Tampilkan postingan dengan label my journey. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my journey. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 September 2014

Why do I go?

Tulisan ini sebenarnya sudah lama saya buat, tapi baru sempat saya posting sekarang hehe.

Postingan ini masih terkait dengan perjalanan saya dengan keluarga BPI 10 ke Buniayu. Di dalam goa minat khusus, selain berseru-seru ria, ada satu momen yang menarik buat saya. Ketika kami sedang beristirahat di tengah perjalanan, tepatnya di pinggir sungai bawah tanah, Bang Nur sebagai pemandu kami meminta kami untuk mematikan seluruh sumber cahaya, yakni senter dan headlamp. Keadaan sontak menjadi gulita. Pekat. Bang Nur kemudian berbicara tentang alam kubur. Saat itu kami mendengar debur air sungai yang terdengar syahdu, tetapi apa yang akan kita dengar saat di alam kubur? Saat itu kami masih bisa berpegangan pada teman di sebelah, bernapas dengan leluasa di dalam area yang cukup luas itu, tetapi apa yang kita alami di dalam ruang sekitar 2x1 meter seorang diri kelak?

Kisah Malam Pertama Di Alam Kubur
Ilustrasi alam kubur (gambar diambil dari sini)

Well, setelah melakukan sedikit perenungan tersebut, kami melanjutkan perjalanan (tentu dengan bantuan senter dan headlamp kembali, hehe). Kali ini, saya merenungi kembali perjalanan kami.

Ya, saya takjub dengan indahnya stalagtit dan stalagmit goa, tetapi lalu apa? Untuk apa sebenarnya saya melakukan perjalanan ini? Sekadar membuktikan bahwa saya 'keren' karena bisa menyusuri goa? Pembuktian pada siapa? Orang lain kah, atau justru pada diri saya sendiri? Tapi, lalu untuk apa pembuktian itu? Apa yang harus dibuktikan?
Sebenarnya, sampai sekarang saya pikir motivasi saya dalam melakukan perjalanan, baik ke gunung, ke pantai, ke laut, ke goa, atau bahkan ke kota-kota, adalah kesukaan saya. Saya melakukannya simply karena saya suka. 
Tapi, apa itu cukup? Apa itu bermanfaat? Apakah kesukaan, atau kesenangan, yang saya rasakan ini sebanding dengan uang yang saya habiskan, tenaga yang saya keluarkan, waktu yang saya gunakan, yang mungkin bisa saya gunakan untuk hal-hal lainnya? Apakah kesenangan keluarga saya ketika saya berada di tengah-tengah mereka pantas saya korbankan untuk kesenangan pribadi saya itu?

Apakah kesenangan saya ini juga dapat membuat saya senang nanti, di alam setelah dunia ini?

Saya tidak tahu, sungguh. Bahkan sampai saat ini, saya masih melakukannya tanpa mampu menjawab pertanyaan yang saya ajukan sendiri di atas.



Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
1. Karena kesenangan orang – orang Quraisy.
2. (yaitu) kesenangan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas,
3. Maka hendaklah mereka menyembah Rabb Pemilik Rumah ini ( Ka’bah).
4. Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.
(Q.S. 106: 1-4)

Selasa, 01 Juli 2014

BPI 10 goes to Buniayu (Day 2)

Though the road's been rocky it sure feels good to me.”

― Bob Marley


Dengan cukup excited keluarga BPI 10 bersiap-siap menelusuri goa minat khusus di pagi hari Minggu itu. Meskipun tubuh masih pegal-pegal setelah caving di goa semi khusus di hari sebelumnya, bayangan akan sejuknya Curug Bibijilan yang menanti kami di ujung goa cukup membakar semangat kami. Akhirnya, pagi-pagi kami sibuk fitting baju ;)

Dipiliiih dipiliiih :D (foto oleh ummi Uswah)

Setelah tampak keren dengan wearpack berwarna mencolok itu, kami asyik berfoto-foto selama sekitar 1 jam! Bukan, bukan karena terlalu narsis sampai lupa waktu, tetapi karena sebelum kami berangkat ada rombongan lain, dan memang diberi jarak yang cukup dengan rombongan tersebut :)

