Tampilkan postingan dengan label musing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label musing. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Januari 2017

Dimana Aku menjadi Aku






Berbeda dengan dua hari sebelumnya, ketika aku membaca pertanyaan #VoluntripChallenge #SepekanBercerita #Day3 ini dahiku berkerut. Dimana aku bisa menjadi diriku sendiri? 


Setelah mengerutkan kening, jujur saja yang terlontar di benakku adalah pertanyaan, bukannya jawaban. Memangnya diri sendiri itu yang seperti apa, ya?
 

Pertanyaan ini mengantarkanku pada sebuah percakapan sok filosofis dengan salah satu rekanku beberapa hari sebelumnya. Meski kami berbeda sudut pandang, kami sama-sama suka mempertanyakan diri ini. Mungkin juga bedanya adalah, dia merasa belum menemukan jawaban final, sedangkan aku merasa sudah menemukan jawaban sementara. Hehehe. Apa bedanya? Ya pokoknya beda.

Aku menerima dan mengakui bahwa pemahamanku dapat berubah kapanpun, seiring dengan pengalaman baru yang kualami dalam hidup. Tapi aku tidak hendak membahas mengenai pemikiran sok filosofisku sekarang, karena selain waktuku terbatas (FYI aku hanya bisa membuka blog di kantor setelah selesai mengerjakan tugas), aku tidak yakin dapat mengungkapkannya dengan jelas tanpa muter-muter bin ngawang

Singkatnya, yang aku pahami saat ini mengenai diriku adalah bahwa aku memiliki banyak peran dalam hidup. Aku sebagai anak, sebagai adik, sebagai pekerja, relawan, teman, tetangga, gadis Jawa, warga Indonesia, dan sebagainya, dan sebagainya. Kesemua peranku itu tentunya memiliki semacam 'aturan main' yang membuat wajahku bervariasi. Tata bahasaku ke teman mungkin tidak kupakai saat berbicara dengan orang tua murid privatku. Caraku tertawa di depanmu bisa jadi lain dengan senyum malu-malu meong di hadapan si dia. Tapi, aku sendiri tidak tahu tata bahasa seperti apa, gaya tertawa yang bagaimana, yang menunjukkan bahwa aku dalam keadaan yang aku banget. Bahkan terkadang ketika berada di tempat dan dengan orang-orang yang sama, aku bisa menjadi berbeda. Terkadang aku menjadi anak baik yang membuat mamaku sayang banget sampai mau menyisiri dan menguncir rambutku tanpa kuminta. Kadang pula aku menjadi anak bandel yang membuat mamaku sengaja membuat kegaduhan hanya agar aku bangun. Seringkali aku bersenandung seperti Cinderella sambil mencuci piring, tapi tak jarang pula aku melakukannya sambil ngedumel. Lalu, aku yang diriku sendiri itu yang seperti apa ya?

Kembali lagi ke pemahamanku mengenai diri, sejauh ini yang aku yakini tentang diri ini adalah kendati aku memiliki banyak peran, ada satu yang menjadi core-nya. Wajah dasar yang tanpa riasan apapun. Identitas yang tanpanya, peran-peranku yang lain tak akan ada.

Jawabannya mungkin terkesan agak serius. Aku menganggap bahwa statusku sebagai makhluk Allah adalah inti keberadaanku. Tanpa menjadi makhluk Allah, aku bahkan tidak ada di dunia ini, kan? Hihihi. Itulah yang menurutku menjadi inti dari keberadaanku. Status-status atau peran-peranku lainnya, tentu saja (harus) mengikutinya. Sebagai anak, aku harusnya menjadi anak yang sholehah, sebagai teman, harusnya aku menjadi teman yang saling mengingatkan dalam kebaikan #halah. Ya pokoknya kurang lebih  begitu lah pemahamanku mengenai diri. Meski aku pun sangat mengakui bahwa dalam menjalankan peran-peran tersebut, aku masih sangat jauh dari ideal, dalam artian sesuai dengan identitas utamaku itu.

Oke, rasanya cukup ya pemaparanku mengenai diri. Panjang, mbleber, dan tidak menjawab ya, hahaha. Mari kita kembali lagi ke pertanyaan ka Ombi yang super berat itu (dan membuatku jadi berpikir berat dan menulis agak berat). Untuk pertanyaan itu, aku merasa mendapat jawaban sore hari kemarin (tepat di hari pertanyaan ini diajukan oleh ka Ombi), yakni ketika aku menghadiri sebuah acara dari NGO terkemuka negeri ini yang sedang meluncurkan produk penelitiannya berupa peta kemiskinan. Selama acara berlangsung, aku hampir tidak kehilangan fokus. Aku bahkan sama sekali tidak mengantuk, meski pemaparan para pembicaranya cukup serius (baca: agak berat), waktunya siang hari setelah makan siang pula. Terlebih lagi, entah mengapa aku semacam merasa excited di dalamnya meski hanya menjadi penonton. Di tengah puluhan orang yang tak ku kenal itu, aku seperti merasa memiliki koneksi dengan atmosfer tema acaranya, merasa terhubung dengan pembahasannya, merasa se-visi dengan mereka, orang-orang yang peduli terhadap isu yang juga kupedulikan.

Maka, kendati tanpa berinteraksi banyak (karena acara itu didominasi interaksi satu arah, meski aku sempat bertanya dan dijawab oleh pembicaranya juga), aku merasa bahwa di tengah lingkungan seperti itulah aku menjadi diriku sendiri. Aku seperti bisa memeluk diriku sendiri saat itu, ketika setiap apa yang kudengar, kupikirkan, terhubung dengan perasaan bahwa untuk itulah aku diciptakan.

Hal itu juga kurasakan saat berdiskusi dengan mama, khususnya ketika membahas tentang hidup. Mama adalah salah satu orang yang dengannya aku merasa nyambung ketika mendiskusikan hal-hal mendasar dalam hidup. Hal-hal yang memunculkan kembali wajah asliku yang seringkali terhiasi topeng-topeng aturan main.

Perasaan itu juga kurasakan ketika bersama teman-teman relawan, yang meski dengan berbagai dinamika yang ada, kita tetap memiliki keterhubungan. Kita sama-sama peduli pada orang lain, pada lingkungan, pada makhluk-makhluk ciptaan Allah.


Maka, sudikah kamu menjadikan rumah kita sebagai tempat dimana aku menjadi diri sendiri?

Bagaimana Cara BANGKIT dari Kegagalan/Kekecewaan?

