Tampilkan postingan dengan label uneg-uneg. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label uneg-uneg. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 April 2015

Galon atau Nostalgia Semata?

Apakah musim hujan benar-benar sudah berlalu?
Lalu, mengapa kau masih menjelma tetesan gerimis yang kerap menggangguku
Juga mewujud awan mendung yang membuatku termangu

Saat itu, bukankah sudah benar-benar kuhanyutkan dirimu?

Jumat, 22 November 2013

Siang, Copet, dan Hak

Slep! Sebuah tangan tiba-tiba keluar dari tas saya ketika saya akan turun dari angkot. Seketika saya speechless.

Bukan tangan hantu ataupun tukang sulap, tapi tangan "jahil" yang memasuki tempat yang bukan haknya, dan terpaksa keluar ketika si empunya barang memergokinya. Segera saya mengecek isi tas, dengan fokus utama pada ponsel (karena barang-barang lain dalam ruang tas yang terbuka itu tidak ada yang penting selain ponsel), dan bernafas lega benda itu masih dengan nyaman berada di ujung bawah tas saya, terlindungi oleh tisu, plastik berisi beberapa masker yang baru saya beli, dan segala barang-barang printilan yang memang sedang berantakan saat itu.

Kejadian itu terjadi dalam waktu singkat, tidak sampai satu menit, yakni ketika saya menunggu supir angkot menyerahkan uang kembalian saya. Saya yang membayar dan menunggu kembalian di dalam angkot (posisi saya saat itu di belakang supir. Saya membayar di dalam karena teriknya matahari membuat saya malas membayar dan menunggu kembalian di luar, alias di samping pintu depan penumpang tempat biasanya saya bayar), tidak menyadari bahwa ada tangan yang membuka tas dan mencoba merogoh isinya saat tatapan saya fokus pada uang kembalian dari pak supir. Saya baru mengetahui hal itu ketika hendak turun.

Setelah melemparkan pelototan pada pelaku, saya turun dengan jantung yang berdegup sangat kencang dan tangan gemetar. Ingin rasanya memaki-maki orang itu, atau setidaknya menyindirnya agar penumpang lain tahu bahwa ada pencopet di tengah-tengah mereka. Sayangnya saya terlalu shocked, takut, sehingga justru tidak bisa berkata apa-apa dan berkeringat dingin sendiri.

Saya masih ingat betul perasaan saya ketika itu. Geram, kecewa, sedih, aaaaargh pokoknya geregetan banget, lah! Seenaknya saja mengambil hak orang lain! Ponsel itu saya miliki bukan tanpa pengorbanan. Ponsel itu dibeli memang dengan uang orang tua, tetapi justru karena uang orang tua itulah yang jauh lebih menyesakkan saya. Apa dia tidak memikirkannya? Pernahkah haknya diambil orang lain begitu saja?

Bus yang saya tunggu-tunggu lama sekali datangnya. Saya langsung mengabarkan beberapa teman saya untuk berhati-hati. Sambil menunggu, saya kembali merasa-rasai perasaan saya. Semakin saya rasakan emosi negatif itu, saya menjadi memahami, seberapa sulitnya situasi kita, hak orang lain tetap tidak boleh dilanggar. Materi moral development yang saya pelajari di kelas beberapa waktu lalu pun terputar kembali.


Ah, jangan-jangan sebenarnya saya sering melukai hak-hak orang lain. Ternyata seperti ini sakitnya.. Sakit sekali.

:'(

Rabu, 09 Januari 2013

Latah

Kalau dipikir-pikir, saya itu ternyata orangnya latah. Bukan latah yang "Eh, copot!" atau lebih parahnya (kayak tetangga saya) "Emak lu kodok!", pun gak sealim orang yang sebentar-sebentar bilang "Astaghfirullah", melainkan latah saya itu adalah "laper mata".

Melihat kata "laper mata", jangan pula bayangkan saya adalah gadis yang doyan shopping dengan mata berbinar-binar saat melihat deretan tas, sepatu, baju, celana, dan sebagainya itu. Baik di mall maupun pasar tradisional, radar saya tidak bekerja untuk barang-barang semacam itu. Kalau makanan, itu lain lagi :p

Lebih tepatnya, yang saya maksud dalam tulisan ini adalah "laper mata" yang beda lagi, karena kalau makanan sih, selain laper mata, juga laper lidah dan laper perut, hehehe.