Mumpung warna bajunya masih kece, puas-puasin foto dulu ya :p (foto oleh )

Pintu masuk goa minat khusus ini berbeda dengan goa minat umum dan semi khusus. Kami melewati beberapa rumah warga, ber-kyaaa kyaaa melihat bayi-bayi anjing yang menggemaskan, hingga tiba di sebuah pagar kecil yang mengawali petualangan kami :)

Excitement campur sedikit tegang membuat saya cukup kalem sebelum meluncur ke dalam goa vertikal ini. Kyaaaaaaaaaaaa!!! Seru! Rasanya seperti terbang!
Ketika menjejakkan kaki di dasar goa, saya sempat merasa linglung sebentar. Rasanya nyawa saya masih ketinggalan di atas, hehehe.

Sayangnya saya gak sadar kamera :'( (foto oleh pakde Marta)

Setelah satu persatu hingga semua dari kami turun, kami mulai bergerak menyusuri goa yang basah ini. Berkali-kali kami berjalan di sungai yang terkadang terasa agak kuat arusnya. Di sini saya seperti anak kecil yang takjub melihat banyak sekali kelelawar, di samping stalaktit dan stalakmit yang tentunya kece-kece bingits.
Beberapa kali medannya menantang, seperti berjalan melipir tepat di samping dinding goa dengan berpegangan pada tali, sedikit rappeling, lalu yang lagi-lagi bikin perut saya mulas (baca: yang paling malesin) adalah berkubang lumpur lagi!




The terrain is challenging, isn't it? (foto-foto oleh pakde Marta)

Ada kejadian yang sebenarnya malas saya ingat, yaitu saya tidak bisa berjalan karena celana saya terinjak oleh kaki saya sendiri. Celana bahan saya (yang lebih cocok untuk menghadiri acara resmi itu) memang bertekstur agak keras. Tidak mudah sobek, tapi juga jadi menyulitkan langkah saya dalam situasi itu. Setelah celana itu terinjak saya sendiri, kaki saya tidak bisa lagi mengangkat. Huuuuuh, saya coba berkali-kali mengerahkan seluruh tenaga dan upaya *lebay*, sampai saya lelah sendiri. Akhirnya saya harus diberi bantuan. Kaki saya dikeluarkan dari lumpur dan celana saya digulung. [Peringatan! : Pakailah pakaian, khususnya celana, yang tidak hanya kuat, tetapi juga PAS! Jangan kepanjangan kayak saya]

Setelah menggerapai jalanan penuh lumpur, dengan beberapa bantuan berbonus (bonusnya masker lumpur gratis!) finally saya yang termasuk dalam rombongan belakang berhasil melalui pintu pagar kecil seperti di awal, dan menjumpai sinar matahari yang terik. Sembari menunggu pick up yang akan mengantar ke Curug Bibijilan, kami terpaksa berjemur hingga sekujur tubuh penuh lumpur pun seperti kue kering.



 We're like cookies, aren't we? -_- (foto oleh bang Jo)

'Selamat' ya dapet tumpangan -_- (foto oleh bang Jo)

Lama menunggu pick up yang tak kunjung tiba, kami memutuskan untuk jalan kaki ke Curug Bibijilan. Jaraknya? Hah, saya tidak tahu. Yang jelas rasanya lumayan lah siang-siang berjalan kaki dengan lumpur yang mulai mengering, sepatu boots karet kebesaran yang berisi lumpur, jalanan berkerikil yang naik turun, ditambah lagi pemandangan pick up-pick up rombongan lain yang lewat :"(
Sebagian dari rombongan kami mendapat tumpangan pick up dari rombongan lain, tetapi saya tidak termasuk di dalamnya. Terlalu malas mengejar pick up yang berhenti beberapa meter di depan saya itu. Jadi saya memutuskan untuk menikmati jalan dengan pakde Marta, bang Singgih, dan bang Agung, meskipun lama kelamaan satu persatu dari mereka mendahului saya dan tinggallah saya sendiri :"D