Tulisan ini tetap kuposting kendati aku telah menjawab tantangan di hari kedua melalui instagram. Mungkin kamu jadi akan sedikit lebih tahu tentang masa laluku hihi.
Peringatan : Tulisan ini cukup panjang dan penuh drama. Hahaha

---

Di hari kedua #VoluntripChallenge untuk #SepekanBercerita ini, pertanyaan yang diajukan Ka Ombi makin serius saja. Kata 'bangkit' pun diketik dengan capslock semua. Bahkan di-underline dengan garis tebal (yang entah kenapa) berwarna pink. Ngeri. Hahaha

Pertanyaan diawali dengan pertanyaan-pertanyaan pembuka : Pernah Kecewa? Pernah Gagal? Pernah terhianati? Pernah ada pada posisi benar-benar tak termotivasi?


Lagi-lagi, respon pertamaku adalah senyum. Senyum dengan tampang agak-agak bego, karena sambil berpikir. Hahaha. Sambil berjalan ke kantor, aku memikirkan cerita apa yang akan aku bagikan hari ini.

Sejauh ingatanku, aku sangat jarang merasa kecewa mendalam terhadap suatu hal karena (sepertinya) aku orangnya susah berharap. Mungkinkah karena kultur Jawa yang terkenal dengan ke-nrimo-annya itu mengalir dalam darahku? Entahlah, tapi kupikir sedikit banyak aku terpengaruh oleh 'ajaran' mamaku untuk senantiasa bersabar.. Mohon bersabar, ini ujian.. 

Sebenarnya, kalau kecewa-kecewa kecil seperti ditinggal kereta yang berangkat tepat di depan mata, bahkan ditinggal nikah oleh gebetan yang bahkan tidak tahu kalau aku ada (bacanya biasa saja ya, iyaa itu kecewa kecil saja, kok), aku tentu pernah mengalaminya. 

Kegagalan-kegagalan (yang menurutku juga biasa-biasa saja) juga seringkali kutemui. Gagal menurunkan berat badan? Sampai sekarang, hahaha. Tidak pernah terpilih menjadi petugas upacara sejak TK karena kurang tinggi? Tidak lolos seleksi menjadi pemain drum band (ekskul yang ngehitz saat aku SMP)? Tidak lolos seleksi olimpiade bahkan pada tahap paling awal (internal sekolah)? Tidak jadi lulus kuliah dalam waktu 3,5 tahun? Tidak kunjung dipanggil untuk interview setelah puluhan lamaran pekerjaan sudah kukirim? Tidak lolos seleksi pekerjaan bahkan ketika sudah di tahap paling akhir? Hanya bisa turut berbahagia (serius, bahagianya beneran) melihat keberhasilan teman-teman dekatku (ada yang sudah menerbitkan buku, ada yang menjadi mahasiswa berprestasi, ada yang dapat beasiswa, bahkan juga tidak sedikit yang sudah menikah)? Aku pernah. Mungkin terlalu sering sampai aku lupa berapa banyak 'kegagalan'ku. Tapi ya sudah, hidupku tidak luluh lantak juga, kan? Jadi, rasanya tidak usah ya aku ceritakan. Rasanya bukan hal yang amazing saja untuk bisa melalui hal-hal yang biasa seperti itu. 

Oke, oke, kalau kamu masih penasaran caranya. Sederhananya, aku orang yang memiliki kecenderungan pada internal locus of control. Kurang lebih artinya memandang keberhasilan/kegagalan adalah karena diri sendiri (kalau definisi versiku sendiri, tentu aku melibatkan Allah di dalamnya). Jadi, ketika menyaksikan keberhasilan orang lain dan aku hanya di bangku penonton, aku sadar betul bahwa Allah tidak memberikannya padaku karena aku tidak cukup pantas mendapatkannya. Usahaku masih jauh dari cukup. Ketika gebetan-ku menyebarkan undangan pernikahannya, aku juga kemudian menyadari bahwa kami memang tidak berjodoh.

Sederhana, bukan?

Tapi, kalau kamu mau salah satu contoh kepedihan dramatis yang kualami dan bagaimana aku melaluinya, boleh lah kupilihkan satu cerita hidupku. Hihihi.

Ada satu hal yang cukup membuatku menangis tersedu-sedu beberapa bulan lalu. Kekecewaan ini cukup mendalam buatku, karena cukup memporak-porandakan kepingan-kepingan hidup yang sedang aku susun (lebaaay hahahaha). 

Ini tentang karir. Aku memahami karir berbeda dengan pekerjaan (job). Sederhananya, karir lebih bersifat jangka panjang, sedangkan pekerjaan sebaliknya. Berdasarkan hasil browsing ketika aku membuat tulisan ini, perbedaan keduanya adalah seperti ini: A job can be just going to work to earn a paycheck. A career is a journey that includes all your jobs, experiences, and training in the same field or career cluster (MyMnCareers, n.d.). Jadi, bisa dibilang bahwa aku meyakini bahwa pekerjaanku adalah bagian dari upayaku membangun karir. Sama persis dengan perumpamaan yang disebutkan di web tersebut : If life were a video game, a job would be just one level. Having a career means that you are committed to playing the game to get better over time and advance to higher levels.

Jadi, kenapa aku menangis?
Aku menangis karena anak tangga pertamaku terpaksa kutinggalkan lebih cepat dari yang aku rencanakan. 

Tenang, aku tidak dipecat, kok. Hehehe. Alhamdulillah atasanku sebenarnya justru menyayangkan pengunduran diriku, meski beliau tidak bisa menahanku lebih lama.

I decided to resign from my first job because my parents told me to do so.


Tragis ya sepertinya. Seolah-olah orang tuaku sebelas-dua belas dengan orang tuanya Siti Nurbaya. Bedanya, Siti Nurbaya dipaksa menikah, aku dipaksa berpisah (dari pekerjaanku). Aku tidak tahu bagaimana reaksi Siti Nurbaya menanggapinya, yang jelas saat itu aku menangis sesenggukan.

Benar-benar tersedu.

Entah berapa kali aku ber-istikhoroh, bertanya kesana-sini, membuat coret-coretan tentang plus minus-nya jika aku resign dan jika tidak, kemudian menangis lagi saat kebingungan.

Pada awalnya, aku lebih banyak merasa kesal. Berbagai pikiran buruk hilir mudik di kepalaku, dan (jahatnya) itu tentang orang tuaku sendiri. Aku kecewa karena papaku sangat menunjukkan bahwa beliau tidak suka aku bekerja seperti itu pada saat itu. Bahkan kudengar beberapa kali papa bilang ke orang yang menanyakan aktivitasku bahwa aku belum bekerja!! Hey!! Tahu rasanya bagaimana? Sakitnya tuh di sini..

Padahal aku tahu dalam hatinya beliau mengakui bahwa pekerjaan seperti yang kulakukan saat itu adalah pekerjaan mulia..

Aku sempat kecewa habis-habisan pada beliau.

