengan keluarga BPI 10 ke Buniayu. Di dalam goa minat khusus, selain berseru-seru ria, ada satu momen yang menarik buat saya. Ketika kami sedang beristirahat di tengah perjalanan, tepatnya di pinggir sungai bawah tanah, Bang Nur sebagai pemandu kami meminta kami untuk mematikan seluruh sumber cahaya, yakni senter dan headlamp. Keadaan sontak menjadi gulita. Pekat. Bang Nur kemudian berbicara tentang alam kubur. Saat itu kami mendengar debur air sungai yang terdengar syahdu, tetapi apa yang akan kita dengar saat di alam kubur? Saat itu kami masih bisa berpegangan pada teman di sebelah, bernapas dengan leluasa di dalam area yang cukup luas itu, tetapi apa yang kita alami di dalam ruang sekitar 2x1 meter seorang diri kelak?

Kisah Malam Pertama Di Alam Kubur
Ilustrasi alam kubur (gambar diambil dari sini)

Well, setelah melakukan sedikit perenungan tersebut, kami melanjutkan perjalanan (tentu dengan bantuan senter dan headlamp kembali, hehe). Kali ini, saya merenungi kembali perjalanan kami.

Ya, saya takjub dengan indahnya stalagtit dan stalagmit goa, tetapi lalu apa? Untuk apa sebenarnya saya melakukan perjalanan ini? Sekadar membuktikan bahwa saya 'keren' karena bisa menyusuri goa? Pembuktian pada siapa? Orang lain kah, atau justru pada diri saya sendiri? Tapi, lalu untuk apa pembuktian itu? Apa yang harus dibuktikan?
Sebenarnya, sampai sekarang saya pikir motivasi saya dalam melakukan perjalanan, baik ke gunung, ke pantai, ke laut, ke goa, atau bahkan ke kota-kota, adalah kesukaan saya. Saya melakukannya simply karena saya suka. 
Tapi, apa itu cukup? Apa itu bermanfaat? Apakah kesukaan, atau kesenangan, yang saya rasakan ini sebanding dengan uang yang saya habiskan, tenaga yang saya keluarkan, waktu yang saya gunakan, yang mungkin bisa saya gunakan untuk hal-hal lainnya? Apakah kesenangan keluarga saya ketika saya berada di tengah-tengah mereka pantas saya korbankan untuk kesenangan pribadi saya itu?

Apakah kesenangan saya ini juga dapat membuat saya senang nanti, di alam setelah dunia ini?

Saya tidak tahu, sungguh. Bahkan sampai saat ini, saya masih melakukannya tanpa mampu menjawab pertanyaan yang saya ajukan sendiri di atas.



Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
1. Karena kesenangan orang – orang Quraisy.
2. (yaitu) kesenangan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas,
3. Maka hendaklah mereka menyembah Rabb Pemilik Rumah ini ( Ka’bah).
4. Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.
(Q.S. 106: 1-4)