Saya itu sering banget pengen ini, pengen itu, persis kayak lagunya Doraemon, "Aku ingin begini, aku ingin begitu. Ingin ini, ingin itu, banyak sekali..." Sayangnya, tidak semuanya dapat dikabulkan karena memang saya tak punya kantong ajaib :D

Melihat seseorang melakukan sesuatu, saya ingin menirunya. Melihat orang yang lain berbuat hal yang berbeda lagi, saya pun ingin mengikutinya. Berjiwa follower banget, ya? Hahaha. Itu dia yang membuat saya sempat nge-update status di akun facebook saya yang bunyinya "memang ada banyak jalan menuju roma, tapi karena banyaknya itu sampai bingung milih yang mana -.-"

Saya melihat begitu banyak orang baik dengan kebaikannya masing-masing. Mereka, walaupun dengan cara yang berbeda, memiliki kesamaan: nilai kebaikan dalam kegiatannya masing-masing. Betapa... membuat iri, bukan? Setidaknya, saya dibuat iri karenanya.

Karena kelatahan saya itu, saya menjadi kurang fokus. Banyak kegiatan yang saya lakukan dengan setengah-setengah, sehingga hasilnya pun gak optimal. Akhirnya, saya dibuat bingung oleh diri saya sendiri. Gak seperti kalimat dalam iklan salah satu minuman bersoda: Kutahu yang kumau, saya masih sering bingung dengan apa yang saya mau. Oh, atau sebenarnya saya tahu, tapi tidak tahu caranya. Banyak jalan menuju Roma, bukan?

Pada akhirnya, saya pikir saya memang harus memilih. Di antara pilihan-pilihan yang baik, memilih yang mana pun tetap baik, bukan?

Tapi, rela kah saya meninggalkan jalan yang tidak saya pilih?

Senin, 26 November 2012

Nggak ngerti lagi sama lupa ini

Kupikir ke-pikun-an ku kali ini sudah berlebihan.
Beberapa kali tugasku terabaikan hanya karena : LUPA. Lupa yang keterlaluan.
Bagaimana tidak? Aku tahu ada tugas yang harus kukerjakan, tapi aku lupa untuk mengerjakannya. Lupa yang benar-benar lupa.
Contohnya minggu lalu. Kalau yang ini memang tugasnya saja aku lupa, apalagi mengerjakannya. Aku sampai membuat kesal temanku saat aku berulang kali mengiriminya sms hanya untuk menanyakan tugas kami. Kira-kira begini isinya:
Saya : Ada tugas apa aja sih?
Teman : Metpen sama Psidik
Saya : Metpen yang mana, psidik yang mana?
Teman : Metpen yang penelitian sama SPSS, psidik yang kelompok
Saya : Penelitian yang mana? SPSS yang mana?
Teman : Penelitian kelompok kita itu, kan belum kelar. Trus SPSS yang disuruh latihan ngerjain soal pake SPSS itu loh Ly, makanya dicatet, kamu kan sibuk.
Saya : (dalam hati) Maaaaaf... :'(
Contoh lainnya adalah pada hari Jumat kemarin. Yang ini aku tahu, tapi lupa. Aku tahu harus melakukan sebuah kegiatan yang mewajibkanku mengenakan jaket almamater dan tanda pengenal. Tapi, aku baru ingat bahwa aku harus membawanya tepat saat ponselku bergetar, panggilan dari panitia bahwa aku harus datang saat itu juga. Beruntung, aku yang harus ditemani salah seorang teman, berhasil "menculik" teman yang kebetulan sekali duduk di sebelahku. Jaket pun pinjaman. Tapi tanda pengenal terpaksa tidak terpenuhi.
Lebih parah lagi adalah aku lupa harus mengumpulkan laporan keuangan pada hari yang sama. Aku tahu aku harus membuat laporan keuangan, tapi aku seolah berada di "dunia" lain dan tidak merasa itu hari Jumat. Aku pulang ke kosan, besoknya ke rumah, bercerita lalala pada mama, termasuk tentang laporan keuangan itu. Aku tahu, tapi aku tidak ingat sama sekali untuk mengerjakannya. Aku baru teringat belum mengerjakannya pada hari Senin pagi, sebelum berangkat kuliah. Lupa yang aneh, menurutku. Kebangetan.
Nggak ngerti lagi deh sama diriku sendiri :(

Makanya dicatet Ly!
Iya, aku tahu. Aku udah berusaha. Tapi, kayaknya cara itu tetap kurang efektif bagiku. Ada dua masalah dalam mencatat tugas, baik di hape maupun di notes:
1. Aku lupa menulis tugasnya
2. Aku lupa membaca catatanku
Mungkin aku harus mencatat di tangan saja sekalian. 