Beberapa waktu berlalu, aku merasa Allah menjawab doaku. Aku memang meminta yang terbaik, bukan meminta untuk bisa bertahan di pekerjaan itu. Perlahan-lahan aku mulai merasa tidak nyaman, lelah, seperti ada yang kurang tepat..

Aku pun sampai pada pemahaman bahwa yang baik belum tentu tepat. Aku tahu pekerjaan yang kulakukan baik. Tapi mungkin kurang tepat untukku saat itu. Aku terlalu terpaku pada rute hidup yang kususun, tanpa menyadari bahwa sesungguhnya aku hanyalah makhluk yang tidak tahu apa-apa.

Banyak jalan menuju Roma, bukan?

Seperti ketika aku ingin mem-posting tulisan ini di hari yang tepat namun ternyata tak bisa, karena blog-ku tidak bisa dibuka di rumah. I've tried, even several ways, to do that.

Tapi toh ada hal-hal yang berada di luar kapasitasku. Mungkin di situ lah aku (sebagai orang yang memiliki kecenderungan internal locus of control tadi) diuji.

Jadi, yang kulakukan adalah mencari rute baru. Rute yang mungkin sangat berbeda dengan rute yang kurencanakan semula. Bisa jadi itu cara Allah menuntunku, kan?

Maka, sungguh benar apa yang dikatakan oleh MC kondangan yang suaranya viral itu:

Mohon bersabar.. :)


P.S. : Aku pernah membuat sebuah rekaman curhat di akun soundcloud-ku tentang "Yang Baik Belum Tentu Tepat" itu. Monggo kalau mau dengar di 13amelya :D hehe. Peringatan: kamu bisa saja bosan mendengarnya.

Selasa, 17 Januari 2017

Apa yang Kamu Pikirkan Hari Ini?

Jujur saja, aku tersenyum ketika membaca pertanyaan itu. Seperti yang ada di kolom status facebook bukan, sih? Maklum, sudah lama aku tidak menggunakan media sosial itu. Aku hanya sesekali saja membukanya jika ada link yang aku tuju mengarah ke sana. Kalau diingat-ingat, sudah lama pula aku tidak meng-update status di facebook. Lebih pengen update status di KTP sih wkwkwk. 


Bicara soal status, aku jadi teringat sesuatu. Kalau kamu berusia sebaya denganku, sepertinya kamu akan tahu pembicaraanku mengarah kemana, hahaha. Jadi aku tak usah muter-muter ya menjelaskannya >,<

Pernikahan. Itu adalah salah satu yang seringkali muncul di lingkungan pergaulanku beberapa bulan (atau tahun?) ini. Prosesi yang sebenarnya singkat saja, tapi sangat mengubah status, bahkan juga hidupmu. Dari yang semula anak gadis, menjadi istri orang. Semula dikasih uang jajan oleh orang tua (malu meeel masih suka minta jajan sama ortu -_-), jadi dijajanin sama orang. Semula berbaktinya sama orang tua yang sudah merawat sejak masih di kandungan, jadi membaktikan diri pada... orang yang baru kenal berapa lama?

Senantiasa dikelilingi topik tersebut, aku jadi ikut-ikutan memikirkannya #alasan. Tapi sejujurnya aku juga bingung sih apa yang mau dipikirkan mengenai ini wkwkwk. Baru tadi pagi saat di kereta aku iseng browsing soal persiapan pernikahan. Kuakui aku masih merasa malu untuk mengikuti kajian-kajian yang membahas soal ini. Jadi, aku baca saja blog-blog orang yang membahasnya.

Berdasarkan beberapa tulisan yang aku baca, serta hasil mengingat wejangan dari salah satu rekan yang sudah menikah, salah satu yang penting untuk aku pikirkan adalah tujuan menikah.

Untuk apa aku menikah?

Jadi, sepertinya mulai hari ini aku akan memikirkan itu. Kalau di skripsi, itu sih masih di bab satu ya, hihihi.


P.S. : Tulisan ini adalah jawaban dari #VoluntripChallenge #SepekanBercerita yang dilontarkan oleh  Kak Ombi

Selasa, 21 Oktober 2014

Siapa itu Sahabat?

[Saat mengubrek-ubrek draft, aku menemukan ini. Sudah lama sekali aku menulisnya, tapi kenapa dulu belum langsung ku posting ya? Hehe]


Sehabis baca note-nya bang Tere Liye, saya jadi teringat pada sahabat-sahabat saya. Setuju sekali saya pada apa yang ditulis pada catatan tersebut.


Pun saya jadi terngiang ucapan salah satu rekan saya beberapa bulan lalu. Ia mengatakan bahwa ia merasa tidak memiliki sahabat. Sahabat, baginya, terlalu istimewa hingga sulit rasanya menempelkan predikat itu pada satu orang pun.

Saya tidak mengatakan bahwa saya tidak pernah merasakan hal yang sama dengannya. Sahabat, pun bagi saya, adalah orang-orang yang istimewa. Lebih dari sekadar teman mengobrol, teman bekerja, apalagi teman satu golongan saja. Hanya saja, sekarang saya dengan berani mengatakan bahwa saya memiliki sahabat, bahkan banyak. Kenapa? Entahlah, yang jelas saya berpikir bukan saya yang menurunkan "standar sahabat" saya sehingga banyak yang "lolos kualifikasi", melainkan karena mereka, sahabat-sahabat saya, adalah orang-orang yang sangat baik dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dan saya sungguh menghargai dan menghormati mereka sehingga titel "sahabat" itu saya lekatkan pada mereka. Dengan kata lain, bukan saya yang mengobral gelar itu, melainkan mereka memang pantas mendapatkannya.

Memang, bagaimana kriteria sahabat menurut saya?

Saya tidak bisa mengatakannya, karena itu urusan hati *tsaah :p*, tapi yang jelas, yang sejauh ini saya pahami (mungkin kelak akan ada pemahaman lain bagi saya), ketika kami sudah lama berpisah, sudah lama tidak berkomunikasi, sudah lama tidak terhubung secara fisik, hati kami tidak pernah berpisah, tidak pernah berhenti menjalin komunikasi, tidak pernah terputus. Bagaimana mengetahuinya? Mudah saja, saya tidak pernah merasa jauh dari mereka. Sehingga, ketika kami benar-benar bertemu, obrolan kami mengalir seolah tanpa ada jeda sebelumnya.

Maka, kelekatan terhadap sahabat bukanlah pada tataran fisik, misalnya kemana pun selalu bersama seperti kembar siam. Bukan, bukan itu yang saya maksud. Kelekatan itu ada di hati.

Ya, sejauh ini baru itu yang saya pahami. Mungkin sebenarnya ada hal-hal lain yang menjadikan mereka begitu berharganya bagi saya hingga saya sebut mereka sebagai sahabat.

