Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 April 2015

Galon atau Nostalgia Semata?

Apakah musim hujan benar-benar sudah berlalu?
Lalu, mengapa kau masih menjelma tetesan gerimis yang kerap menggangguku
Juga mewujud awan mendung yang membuatku termangu

Saat itu, bukankah sudah benar-benar kuhanyutkan dirimu?

Sabtu, 14 Februari 2015

Hujan season 2

Lebih dari setahun lalu
Hujan mengurungmu di dekatku
sekaligus melepasmu dari hatiku

Kini
Ada gerimis yang menyerupai
Tapi aku tak peduli lagi

Senin, 20 Oktober 2014

mencari kesalahan

aku masih melacak jejakmu yang terserak
bukan tuk pastikan kau lah yang layak
karena aku justru khawatir
jika tak kutemukan bukti tuk buatmu menyingkir

Minggu, 19 Oktober 2014

kujawab saja entah

apakah jiwa kita tertukar?
karena kutemukan kata-kataku dalam tulisanmu

apakah kita kembar?
karena kudengar lagu yang sama dengan lagu yang kau tulis dulu

apakah kau pencuri, atau aku yang telah kehilangan?

atau

apakah kau dan aku sebenarnya satu?

Jumat, 20 Desember 2013

Lepas

Kulepas kau bersama tetesan awan yang semakin deras
Mengalirkan segala ingin yang tak mungkin
Menghanyutkan asa yang tak pada tempatnya

Jadi biarlah aku yang gersang, sebab rinaimu hanya menjadi air bah di hatiku

Jumat, 11 Oktober 2013

elegi senja hari

aku mengecap butir-butir tanah yang kujejak
menambal lubang-lubang yang berbiak di hati yang penuh retak
ada sesak yang mendesak
karena jarak

aku bernyanyi setiap pagi
menulikan telinga yang sepi
sibukkan diri menertawai
aku yang sendiri


Jumat, 09 November 2012

Bahkan, dan aku hanya menggeleng-geleng

Siapa kau? Seenaknya saja muncul di sana dan di sini. Merendahkanku bahkan tanpa kata. Menertawaiku bahkan tanpa kita bersua. Mempermalukan diriku bahkan pada entah siapa. Bahkan, kemunculanmu saja tanpa rupa.

Sabtu, 29 Oktober 2011

bagaimana

jika kubisikkan
resah ini pada daun-daun basah
akankah hati ini tak lagi lelah?

jika kukatakan
gamang ini pada air yang tenang
bisakah ia buatku senang?

tapi

jika kuceritakan
dingin ini pada sosok dalam cermin
mampukah ia tak retak karena kutularkan sesak?

Minggu, 21 Maret 2010

uhh, sepi

sepi
rasanya hanya ada aku sendiri
kosong
aku hanya bisa bengong
gelap
udara pengap membuatku megap-megap
hening
bahkan nyaris tak ada bunyi denting
takut
aku seperti tenggelam dalam laut

Jumat, 12 Maret 2010

Risau Meracau Galau

Malam kelam diam mencekam
Berkabut kalut berselimut takut
Sakit terhimpit sempit
Pengap menyekap gelap
Ribut menyebut-nyebut
Sesak menyeruak
Bimbang menyumbang
Bingung bergabung

Apalah aku jadinya?

Kamis, 11 Maret 2010

Ugh !

Menggantung pada sebatang jarum waktu
Digantungi karungan kebimbangan
Diselimuti lelehan ketakutan
Dijerat perekat kemalasan
Dibutakan mimpi dan angan2

Sanggupkah?

Sabtu, 27 Februari 2010

Aaaargghhh….!!!!

Aaaargghhh….!!!!
Kepalaku rasanya ingin pecah!
Perutku mual mau muntah!

Ingin menjerit
Karena sakit
Aku terjepit
Sempit

Semua harus disikat
Secepat kilat
Jangan terlambat
Tapi kepalaku beraat
Rasanya tak muat
Aku tak kuaaat..!

260210 – sekadar ungkapan kejenuhan, kesesakan, kerumitan, kepuyengan, sampai nyaris ketiduran…

Senin, 22 Juni 2009

sinar yang menenangkan

sinar itu menenangkanku
dari rasa galau dan khawatirku
sinar itu kembali menenangkanku
saat aku mulai merindukan rasa itu
sinar itu sangat menenangkanku
sampai aku terhanyut dibuatnya

Minggu, 21 Juni 2009

Bintang Itu

Bintang itu

Kenapa semakin menjauh dariku?

Semua orang masih melihat kerlipnya yang jenaka

Tapi kenapa tidak denganku?


Bintang itu

Ia tak istimewa

Ia tak seterang sang surya

Ia pun tak seindah rembulan

Tapi, mengapa aku ingin selalu melihatnya?


Andai saja ia matahari

Atau rembulan juga tak apa

Asal bukan dia!

Dia yang sangat aku harapkan

Bukan matahari yang tak mungkin kuraih

Atau rembulan yang hanya kukagumi sesaat