Tapi, pulpen saja aku sering lupa bawa atau kehilangan.

Ngga ngerti lagi :(

aku

tersaruk-saruk dalam rimba kebimbangan
mencoba menggerapai "aku" yang mengabur
tak berbentuk

menggerutu pada cemas
melihat "aku" semakin hancur
tak berwujud
tak dikenal

karena kutakut kehilangan "aku"

Senin, 12 November 2012

Ah, Kawan..

Kawan, hujan ini membuat kepalaku pening, tapi ia sering sekali menyelubungiku akhir-akhir ini. Aku ingin pergi saja, berteduh. Namun, kau tepuk pundakku dan sodorkan payung. Ah, kau tahu kalau aku memang tak bisa mengabaikan hujan.
Pun kau tunjukkan turbin kecilku, dan berharap ia bisa berputar dengan aliran deras sang hujan yang kucemaskan, agar menjadikan untukku pelita yang 'kan menenangkanku.
Ah, kawan. Terima kasih lagi, dan temani aku menata semua ini.


Ditulis setelah menjalani perjalanan singkat dari kampus ke halte bersama seorang kawan.

Minggu, 11 November 2012

Hujan


Aku ingin bercerita tentang hujan. Kini, entah sejak dan sampai kapan, aku mengubah pandanganku terhadapnya. Aku tidak ingin lagi mempersalahkannya yang telah membuat hariku kelabu, aku tak mau lagi membencinya karena mengurungku dari menjelajahi dunia.
Karena kupikir itulah dia. Tak mungkin aku berharap hujan akan membiarkanku menari riang di taman terbuka tanpa kebasahan. Tanpa ragu ia melingkupiku, seperti halnya tiada sungkan ia menguarkan harumnya tanah padaku.
Kurasa, aku mengagumi keberaniannya mengguyur muka bumi dan melunturkan debu yang menempel di sana, kendati sebagian orang merutuki caranya, terutama saat ia terlalu deras. Terkesan keras. Sungguh, aku melihat sesungguhnya ia tidak keras. Hujan itu tetap meneteskan air, bukan batu.
Maka bila aku memakai payung, bukan berarti aku menolak kehadirannya. Aku hanya ingin buktikan pada mereka, bahwa aku masih bisa menari di bawah naungan hujan. Hujan toh tak melarangku meninggalkan rumah.
Ah, hujan. Meski aku ingin menemanimu, akankah tarianku pantas mengiringi rinaimu? Masihkah kau ingat warna payungku?


Ditulis saat galau dalam perjalanan ke rumah

Jumat, 09 November 2012

Bahkan, dan aku hanya menggeleng-geleng

Siapa kau? Seenaknya saja muncul di sana dan di sini. Merendahkanku bahkan tanpa kata. Menertawaiku bahkan tanpa kita bersua. Mempermalukan diriku bahkan pada entah siapa. Bahkan, kemunculanmu saja tanpa rupa.

Mungkin?

Lagi-lagi hanya ingin bercerita tentang pelangi. Bukan karena ia terlalu dan paling istimewa, melainkan lebih kepada tak ada bahan lain, mungkin?

Pagi itu jalanan masih basah, tapi langit mulai cerah. Dengan langkah-langkah yang kecil tapi cepat aku berusaha menyusul seorang kawan, namun ternyata ia tak berhenti di tempat yang aku kira. Di sanalah aku melihatnya, pelangi.

Tak ada lagi yang terasa berbeda saat melihatnya. Namun entah mengapa, aku melihat, atau mungkin saja berharap melihat, ada yang lain di mata yang sama terkejutnya denganku itu. Seolah ada pertanyaan di balik sana, yang mungkin selamanya tak terucapkan.