Senin, 01 September 2014

Why do I go?

Tulisan ini sebenarnya sudah lama saya buat, tapi baru sempat saya posting sekarang hehe.

Postingan ini masih terkait dengan perjalanan saya dengan keluarga BPI 10 ke Buniayu. Di dalam goa minat khusus, selain berseru-seru ria, ada satu momen yang menarik buat saya. Ketika kami sedang beristirahat di tengah perjalanan, tepatnya di pinggir sungai bawah tanah, Bang Nur sebagai pemandu kami meminta kami untuk mematikan seluruh sumber cahaya, yakni senter dan headlamp. Keadaan sontak menjadi gulita. Pekat. Bang Nur kemudian berbicara tentang alam kubur. Saat itu kami mendengar debur air sungai yang terdengar syahdu, tetapi apa yang akan kita dengar saat di alam kubur? Saat itu kami masih bisa berpegangan pada teman di sebelah, bernapas dengan leluasa di dalam area yang cukup luas itu, tetapi apa yang kita alami di dalam ruang sekitar 2x1 meter seorang diri kelak?

Kisah Malam Pertama Di Alam Kubur
Ilustrasi alam kubur (gambar diambil dari sini)

Well, setelah melakukan sedikit perenungan tersebut, kami melanjutkan perjalanan (tentu dengan bantuan senter dan headlamp kembali, hehe). Kali ini, saya merenungi kembali perjalanan kami.

Ya, saya takjub dengan indahnya stalagtit dan stalagmit goa, tetapi lalu apa? Untuk apa sebenarnya saya melakukan perjalanan ini? Sekadar membuktikan bahwa saya 'keren' karena bisa menyusuri goa? Pembuktian pada siapa? Orang lain kah, atau justru pada diri saya sendiri? Tapi, lalu untuk apa pembuktian itu? Apa yang harus dibuktikan?
Sebenarnya, sampai sekarang saya pikir motivasi saya dalam melakukan perjalanan, baik ke gunung, ke pantai, ke laut, ke goa, atau bahkan ke kota-kota, adalah kesukaan saya. Saya melakukannya simply karena saya suka. 
Tapi, apa itu cukup? Apa itu bermanfaat? Apakah kesukaan, atau kesenangan, yang saya rasakan ini sebanding dengan uang yang saya habiskan, tenaga yang saya keluarkan, waktu yang saya gunakan, yang mungkin bisa saya gunakan untuk hal-hal lainnya? Apakah kesenangan keluarga saya ketika saya berada di tengah-tengah mereka pantas saya korbankan untuk kesenangan pribadi saya itu?

Apakah kesenangan saya ini juga dapat membuat saya senang nanti, di alam setelah dunia ini?

Saya tidak tahu, sungguh. Bahkan sampai saat ini, saya masih melakukannya tanpa mampu menjawab pertanyaan yang saya ajukan sendiri di atas.



Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
1. Karena kesenangan orang – orang Quraisy.
2. (yaitu) kesenangan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas,
3. Maka hendaklah mereka menyembah Rabb Pemilik Rumah ini ( Ka’bah).
4. Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.
(Q.S. 106: 1-4)

Sabtu, 07 Desember 2013

Halte

Sudah biasa, saya pikir, bagi saya untuk membuat perencanaan. Tujuan, impian, cita-cita, dan sejenisnya sudah tidak asing lagi bagi saya. Bahkan, saya pernah membuat tulisan mengenai hal tersebut. Namun, pada dua siang itu saya tersentak. Malu. Apa benar saya sudah tahu tujuan saya?

Dua siang. Dua tempat. Dua situasi. Pertanyaan pada siang, tempat, dan situasi pertama terjawab beberapa minggu setelahnya, tepatnya di siang, tempat, dan situasi yang kedua. Keduanya sama-sama menghentakkan saya dalam hal yang sudah saya paparkan sebelumnya.

Apa tujuan hidup kamu? Sebuah pertanyaan simpel dari dosen saya membuat saya meringis. Saat itu saya yakin saya sudah punya. Saya sering membuat perencanaan dalam hidup saya, mulai dari perencanaan studi, perencanaan karir, kalau perencanaan hidup … mungkin. Mungkin sudah, mungkin juga, hmm, belum. Ah, bukankah saya sudah punya tujuan hidup? Atau, apakah yang saya kira tujuan sebenarnya bukan benar-benar tujuan?

Kali kedua terjadi bukan di dalam kampus. Ketika mengikuti sebuah pelatihan, saya dikenalkan “istilah baru”. Terminal dan halte. Bukan terminal dan halte kendaraan umum seperti yang saya maknai biasanya, melainkan “terminal” dan “halte” dalam hidup. Saya, dan peserta pelatihan saat itu, diminta untuk mengevaluasi “tujuan” yang telah kami tuliskan sebelumnya, apakah “tujuan” itu adalah “terminal” alias tujuan akhir, atau baru “halte” alias tujuan sementara.

Saya menelan ludah. Tanpa lama berpikir, saya menulis kata HALTE besar-besar. Semua ini baru halte. Dari sekian baris mimpi yang saya tulis itu, semuanya bukan yang terakhir, bukan final.

Saya jadi kembali teringat pada “banyak jalan menuju Roma”. Dalam konteks ini, bahkan jika keadaan membuat saya harus melalui jalan yang bukan di mana halte-halte itu berada, itu sejatinya tak mengapa. Lagi-lagi, karena itu hanya persinggahan sementara.

Dan bukan di dunia ini pemberhentian akhir itu berada.

Nampaknya saya terlalu sibuk membayangkan jalan-jalan yang mengantarkan saya pada “halte”, hingga terlupa pada “terminal”.

Namun demikian, itu tidak berarti “halte”-“halte” tersebut menjadi tidak penting. Mereka penting, tapi yang saya pahami sekarang, mereka bukan lagi yang utama.

Jumat, 22 November 2013

Siang, Copet, dan Hak

Slep! Sebuah tangan tiba-tiba keluar dari tas saya ketika saya akan turun dari angkot. Seketika saya speechless.

Bukan tangan hantu ataupun tukang sulap, tapi tangan "jahil" yang memasuki tempat yang bukan haknya, dan terpaksa keluar ketika si empunya barang memergokinya. Segera saya mengecek isi tas, dengan fokus utama pada ponsel (karena barang-barang lain dalam ruang tas yang terbuka itu tidak ada yang penting selain ponsel), dan bernafas lega benda itu masih dengan nyaman berada di ujung bawah tas saya, terlindungi oleh tisu, plastik berisi beberapa masker yang baru saya beli, dan segala barang-barang printilan yang memang sedang berantakan saat itu.