Rasanya legaaaa sekali melihat papan ini! (foto oleh bang Jo)

Sampai di Curug Bibijilan, ternyata saya tidak terlambat terlalu lama, karena mereka sempat bernarsis ria dulu -_-. Di curug tersebut, kami membasuh wajah dan pakaian serta boots kami yang penuh lumpur. Air sungai berarus cukup deras itu pun menjadi keruh, hehehe. Rasanya segaaaar sekali. Sebagian kelelahan kami luruh bersama air yang sejuk itu :D

Serasa jadi bawang putih, nyuci baju di pinggir sungai ;) (foto oleh bang Jo)


Bernarsis ria doloo yes! (foto oleh bang Jo)

Meskipun berat, kami harus segera meninggalkan curug itu. Dengan mobil pick up yang akhirnya datang juga, kami kembali ke rumah bang Nur untuk bersiap-siap pulang.
Tiket kereta Sukabumi-Bogor sudah di tangan (bang Kiki), tetapi sampai waktu keberangkatannya, kami belum sampai stasiun! Alhasil, kami beralih haluan ke terminal untuk naik bus.

Di dalam bus Sukabumi-Ciawi-Depok, sebelum penumpang jadi pepes :") (foto oleh bang Jo)


------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Meskipun hari itu tidak terlalu mudah, aku sungguh menikmatinya.

Sabtu, 28 Juni 2014

BPI 10 goes to Buniayu (Day 1)

Happiness is having a large, loving, caring, close-knit family in another city.” 
― George Burns


Setelah merencanakan selama beberapa bulan, keluarga BPI 10 berangkat ngetrip bareng ke Goa Buniayu di Sukabumi. Sebagian besar dari kami berkumpul di stasiun Bogor untuk kemudian menuju stasiun Sukabumi dengan kereta. Jugijagijugijagijuuug.. Hehehehe. Namun, selain sekian belas orang ini, ada pula yang langsung menuju Sukabumi dengan mengendarai motor. Singkat cerita, kami bertemu di stasiun Sukabumi dan menuju kawasan Goa Buniayu dengan mobil pick up dan motor. Ngeeeeng...

Pemandangan di kawasan Buniayu (foto oleh Mamsky)

Di tempat tujuan, kami disambut oleh keluarga bang Nuryaman yang akan memandu keluarga kami :) Bang Nur sendiri adalah teman pakde Marta, salah seorang anggota keluarga BPI 10. Singkat cerita, rencana semula kami untuk masuk ke goa minat umum sore itu berubah menjadi ke goa semi khusus. Kata bang Nur, goa semi khusus bagus buat latihan kami untuk ke goa minat khusus keesokan harinya.

Beberapa hari sebelumnya saya sempat menanyakan ummi Uswah dan pakde Marta yang sudah berpengalaman ke Buniayu sebelumnya mengenai dress code, karena saya berniat mengenakan baju cantik (baca: rok/gamis) akibat keterbatasan jumlah celana yang saya miliki. Meski mereka mengatakan bisa-bisa saja, entah mengapa saya merasa ada yang gimanaaa gitu. Ternyata keputusan saya untuk mengenakan celana tepat. Yah, meskipun celana bahan saya yang lebih cocok untuk menghadiri acara resmi itu kurang enak untuk caving, sih. Kenapa tepat? Karena kami berkubang lumpur, pakai acara nyemplung ke kubangan air lumpur sepinggang pula :( dan yang lebih mengenaskan adalah...

bukan itu jalurnya. Dengan kata lain, kami disasarin :/

Apa jadinya kalau saya pakai baju cantik? :p (foto oleh pakde Marta)

Aduh, terima kasih banyak kejutannya :"D
Well, tapi ternyata memang itu bagus untuk latihan, karena medan yang akan kami tempuh keesokan harinya kurang lebih seperti itu.
Akhirnya, setelah merangkak dan megap-megap, kami berhasil keluar dari goa latihan tersebut! Yeay!