Aku jadi merasa bersalah. Akankah tanya itu adalah sebab terciptanya jarak antara kami yang kubuat tanpa sengaja tempo dulu? Padahal, aku sudah siapkan jawaban, bahwa jarak itu tidak kumaksudkan, dan jika dia tak menginginkannya maka bisa saja terhapuskan. Aku dan dia mungkin bisa seperti aku dengan yang lain, atau dia dengan yang lain. Tidak menjadi terlalu asing seperti saat ini.

Atau mungkin saja, ia memang tak pernah terpikir pertanyaan itu. Bahkan tak menyadari apa yang terjadi. Khas dia, bukan?

Ah, sudahlah. Enggan memikirkan apa yang mungkin. Nyatanya, aku tersenyum melihatnya tidak se-mementingkan diri sendiri seperti dulu. Yah, walaupun tak sepenuhnya tanggap apa yang seharusnya dia lakukan.

Ya, aku akan selalu memakluminya. Mungkin ia belum paham.

Hhhh...

Seringkali bingung bagaimana menyampaikannya. Atau, justru sebenarnya belum jelas apa yang ingin disampaikan? Rasanya tak dapat menampilkan diri yang sebenarnya. Namun, apa aku sendiri yakin siapa diriku sesungguhnya? Tidak terima jika orang lain menerka-nerka siapa saya, atau memang tidak mau mengakui apa adanya?

Menyepi

Kalau di depanku saat ini ada kolam, ingin rasanya aku tenggelam yang dalam. Lalu berdiam.

Terlalu banyak menyibukkan diri, mungkin? Hingga tak ada lagi waktu berbincang pada hati.

Butuh sendiri.

Rabu, 19 September 2012

Asing

Tidak, saya tidak merasa terasing, terdengar terlalu menyedihkan. Saya hanya ingin mengasingkan diri sejenak. Penat.
Di sana saya harapkan ketenangan di sini, tapi di sini saya berpikir mungkin yang saya cari ada di sana. Lalu harus ke mana?
Tanggung, lelahnya hanya setengah. Sekalian saja habiskan seluruh kekuatan, biar kebas dan terbebas dari malas.

Sabtu, 24 Maret 2012

Speechless

............
Saya speechless. Sungguh. Hanya debaran jantung, yang temponya mendekati detak yang biasa tercipta saat saya sudah 15 menit jogging, yang mewakili ke...[apa ya termnya? Saya bener-bener bingung sendiri. Kagum, terkejut, amazed, dan.... pengen (?)] an saya ketika saya membaca sebuah buku kecil berjudul "Karunia Terindah". Buku tersebut merupakan souvenir pernikahan salah satu tetangga saya.
Unik, bukan, membuat buku sebagai souvenir pernikahan? Saya pikir itu merupakan sebuah terobosan yang sangat kreatif. Two thumbs up, deh, buat dia!! :) 
Dalam buku tersebut, si penulis yang merupakan mempelai wanita menceritakan kisah cinta mereka sejak pertama kali mereka berkenalan. Betapa perbedaan usia 10 tahun ternyata tak mampu menghalangi niat suci si lelaki untuk menikahi gadis yang bahkan belum berusia kepala dua.
FYI, si perempuan ini seumuran sama saya, dan itu yang membuat saya cukup "Hah?" saat tahu dia mau menikah. Tapi, saya bukan anti nikah muda, kok, hanya agak terkejut saja (dan sedikit membayangkan, kalo gue yang ngalamin, gimana ya???). Bahkan saya salut banget, dia berani mengambil keputusan itu walaupun ada yang pro-kontra. Berulang kali ditulis dalam buku itu bahwa ia sangat menghargai perbedaan, dan betapa perbedaan itu terasa sangat indah baginya karena menjadikan hidup ini berwarna. Huaa, suka banget dengan sikapnya yang begitu bijak dan dewasa ^^
Life is Never Flat, tulisnya dalam buku itu, seperti yang ada di iklan snack favorit saya. Kisahnya benar-benar nyess banget buat saya. Dalam waktu beberapa bulan saja, mereka yang awalnya tidak saling mengenal, sekarang sudah menjadi pasangan yang sah secara hukum negara maupun agama. Tanpa pacaran. Bahkan, "nembak"nya pun langsung ke bunda si perempuan ini duluan, sebelum ngomong ke sasarannya.
Jadi inget ucapan dosen saya waktu itu, yang kira-kira bunyinya, "Jangan seneng kalo ada yang bilang 'Aku cinta kamu'. Minta buktinya: berani nggak dia ngelamar?"