Kejadian itu terjadi dalam waktu singkat, tidak sampai satu menit, yakni ketika saya menunggu supir angkot menyerahkan uang kembalian saya. Saya yang membayar dan menunggu kembalian di dalam angkot (posisi saya saat itu di belakang supir. Saya membayar di dalam karena teriknya matahari membuat saya malas membayar dan menunggu kembalian di luar, alias di samping pintu depan penumpang tempat biasanya saya bayar), tidak menyadari bahwa ada tangan yang membuka tas dan mencoba merogoh isinya saat tatapan saya fokus pada uang kembalian dari pak supir. Saya baru mengetahui hal itu ketika hendak turun.

Setelah melemparkan pelototan pada pelaku, saya turun dengan jantung yang berdegup sangat kencang dan tangan gemetar. Ingin rasanya memaki-maki orang itu, atau setidaknya menyindirnya agar penumpang lain tahu bahwa ada pencopet di tengah-tengah mereka. Sayangnya saya terlalu shocked, takut, sehingga justru tidak bisa berkata apa-apa dan berkeringat dingin sendiri.

Saya masih ingat betul perasaan saya ketika itu. Geram, kecewa, sedih, aaaaargh pokoknya geregetan banget, lah! Seenaknya saja mengambil hak orang lain! Ponsel itu saya miliki bukan tanpa pengorbanan. Ponsel itu dibeli memang dengan uang orang tua, tetapi justru karena uang orang tua itulah yang jauh lebih menyesakkan saya. Apa dia tidak memikirkannya? Pernahkah haknya diambil orang lain begitu saja?

Bus yang saya tunggu-tunggu lama sekali datangnya. Saya langsung mengabarkan beberapa teman saya untuk berhati-hati. Sambil menunggu, saya kembali merasa-rasai perasaan saya. Semakin saya rasakan emosi negatif itu, saya menjadi memahami, seberapa sulitnya situasi kita, hak orang lain tetap tidak boleh dilanggar. Materi moral development yang saya pelajari di kelas beberapa waktu lalu pun terputar kembali.


Ah, jangan-jangan sebenarnya saya sering melukai hak-hak orang lain. Ternyata seperti ini sakitnya.. Sakit sekali.

:'(

Selasa, 22 Oktober 2013

Cantik dengan Terluka


Saya bingung ngasih judul apa untuk tulisan ini. Awalnya saya terpikir untuk memberi judul "Melukai dengan Cantik". Namun, kemudian sebuah insight baru membuat saya mengubahnya, ya, seiring dengan pemahaman baru tersebut.

Selamat membaca!

Sabtu, 15 Juni 2013

Harga Kehidupan

Ketika melihat tanggal terakhir saya mem-posting tulisan di sini, saya merasa setengah kaget dan setengah tidak. Kaget karena 'Oow, sudah berapa bulan, ini?', yang segera dibalas oleh ketidakkagetan, tetapi ternyata yang juga menimbulkan kekagetan baru, yaitu 'Bukannya udah biasa, saya berencana untuk nulis tapi gak jadi?' 

Sebegitunya.

Ah, tapi sudahlah. Mungkin lain kali, kalau perlu, kita membahasnya di sini. Saya memang memiliki sederet 'janin-janin' tulisan yang tak kunjung saya lahirkan dan bahkan tergugurkan.

Berbicara tentang keguguran, itu yang akan saya tulis sekarang. Saya tidak berniat menjelaskan apa dan bagaimana, apalagi secara ilmiah. Saya hanya ingin menggulirkan perasaan yang terkadang menyesakkan.

Kakak kandung saya satu-satunya saat ini sedang hamil muda. Sayangnya, di dua bulan pertama ini, dan semoga hanya di dua bulan pertama ini saja, kandungannya tidak seasyik yang saya bayangkan. Saya baru mengetahui bahwa ternyata seriskan itu untuk melakukan hal-hal yang bagi saya biasa saja. Bisa jadi karena saya bungsu dan belum pernah sedekat ini dengan orang yang sedang mengandung sehingga saya bisa mengamatinya sepanjang waktu, banyak hal yang 'ternyata' buat saya. Kalau dibandingkan dengan cerita mama saat mengandung anak-anaknya dulu, yaitu ketika mama sanggup bergelantungan di pintu bus untuk sampai ke kantornya, keadaan kakak saya berbeda. Sejak menikah, kakak saya mengurangi pekerjaannya, apalagi saat diketahui mengandung. Memang, kakak saya pernah menerima permintaan tetangga untuk menjadi MC di acara pernikahannya, tetapi ya, setelah hari itu dan keesokannya di mana ia menghadiri 2 undangan pernikahan temannya yang lain --kayaknya lagi musim kawin, ya :p--, kakak saya harus bedrest. Jadwal ke rumah sakit pun ternyata menjadi lebih sering dari yang seharusnya. :'(

Well, kembali ke keguguran tadi, kali ini kata tersebut membuat saya cemas. Saya sudah sering keguguran ide menulis. Agak menyesakkan, memang. Akan tetapi, kali ini kecemasannya jauh lebih dari itu. Ini menyangkut kelahiran manusia, lebih spesifik lagi keponakan saya.

Semoga kecemasan ini tidak terbukti, kekhawatiran ini tidak menjadi, dan ketakutan ini tidak memamerkan diri. Biarlah mereka menjadi peringatan bagi kami untuk menghargai kehidupan ini, termasuk kehidupan sosok yang kami nanti.

Saya menjadi semakin memahami betapa berharganya hidup ini, betapa berharganya satu nyawa ini. Mungkin terkadang kita merasa bukan siapa-siapa, tidak bisa apa-apa, tetapi sesungguhnya kita berharga, tinggal bagaimana kita membuktikannya.

Bekasi, 15 Juni 2013


P.S. : Untuk keponakanku yang masih entah berwujud apa, semangat ya, Sayang :) kami mencintaimu bahkan sebelum kamu mampu mengeja kata cinta. 

Jumat, 18 Januari 2013

Romantis

Belum lama ini saya membaca novel "Samita: Sepak Terjang Hui Sing Murid Perempuan Cheng Ho" karya Tasaro terbitan DAR! Mizan. Novel fiksi historis itu berlatar masa keruntuhan Majapahit, jadi saat membaca beberapa nama tokohnya, saya teringat pelajaran Sejarah beberapa tahun lalu (kayak udah lama banget ninggalin bangku sekolah aja, hehe).