Di luar langit mulai temaram. Suara adzan maghrib samar-samar terdengar. Syahdu.

Sesampainya di rumah bang Nur, kami membilas tubuh setengah penuh lumpur kami di empang samping rumah. Rasanya... wow, kelihatan banget anak kota-nya. Norak, tapi sangat menikmati. Apalagi ditambah guyuran air hujan. Aduuuuh malam itu beban-beban pikiran seolah ikut luruh terbasuh air hujan :')

In this empang we took a [natural] shower (foto oleh bang Jo)

Setelah mandi, sholat, makan, ngobrol-ngobrol, dan main games untuk semakin mengenal satu sama lain, kami beristirahat untuk menyiapkan energi agar bisa ber-caving dengan ceria keesokan harinya. Goa minat khusus.


Kebahagiaan adalah memiliki keluarga besar di kota lain yang mengasihi, peduli, dan erat (terjemahan bebas dari quote di atas)
Semoga kasih ini, kepedulian ini, dan keeratan ini abadi ya :')
I love you all, BPI 10 members :*


P.S. : Meskipun kita baru saling berkenalan (secara agak resmi) setelah kita menelusuri goa semi khusus ini, tapi sejak awal kita bertemu, aku merasa seperti bertemu keluarga :") #jadicurhat

We're BPI 10 Family [sayangnya gak lengkap :(] (foto oleh ummi Uswah)

Kamis, 24 Oktober 2013

Bonceng Tiga

Pagi itu langit mendung. Tahu saja ia akan kecemasan yang menggelayutiku. Bagaimana tidak, aku akan memulai perjalanan seorang diri, melintasi negara, di mana baik negara asal maupun negara tujuannya bukan negaraku sendiri, dan ini pertama kalinya. Aku mencoba menguat-nguatkan hati, mengingatkan diri akan salah satu cita-citaku. Backpacker. Terdengar keren, bukan?

Setelah mengecek ulang barang-barang dan memastikan tak ada yang kutinggalkan di PSU Lodge selain kaus kaki tipis yang sudah kotor dan berencana kubuang, aku menghubungi salah satu teman baruku di Thailand. Nee, nama panggilannya. Gadis cantik berkerudung itu semalam sebelumnya mengatakan akan mengantarku ke terminal. Aku menunggunya sembari berpamitan pada teman-teman Indonesia yang masih berada di sana.

Di luar, hujan sudah turun dengan cukup deras. Perutku keroncongan, pagi ini sudah tidak ada jatah sarapan. Setelah hujan mulai reda, aku bergegas menuju sebuah minimarket di depan kampus PSU Phuket untuk membeli makanan, kaus kaki baru, dan jas hujan. Sekembalinya dari sana, Nee dan temannya sudah asyik berbincang dengan Valina, salah satu temanku dari Indonesia. Setelah berkenalan singkat dengan teman Nee, aku memutuskan untuk langsung berangkat. Kupikir aku hanya diantar oleh Nee atau temannya. Kalaupun mereka berdua, kupikir kami menggunakan dua motor.

Ternyata, kami berboncengan bertiga dalam satu motor! Nee yang mengendarai, aku di tengah, dan di belakangku teman Nee. Koperku yang berukuran sedang diletakkan di depan Nee, dan ranselku dicangklong oleh kawan Nee. Sebenarnya aku agak khawatir, apalagi jalanan basah setelah hujan. Namun, aku memilih percaya pada Nee yang mengatakan akan baik-baik saja.

Begitulah, selama sekitar 20 menit kami bertiga menuju terminal. Ternyata di Phuket banyak yang sering bonceng tiga, tidak pakai helm, dan hal-hal lain yang biasanya kuanggap sebagai pelanggaran dalam berlalu lintas. Memang, di sana aku tidak melihat polisi, dan kata temanku, entah benar atau tidak, peraturan di sana memang sedemikian longgar karena di sana daerah tujuan wisata, tempat banyak turis berada. 