Untuk teman TPA-ku, Annida Putriga (yang entah masih kenal saya atau nggak, hehe), selamat menempuh hidup baru yang akan tetap nggak flat ini ya! Semoga keluarga baru kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Aamiin.
.
.
.
N.B.: Gue kapan, ya? :p

Selasa, 20 Maret 2012

rindu pelangi

Aku lupa hari apa. Saat itu aku sedang agak terburu-buru setelah membeli buku faal di daerah barel. Aku melihatmu, Mr. Rainbow, entah sedang apa bersama salah seorang teman lelakimu.
Kita mengenakan baju berwarna sama! Merah. Warnamu. Warna kesukaanku. Entah mengapa aku langsung tersenyum sendiri saat menyadarinya, setelah kau hilang dari pandangan beberapa detik sebelumnya.
Hanya beberapa detik, memang. Tapi aku menghembuskan napas serupa kelegaan saja. Akhirnya aku bisa melihatmu setelah berbulan-bulan berada di kampus yang sama.

Langit terik sore itu. Matamu semakin serupa garis saja.

P.S.: Aku masih ingat sifatmu yang agak mudah bangga. Jangan senang karena aku hanya merindukanmu sebagai pelangiku. Hanya itu. 

Kebablasan

Entahlah. Saya bingung dengan apa yang terjadi pada diri saya belakangan ini. Kurang konsentrasi, mungkin?
Bayangkan saja, hari Jumat (16 Maret 2012) saya mau ke sebuah tempat edit video di deket sebuah universitas swasta di daerah Kelapa Dua. Saya naik angkot 112 jurusan Depok-Kp Rambutan, dari kampus saya sekitar abis maghrib. Nah, berhubung saya tidak tahu letak persisnya kampus yang jadi patokan itu, saya bertanya pada teman saya. Tapi, sayangnya jawaban darinya tidak membuat saya cukup mengerti. Alhasil, saya kebablasan. Kesalahan fatal saya, saya nggak tanya sama orang lain. Saya nggak tanya supir angkotnya, saya nggak tanya penumpang lain juga. Barulah, setelah angkot yang saya tumpangi sudah memasuki Jalan Raya Bogor, saya baru menyadari, kok kayaknya jauh banget ya? dan saya bertanya pada seorang ibu di sebelah saya.
"Oh, itu mah udah kelewatan neng. Jauuuh.. Neng turun aja di sini, trus naik angkot kayak ini lagi dari seberang."
Finally, ongkos yang mungkin seharusnya hanya 2000 atau 3000 jadi 6000 karena harus naik 2 angkot bolak-balik. -___-"
Besoknya, saya lagi-lagi "kebablasan". Ketika mau ke rumah salah satu senior saya di daerah Jagakarsa, daerah yang asing banget buat saya, saya naik berbagai angkot sebelum mendapatkan angkot yang benar. Saya dari Pasar Minggu naik angkot ke jurusan Depok, turun di stasiun Tanjung Barat, naik Kopaja 616 turun di ujungnya, jalan sampai ujung jalan M. Kahfi dan naik angkot 20. Padahal, angkot 20 itu bisa saya naiki dari Pasar Minggu (gubrak!!) tapi karena saya nggak ngerti rute angkot dan malas bertanya (bukan malu), jadilah saya berkeliling kota dulu hahaha.
Tapi, kisah "kebablasan" itu belum dimulai. Saat saya naik angkot 20, saya berpesan pada si supir angkot agar berhenti di Jalan yang menuju rumah senior saya. Si supir mengiyakan, dan saya percaya padanya. Sampai akhirnya saya sms teman saya dan melaporkan posisi saya saat itu (setelah lama di angkot tersebut) bahwa saya berada di depan sebuah panti asuhan besar. Teman saya membalas, "turun". Singkat, dan membuat saya bingung. Si supir angkot masih tampak tenang-tenang saja, seolah tujuan saya masih jauh. Saya kemudian menelepon teman saya, dan dia bilang seharusnya saya turun di depan panti tadi. Saya pun bertanya pada si supir.
"Oh iya, Mbak. Saya lupa!"
Walhasil, saya berjalan kaki dari tempat si supir menurunkan saya dengan seenaknya :'( menuju rumah senior saya, karena uang saya habis, Saudara-saudara!! Miris.. Untung saya secara kebetulan meng-sms teman saya tidak jauh setelah melewati panti, kalau tidak, mungkin saya sampai di Pasar Minggu lagi! Meskipun saya harus jalan kaki lumayan (bacanya dengan nada tertentu hehe) jauh, sih.
Eeeh, hari Seninnya (19 Maret 2012), saya "kebablasan" LAGI! Kali ini bodohnya saya kebablasan di kampus sendiri. Saya naik bis kampus dari depan fakultas saya. Bermaksud untuk kembali ke kosan, saya baru sadar bahwa saya sudah sampai di tujuan ketika bis sudah melalui tulisan "Gymnasium" yang artinya sudah terlewaat... hiks hiks hiks :'(
Untung bis kampus gratis, jadi saya turun di halte lain dan naik bis kampus lagi ke halte tujuan saya.