Novel ini mengisahkan seorang gadis bernama Hui Sing, yang diceritakan merupakan murid paling muda dan perempuan satu-satunya dari tiga murid Laksamana Cheng Ho. Hui Sing ini selain cerdas juga jago bela diri Thifan. Bersama kakak-kakak seperguruannya, Hui Sing ikut dalam perjalanan sang guru yang memimpin armada Kerajaan Ming sejumlah puluhan ribu menuju Kerajaan Majapahit untuk misi perdamaian. Berbagai peristiwa dialami gadis tangguh itu, mulai dari persahabatan dengan seorang gadis di Simongan dan sempat terjadi pertempuran di sana, pengkhianatan salah satu murid Laksamana Cheng Ho, jatuh hati pada salah satu pemuda Majapahit, perjuangan dan penantian bertahun-tahun untuk menyelamatkan cintanya, sampai perjuangan habis-habisan membela keluarganya.

Novel ini sarat nilai moral, tapi saya tidak akan membahas itu sekarang. Entah mengapa saya memilih untuk membahas kisah cinta alias bagian-bagian yang so sweet dalam novel yang banyak adegan pertarungan ini (itu sih bukan entah mengapa, tapi emang maunya, hahaha).

Meskipun yang berjuang mati-matian memperjuangkan cinta adalah Hui Sing alias Samita, tapi sangat jauh berbeda dari 'perjuangan' cinta seorang cewek yang ngejar-ngejar cowok di sinetron-sinetron. Apalagi sampai rebutan cowok dengan cara-cara yang, menurut saya, nggak elegan. Demi membuka kedok calon istri lelaki yang dicintainya, Sad Respati, Hui Sing rela berpisah dengan guru dan kakak seperguruannya untuk kembali ke Majapahit. Meskipun dua tahun terjebak di dasar jurang, toh semangat Hui Sing yang kemudian mengubah namanya menjadi Samita (satu-satunya kenang-kenangan dari Respati) tidak mengendur. Pada akhirnya, setelah dua tahun berusaha mendatangi Respati, mendapati lelaki itu telah menikah dan tampak bahagia, Samita tidak setega itu langsung menghancurkan kebahagiaan Respati. Barulah setelah 'didesak' oleh Mbok Rukmi, Samita memperjuangkan kebenaran itu. Tidak meledak-ledak, Samita justru hanya mengucapkan beberapa kalimat saja. Menurut saya, itu keren dan elegan.

Sampai di situ, Samita tidak langsung memperoleh cintanya. Respati, yang kemudian mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Rakryan Rangga Majapahit setelah berpisah dengan istrinya, pergi untuk mencari hakikat hidupnya. Lagi-lagi, selama dua tahun Samita hanya menunggu, mengawasi, dan menjaga lelaki itu dari jarak tertentu yang bahkan tidak disadari oleh Respati.

Kendati perjalanan mereka meraih cinta tidak dengan kontak yang intens, tiada sentuhan, bahkan bertatapan pun tidak berlebihan, namun saya tetap merasakan keromantisan (atau so sweet-nya) kisah mereka. Ketika kemudian mereka menikah (yah, jadi saya bocorin nih ceritanya hahaha), saya, yang padahal cuma sebagai pembaca dan sayangnya BUKAN pelaku (-_-"), sampai mukul-mukul bantal saking girangnya (oke, saya memang lebay kalau baca novel, bisa sampai nangis-nangis atau ketawa-ketawa sendiri). Yaa, meskipun kebahagiaan itu ada jangka waktunya, sih.

Well, secara umum saya suka dengan karakter Samita dan Respati. Keduanya sama-sama strong, berhati lembut, dan berjiwa ksatria. Kyaaaaaa!! Jadi mau senyum-senyum bayangin Respati #ups #dihajarsamita wkwkwkwk :p

Oia, selain Samita-Respati, ada lagi pasangan yang diceritakan di novel ini, Ramya dan Windriya. Pasangan ini memang tidak bernasib sebaik Samita-Respati, dan saya cukup merasa tersayat-sayat membaca kisah mereka seperti alunan kecapi yang dimainkan Dewi Kecapi Maut yang menyayat hati. Kalau suka yang galau-galau, pasangan ini pas nih. Harmonisasi kecapi yang berpadu dengan seruling yang dimainkan sepenuh hati, syair-syair cinta, penantian panjang, ayam panggang (lho? Kok ada ayam panggang segala? Hehe, maksudnya, pertama kali mereka bertemu itu selain karena suara seruling Windriya, juga karena aroma ayam panggangnya yang menggoda perut Ramya), pas deh membuat perasaan jadi galau. Yah, meskipun saya masih nggak bisa bayangin ada orang yang rela hidup di pinggir jurang untuk waktu yang tak terbatas demi menunggu seseorang yang entah bagaimana nasibnya setelah jatuh ke jurang yang sangat dalam itu, karena, menurut saya, itu agak... konyol. Nggak move on, gitu. Hehehe. Tapi, karena saya sendiri belum pernah mengalami cinta yang sebegitu dalamnya, jadi mungkin saya terlalu kejam menilainya. Apalagi, ternyata yang dinanti-nantikannya akhirnya benar-benar muncul beberapa tahun kemudian. So sweet-nya lumayan 'dapet' juga meski tidak berakhir menyenangkan.

Yak, meskipun tulisan ini seperti mengulas rasa gula dalam sayur sop (ini sayur sop bikinan mama saya lho, entah yang lain pada pake gula apa nggak), alias hanya secuil dari banyak sekali hal yang bisa diulik dari novel ini, tapi saya ingin menunjukkan, bahwa keromantisan itu nggak hanya bisa dibangun dengan kata-kata "aku cinta padamu" dan sejenisnya, pacaran, dan/ataupun kontak secara fisik. Bukan bermaksud menyindir, menceramahi, apalagi ngajak ribut, lho. Just wanna share my opinion saja :) Seperti yang saya tulis barusan, nggak "hanya", jadi yang saya sebutkan kemudian itu memang bisa juga menjadi romantis, misalnya mama saya hobi banget mengumbar kata-kata yang membuat muka papa saya merah, terlebih setelah anak-anaknya udah pada gede dan sudah cukup bisa memahami. 

Sekian :)

Kamis, 10 Januari 2013

Jangan SOK [gak] PENTING!

"Kalian jangan merasa SOK nggak penting," senior saya di SMA pernah mengatakan kalimat yang intinya seperti itu. Saya, dengan wajah tertunduk karena merasa tertusuk mendengar kalimatnya, hanya menggerutu dalam hati, 'Siapa yang sok? Saya memang tidak penting di sini.'

Ya, sering sekali saya berpikir bahwa keberadaan saya tidak penting, tidak dibutuhkan, bahkan hanya mengganggu dan menyusahkan. Akan lebih baik jika saya tidak ada saja.

Tapi, apa memang betul seperti itu?