Tepat saat Nee menghentikan motornya, sebuah bus berwarna putih-biru bersiap keluar dari terminal. Itu bus menuju Hatyai! Kondekturnya, yang adalah seorang wanita, bertanya apakah kami akan ke Hatyai dalam bahasa Thailand. Nee yang menjawab, sementara aku hanya cengar-cengir sambil mengangguk. Dengan sigap ibu kondektur itu mengambil koperku dan meletakkannya di bagasi bawah bus. Setelah bersalaman singkat dan mengucapkan terima kasih, aku mengucapkan selamat tinggal pada Nee, temannya, dan juga Phuket :')

Aku tidak menyangka bisa berteman baik dengan Nee. Sebelumnya, aku hampir tidak pernah mengobrol dengannya, karena entah mengapa jarak kami selalu berjauhan selama kami berkegiatan. Barulah pada saat-saat terakhir, ketika acara sudah usai, Valina yang cukup dekat dengan Nee menghubungkan kami.

Beberapa pekan setelahnya, kami kembali berhubungan melalui chat facebook. Aku mengajaknya ke Indonesia, dan ia mengatakan bahwa kelak jika suatu saat ke Indonesia, aku adalah salah satu orang pertama yang akan diberitahunya :'D


Aku tidak sabar untuk menjemputnya di bandara Soekarno-Hatta :') 





Tulisan ini kubuat sambil menyusun mozaik-mozaik ingatan yang sudah mulai kabur, sehingga tidak bisa detail :'( Sedih sekali pengalaman-pengalaman berharga itu tergerus waktu karena ingatanku tak cukup kuat untuk memegangnya. Semoga lain kali aku tidak lagi malas mengikat kisah perjalananku dalam tulisan. Aamiin.

Jumat, 02 Maret 2012

3 Hari untuk Selamanya (aamiin) part 3

Day 3

Apa guna keluh kesah
Apa guna keluh kesah
Gandewa tak kenal menyerah
Apa guna keluh kesah

Kamis, 01 Maret 2012

3 Hari untuk Selamanya (aamiin) part 2

Day 2

Langit biru muda membuat saya terkejut dari tidur saya. Langit semalam memang terang karena sinar rembulan yang benderang, namun biru muda pagi itu tentu tak lagi berasal dari cahaya lembut si dewi malam. Menoleh ke kanan dari posisi tidur saya, saya lihat warna kemerah-merahan mewarnai horizon langit Timur. Saya langsung bangun dan melakukan tayamum untuk sholat subuh dalam bivak. Selang beberapa menit kemudian suara-suara teman-teman saya mulai terdengar.

3 Hari untuk Selamanya (aamiin) part 1

Day 1

Resah. Entah berapa kali saya menghembuskan napas keras-keras, berharap dengan begitu hal yang mengganjal di hati saya ikut keluar bersama karbondioksida dan uap air dari tubuh saya. Seandainya… kalau saja… dan puluhan kalimat-kalimat pengandaian lain menyuarakan penyesalan saya atas keputusan yang saya buat: ikut pelantikan Gandewa (ukm penggiat alam-nya FPsi UI). Sungguh, semakin mendekati hari H, semakin tegang perasaan saya. Satu hal yang sangat saya takuti dan membuat penyesalan saya bertambah berkali-kali lipat adalah: takut hanya menjadi beban. Perasaan itu begitu, saya tekankan, begitu kuat menyerang saya. Kalau beberapa bulan lalu saya tidak menempelkan kertas bertuliskan huruf-huruf besar berbunyi KONSEKUEN di cermin kamar kost tempat saya tinggal, mungkin saya akan nekat menghubungi panitia dan membatalkan niat saya mengikuti pelantikan. Untungnya, perasaan takut akan tindakan tak bertanggungjawab karena pengumuman yang mendadak itu pasti membuat segala rencana yang telah dirancang bersama teman-teman menjadi berantakan, ikut menghalangi saya dari perbuatan pecundang itu.