Apa yang salah denganku??

Minggu, 18 Maret 2012

PHP

Maksud hati ingin segera off internetan dan segera tidur, tetapi sapaan seorang kawan membatalkan niat saya. Malam ini dia curhat lagi, seperti biasa.
Lagi-lagi topik yang umum diceritakannya dan teman-teman saya yang lain. Cinta. Ya, apalagi yang lebih diminati orang-orang seusia saya? Kadang kala, kalau saya sudah mulai bosan dan lelah, saya mendesah dalam hati seraya bergumam sendiri, "Nggak salah apa, lo milih untuk curhat ke gue? Bahkan jam terbang lo udah juauuh di atas gue untuk masalah ginian."
PHP, alias pemberi harapan palsu, banyak dari mereka yang curhat ke saya mengecap orang-orang yang dicurhatin ke saya itu dengan sebutan demikian. Sikap yang sangat perhatian, sinyal-sinyal positif, tanggapan yang baik, dan sebagainya, memang mudah sekali membuat orang berharap. Sayangnya, ternyata harapan itu palsu. Akhirnya, orang yang sudah terlanjur berharap tadi jadi keki sendiri.
Mungkin karena terlalu sering mendengar kasus-kasus PHP ini, saya jadi mengalami learned hopelessness. Saya "belajar" untuk putus asa. Demi menghindari harapan-harapan palsu, saya memilih tidak berharap sama sekali. Entahlah, sesuatu yang biasa dianggap kebanyakan orang itu sebagai harapan, saya enggan menganggapnya demikian. Sehingga dengan terpaksa saya menggeneralisasi "harapan-harapan" yang ada sebagai bukan harapan. Miris banget, ya, kayaknya? Hahaha. So far, saya belum merasakan dampak buruk dari perilaku saya ini. Secara, saya belum membutuhkannya. So, saya memilih untuk single but not available. Yaah, meskipun kakak saya seringkali sibuk sendiri. Mulai dari menceramahi, menasihati, menyindir, sampe mengomel sendiri dengan sikap saya yang seperti itu.
Ya sudah lah, jodoh gak kemana, kan?
Lagi-lagi kakak saya memprotes. "Tapi kan harus ikhtiar juga!" katanya.
Tapi kan saya belum berniat menikah dalam waktu dekat ini. Hehehe. :p

Sabtu, 10 Maret 2012

Aku Berhati Iblis !!