Kenyataannya, justru ke-sok-[nggak]-penting-an saya itu yang menyusahkan banyak orang. Saya mempertahankan ke-bayang-bayang-an saya, alias mempertahankan posisi sebagai bayang-bayang, yang tidak dipedulikan dan tidak berpengaruh apapun. Atau, sebenarnya, tidak mempedulikan dan tidak terpengaruh apapun? Entahlah. Yang jelas, saat memikirkannya, saya merasa telah menjadi orang yang jahat. Bagaimana tidak? Keberadaan saya, meskipun mungkin tidak lebih baik daripada jika sejak semula saya memang tidak berada di sana, telah menimbulkan konsekuensi baik bagi orang-orang di dalamnya selain saya maupun saya sendiri. Bagaimanapun, saya telah berada di dalamnya. Keacuhan, kepasifan, dan tindakan bayang-bayang lainnya, sedikit banyak merugikan mereka, orang-orang selain saya yang berada dalam, katakanlah, kelompok. Mereka berhak mendapatkan kinerja yang baik dari saya sebagai anggotanya, tetapi saya tidak memberikannya.

Kalau saya pikir, perasaan sok [nggak] penting itu bisa jadi terkait dengan self esteem saya, alias penghargaan saya terhadap diri saya sendiri. Saya merasa diri saya tidak cukup berharga di dalam kelompok, sehingga saya merasa keberadaan saya tidak diperlukan. Saya merasa seperti kutu, harus dibuang jauh-jauh. Masalahnya, apa mereka bisa, dan mau, membuang saya? Mereka orang-orang baik, yang masih saja memberikan saya kesempatan untuk berubah. Saya sudah, katakanlah (meskipun terkesan agak kejam), terlanjur masuk di dalamnya, dan mereka pun telah terlanjur menerima saya. Lain halnya jika saya memang tidak pernah masuk sebelumnya. Terlanjur yang saya maksud di sini bisa diawali dengan memilih maupun terpilih, alias masuknya saya dalam kelompok bisa saja karena saya sebelumnya pernah memilih untuk masuk kelompok tersebut (misalnya kelompok bermain) maupun saya tiba-tiba saja berada di dalamnya tanpa saya pernah memintanya (misalnya keluarga). Bagaimanapun awalnya, pada akhirnya saya adalah bagian dari kelompok itu, yang tentunya menimbulkan konsekuensi seperti yang saya tuliskan sebelumnya.

Pada akhirnya, kata "konsekuensi" itulah yang membuat saya tersadar, bahwa baik yang saya lakukan maupun yang tidak saya lakukan tetap memiliki konsekuensinya. Sebagai orang yang ingin menjadi manusia yang bertanggung jawab, saya harus konsekuen, siap menerima segala konsekuensi dari apa yang saya lakukan ataupun tidak lakukan itu. 

Jadi, pantas kah saya tetap merasa sok [nggak] penting?



-renungan pagi hari terhadap diri sendiri-

Rabu, 09 Januari 2013

Latah

Kalau dipikir-pikir, saya itu ternyata orangnya latah. Bukan latah yang "Eh, copot!" atau lebih parahnya (kayak tetangga saya) "Emak lu kodok!", pun gak sealim orang yang sebentar-sebentar bilang "Astaghfirullah", melainkan latah saya itu adalah "laper mata".

Melihat kata "laper mata", jangan pula bayangkan saya adalah gadis yang doyan shopping dengan mata berbinar-binar saat melihat deretan tas, sepatu, baju, celana, dan sebagainya itu. Baik di mall maupun pasar tradisional, radar saya tidak bekerja untuk barang-barang semacam itu. Kalau makanan, itu lain lagi :p

Lebih tepatnya, yang saya maksud dalam tulisan ini adalah "laper mata" yang beda lagi, karena kalau makanan sih, selain laper mata, juga laper lidah dan laper perut, hehehe.

Saya itu sering banget pengen ini, pengen itu, persis kayak lagunya Doraemon, "Aku ingin begini, aku ingin begitu. Ingin ini, ingin itu, banyak sekali..." Sayangnya, tidak semuanya dapat dikabulkan karena memang saya tak punya kantong ajaib :D

Melihat seseorang melakukan sesuatu, saya ingin menirunya. Melihat orang yang lain berbuat hal yang berbeda lagi, saya pun ingin mengikutinya. Berjiwa follower banget, ya? Hahaha. Itu dia yang membuat saya sempat nge-update status di akun facebook saya yang bunyinya "memang ada banyak jalan menuju roma, tapi karena banyaknya itu sampai bingung milih yang mana -.-"

Saya melihat begitu banyak orang baik dengan kebaikannya masing-masing. Mereka, walaupun dengan cara yang berbeda, memiliki kesamaan: nilai kebaikan dalam kegiatannya masing-masing. Betapa... membuat iri, bukan? Setidaknya, saya dibuat iri karenanya.

Karena kelatahan saya itu, saya menjadi kurang fokus. Banyak kegiatan yang saya lakukan dengan setengah-setengah, sehingga hasilnya pun gak optimal. Akhirnya, saya dibuat bingung oleh diri saya sendiri. Gak seperti kalimat dalam iklan salah satu minuman bersoda: Kutahu yang kumau, saya masih sering bingung dengan apa yang saya mau. Oh, atau sebenarnya saya tahu, tapi tidak tahu caranya. Banyak jalan menuju Roma, bukan?

Pada akhirnya, saya pikir saya memang harus memilih. Di antara pilihan-pilihan yang baik, memilih yang mana pun tetap baik, bukan?

Tapi, rela kah saya meninggalkan jalan yang tidak saya pilih?

Minggu, 11 November 2012

Hujan


Aku ingin bercerita tentang hujan. Kini, entah sejak dan sampai kapan, aku mengubah pandanganku terhadapnya. Aku tidak ingin lagi mempersalahkannya yang telah membuat hariku kelabu, aku tak mau lagi membencinya karena mengurungku dari menjelajahi dunia.
Karena kupikir itulah dia. Tak mungkin aku berharap hujan akan membiarkanku menari riang di taman terbuka tanpa kebasahan. Tanpa ragu ia melingkupiku, seperti halnya tiada sungkan ia menguarkan harumnya tanah padaku.
Kurasa, aku mengagumi keberaniannya mengguyur muka bumi dan melunturkan debu yang menempel di sana, kendati sebagian orang merutuki caranya, terutama saat ia terlalu deras. Terkesan keras. Sungguh, aku melihat sesungguhnya ia tidak keras. Hujan itu tetap meneteskan air, bukan batu.
Maka bila aku memakai payung, bukan berarti aku menolak kehadirannya. Aku hanya ingin buktikan pada mereka, bahwa aku masih bisa menari di bawah naungan hujan. Hujan toh tak melarangku meninggalkan rumah.
Ah, hujan. Meski aku ingin menemanimu, akankah tarianku pantas mengiringi rinaimu? Masihkah kau ingat warna payungku?


Ditulis saat galau dalam perjalanan ke rumah

Sabtu, 24 Maret 2012

Speechless

............
Saya speechless. Sungguh. Hanya debaran jantung, yang temponya mendekati detak yang biasa tercipta saat saya sudah 15 menit jogging, yang mewakili ke...[apa ya termnya? Saya bener-bener bingung sendiri. Kagum, terkejut, amazed, dan.... pengen (?)] an saya ketika saya membaca sebuah buku kecil berjudul "Karunia Terindah". Buku tersebut merupakan souvenir pernikahan salah satu tetangga saya.
Unik, bukan, membuat buku sebagai souvenir pernikahan? Saya pikir itu merupakan sebuah terobosan yang sangat kreatif. Two thumbs up, deh, buat dia!! :) 
Dalam buku tersebut, si penulis yang merupakan mempelai wanita menceritakan kisah cinta mereka sejak pertama kali mereka berkenalan. Betapa perbedaan usia 10 tahun ternyata tak mampu menghalangi niat suci si lelaki untuk menikahi gadis yang bahkan belum berusia kepala dua.
FYI, si perempuan ini seumuran sama saya, dan itu yang membuat saya cukup "Hah?" saat tahu dia mau menikah. Tapi, saya bukan anti nikah muda, kok, hanya agak terkejut saja (dan sedikit membayangkan, kalo gue yang ngalamin, gimana ya???). Bahkan saya salut banget, dia berani mengambil keputusan itu walaupun ada yang pro-kontra. Berulang kali ditulis dalam buku itu bahwa ia sangat menghargai perbedaan, dan betapa perbedaan itu terasa sangat indah baginya karena menjadikan hidup ini berwarna. Huaa, suka banget dengan sikapnya yang begitu bijak dan dewasa ^^
Life is Never Flat, tulisnya dalam buku itu, seperti yang ada di iklan snack favorit saya. Kisahnya benar-benar nyess banget buat saya. Dalam waktu beberapa bulan saja, mereka yang awalnya tidak saling mengenal, sekarang sudah menjadi pasangan yang sah secara hukum negara maupun agama. Tanpa pacaran. Bahkan, "nembak"nya pun langsung ke bunda si perempuan ini duluan, sebelum ngomong ke sasarannya.
Jadi inget ucapan dosen saya waktu itu, yang kira-kira bunyinya, "Jangan seneng kalo ada yang bilang 'Aku cinta kamu'. Minta buktinya: berani nggak dia ngelamar?"

Untuk teman TPA-ku, Annida Putriga (yang entah masih kenal saya atau nggak, hehe), selamat menempuh hidup baru yang akan tetap nggak flat ini ya! Semoga keluarga baru kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Aamiin.
.
.
.
N.B.: Gue kapan, ya? :p

Minggu, 27 Maret 2011

anything i'm not

"...I will never be, I will never be you, no
I will always be, I will always be me, that I know
But oh, even though I'm happy being me
I want to get away from all this harsh reality, oh

Gimme a break, a little escape
I am so tired of being me
I wanna be free, I wanna be new and different
Anything I'm not..."

Begitu kata Lenka pada lagunya yang berjudul Anything I'm Not. Begitu pula dengan apa yang sering saya alami, apalagi di usia saya sekarang ini yang katanya sedang mencari jati diri.

Saya, ya adalah saya. Saya bukan kamu, bukan pula dia. Saya juga nggak mau jadi kamu atau dia, saya cuma mau jadi saya.
Tapi saya itu seperti apa?
Itulah pertanyaan yang sering berseliweran di benak saya, seperti laron-laron yang berputar-putar di sekitar lampu.
Itulah yang sedang saya cari jawabannya, tanpa saya tahu di mana dan bagaimana saya mencarinya.
Itulah jati diri.

Selasa, 06 April 2010

Lho, kok ada OPICK?

“Loh kok ada OPICK?” komentar bapak gue ketika melihat gue dari belakang. Opick yang dimaksud di sini bukan Opick penyanyi religi yang sekarang melebarkan sayap di dunia perfilman itu, tapi Opick sodara gue, yang namanya Taufik tapi dipanggilnya Opick. (kecewa? Hehehe, maaf ya)
Kenapa deh gue dikira sodara gue yang dari namanya aja ketauan banget kalo dia beda jenis kelamin sama gue? O-ow, jadi sebabnya itu…

tortoise vs hare

Kisah tentang kelinci dan kura-kura yang balapan lari dan akhirnya dimenangkan oleh si kura-kura karena kelalaian si kelinci yang enak-enakan tidur pasti udah nggak asing lagi. Gue juga udah berulang kali baca dan denger dongeng itu tapi baru kemaren (18/3) gue ngerasa bugh! Alias ngerasa ditonjok tepat di ulu hati.

Kamis, 25 Maret 2010

Kok kamu nggak ngertiin aku sih?? (sinetron mode: ON)

Kalau kamu mau orang lain bersikap baik sama kamu, bersikap baiklah ke mereka. Kalau kamu mau dihormati orang lain, hormatilah orang itu. Kalau kamu mau dimengerti orang lain, ngertiinlah (apa sih bahasanya nggak enak banget) orang itu. Kalau kamu mau dipahami orang lain, pahamilah orang itu. Mungkin temen-temen pernah denger kalimat itu, atau kurang lebih seperti itu.

Selama ini gue juga sering banget denger kalimat-kalimat kayak gitu. Selama ini juga yang gue pikir adalah kalau gue ingin orang lain baik ama gue (ya kayak menghormati, mengerti, memahami, dan semacamnya), gue harus bersikap sama ke mereka.

Tapi kok, gue ngerasa bertepuk sebelah tangan ya? Alias cuma gue yang bersikap begitu ke mereka, tapi mereka nggak bersikap yang sama ke gue. Gue udah menghormati mereka, mencoba mengerti mereka, mencoba memahami mereka, tapi kenapa?? Kenapa sih mereka nggak bisa ngertiin aku?? (dengan nada sinetron)

Agak lebay memang, eh, salah, tapi memang lebay.

“Aku udah coba ngertiin dia, tapi kenapa sih dia nggak bisa ngertiin aku??” (sambil nangis Bombay dengan nada memelas)

Senin, 15 Maret 2010

Please Check Your Belongings Before You Leave

Please Check Your Belongings Before You Leave. Pasti pada familiar kan dengan kalimat itu? Kalimat peringatan yang biasanya nongol setelah film selesai diputer di bioskop yang artinya tolong periksa barang-barang bawaan Anda sebelum Anda pergi itu ternyata harus sering diulang-ulang dalam kehidupan sehari-hari (khususnya kehidupan gue sendiri).


Sebuah pengalaman dodol yang kudu jadi pelajaran buat gue pada hari Minggu (14/3) kemarin adalah