Senja hari di dalam bis kota, aku dan temanku, Fhia, baru saja pulang dari 11th Islamic Book Fair yang diadakan di Istora Senayan, Jakarta. Lima buku baru plus sebuah binder dan satu buku kuliah yang terbungkus dalam dua plastik kupangku di atas tas selempang biruku. Lelah menampakkan diri melalui helaan-helaan napas berat di balik masker penutup hidungku. Temanku sendiri kerap kali mengipas-ngipasi dirinya di sebelahku.
Hari yang melelahkan, namun juga menyenangkan. Setidaknya sampai sebelum orang itu menge-judge kami dengan kalimat yang menusuk telinga sampai menembus ke hati.
Seorang lelaki paruh baya dengan gitarnya mencari nafkah di dalam bis. Hal yang biasa. Uniknya, lelaki itu menyanyi dalam dua suara, yang satu suara aslinya yang dapat dibilang lumayan untuk ukuran telinga yang buta musik sepertiku, satu lagi dalam suara yang dibuat-buatnya hingga menyerupai suara Donald Bebek. Cukup menghibur. Tapi apa daya, aku yang ingin memberinya uang tidak memiliki uang receh. Satu-satunya uang yang tersisa adalah selembar lima ribuan lecek. Tak enak rasanya bila aku meminta uang kembalian darinya. Fhia sendiri sudah menyiapkan uang dalam genggamannya, namun entah mengapa (mungkin belum rezeki) uang itu terjatuh di lantai bus, yang akan sangat merepotkan bila kami keukeuh mencarinya dalam kondisi bus yang sempit.
Lelaki itu berekspresi jenaka, aku suka melihatnya. Sepertinya ia ramah. Maka, saat ia mulai meminta uang dan melempar senyumnya ke setiap orang yang memasukkan uang dalam wadah yang disediakannya, aku berdoa dalam hati agar ia mendapat banyak uang (aku tak bisa memberinya uang, oleh karena itu aku mendoakannya saja).
Tapi ternyata ia tak sesopan yang kupikir.
Saat menyodorkan wadah uangnya padaku dan Fhia, kami mengangguk sebagai tanda maaf karena tak bisa memberinya uang. Kupikir ia akan berlalu begitu saja. Sayangnya tidak.
"Tampangnya suci, hatinya iblis" desisnya sebelum beranjak pada orang di belakang kami.
Aku dan Fhia sontak saling pandang.

Aku... berhati iblis? Astaghfirullah..

Sabtu, 29 Oktober 2011

bagaimana

jika kubisikkan
resah ini pada daun-daun basah
akankah hati ini tak lagi lelah?

jika kukatakan
gamang ini pada air yang tenang
bisakah ia buatku senang?

tapi

jika kuceritakan
dingin ini pada sosok dalam cermin
mampukah ia tak retak karena kutularkan sesak?

Kamis, 08 September 2011

24 jam on the road

Perjalanan mudik tahun ini gue jalani selama 24 jam (bukan balik lho, baliknya sih 31 jam!! parraaah). Terhitung berangkat sekitar pukul 01.00 dini hari tanggal 26 Agustus 2011 dari Bekasi dan tiba di Wonotoro, Girisubo, Gunung Kidul, DIY kurang lebih di jam yang sama satu hari setelahnya. Alhamdulillah kami (gue beserta keluarga cukup besar gue) tiba dengan selamat tanpa mengalami kecelakaan lalu lintas dan tanpa melihat kecelakaan yang parah (liat beberapa motor tergelincir sih, tapi alhamdulillah gak kenapa-kenapa).

Waktu 24 jam itu emang terbilang cukup lama, secara paling nggak kalo normalnya sekitar 12 jam-an, dan penyebabnya kayanya mudah ditebak deh. Yap, macet lagi macet lagi... Bayangin aja, dari Bekasi nyampe Indramayu 10 jam!! Yaelaah, Bekasi-Indramayu berapa jauh sih? Tapi ya sudahlah. Singkat cerita gue dan rombongan mampir dulu di rumah salah satu kawan lama bokap gue di Indramayu buat ngerampok (?) mangga. Hehehe. Nggak lama sih, padahal anaknya ganteng (sst! Jangan bilang-bilang ama bokap gue, ntar gue jadi Siti Nurbaya hahaha kidding). 

Lanjuuut, kami pun menempuh entah berapa kilo jalanan yang padat. Akhirnya tibalah saat berbuka puasa. Kami berbuka di salah satu rumah makan, warung makan, atau restoran (terserah Anda menyebutnya apa, menurut saya sih sama saja) yang dari jarak berkilo-kilo meter sudah pasang iklan setiap sekitar 100 meteran. Mulai dari nyebutin menunya satu-satu, sampe promosi sulap, air bersih, hot spot, ulang tahun, bla bla bla (kalo yang biasa mudik tahu nih hahaha). Kebetulan banget akhir bulan Agustus kakak gue ulang tahun, dan bokap gue ulang tahun di bulan sebelumnya. Jadi mereka diminta tiup lilin dari lilin kecil dalam gelas (bukan lilin di atas kue :( ) sambil difoto, lalu foto sekeluarga, lalu dikasih hadiah berupa cake kecil mungil yang unyuuu banget (warna pink) hehehe. Oia, sodara gue beli mainan sulap-sulapan gitu seharga 60ribu. Waktu emak gue liat, dengan shocked emak gue bilang kalo beliau pernah liat mainan kaya gitu dijual di bis seharga 2 ribu rupiah!! Bayangkan, dari 2000 jadi 60000 saudara-saudara!! Harusnya dapet 30 biji tuh!!! Setelah kami mengurut dada atas insiden jual beli yang sangat menyayangkan itu, emak gue nambahin, kalo beliau juga pernah liat di bis ada yang jual buku sulap gitu. Pertamanya kosong, lalu abis ditepuk satu kali jadi ada gambarnya hitam putih gitu, trus abis itu ditepuk lagi dua kali jadi gambar berwarna. Emak gue dulu pengen beli tuh buku seharga goceng alias 5000 rupiah, tapi mengingat anak-anaknya udah pada gede dan tidak berminat dengan dunia sulap-sulapan, jadilah emak gue mengurungkan niatnya. Eeeh, tak ku sangka tak kuduga. beberapa saat setelah emak gue menyudahi ceritanya, datanglah mbak-mbak pelayan yang nawarin sulap. Kali itu si mbak membawa buku sulap. Dan kalian tahu buku apa itu? Yap, buku yang NYARIS sama persis kaya yang emak gue barusan ceritain. Hanya ada dua perbedaannya, yang pertama yaitu sampul alias cover bukunya, karena si mbak membawa buku yang ada nama resto tsb, lalu perbedaan yang kedua adalah cara si mbak memainkannya adalah ditiup, bukan ditepuk. Hasilnya? Sama persis sis sis!!
Si mbak melanjutkan promosinya sambil berujar, "Kalo mau tau rahasianya, bisa beli buku ini di sana (menunjuk tempat si sodara gue beli mainan sulap yang tadi). harganya 80ribu rupiah."
What??? Di bis goceng, di sini 80 ribu???!!! Gue langsung ngakak, dan si mbak hanya menatap gue penuh tanda tanya. Hahahahha.
Setelah menunaikan solat, gue nyempetin foto sebentar di magic box, itu lho yang cuma keliatan kepalanya doang. Abis itu perjalanan pun berlanjuuut...

Sampe di Piyungan, kami berhenti di sebuah warung angkringan. Tahu? Itu lho, warung makan (ga jauh beda lah ama yang tadi hahahaha) cuma bedanya lebih sempit dan lebih temaram alias remang-remang. Menu terkenalnya adalah "nasi kucing". Bukannya nasi trus lauknya kucing lho (gile aje, siapa yang mau coba?) melainkan nasi seporsi makan kucing, atau kalo yang pernah gue liat dari komen di fb orang itu nasi seporsi orang minta, atau bahasa yang lebih rumitnya adalah porsinya dikiiiiit banget (ngga juga sih sebenernya, gue sebungkus cukup kok [ya iyalah kan tadi abis makan])

Singkat cerita, gue sampe malem kan, dan tidak butuh waktu lama untuk segera zzzzzzzzzzzzzzzz.

Minggu, 27 Maret 2011

Hei, Mr Rainbow! (again)

Setelah saya baca-baca ulang postingan-postingan saya yang dulu-dulu (aduh, banyak banget sih kata ulangnya. hehe), saya jadi inget lagi dengan si Mr Rainbow.

Mr. Rainbow, saya rasa saya sedang butuh Anda saat ini. Maaf karena di awal perjumpaan kita lagi ini, saya cenderung menjauh dari Anda, sepertinya saat itu saya terlalu sombong untuk mengakui pada diri saya sendiri bahwa saya, well, bisa dibilang "kangen" padamu, temanku (atau saya terlalu takut bidadarimu cemburu? Sungguh, aku tak pernah ingin menyakiti siapapun, apalagi bidadari pelangiku). Sampai akhirnya hujan itu kembali tiba, dan saya kembali basah kuyup dan kedinginan. Sekarang saya hanya bisa menatap pelangi itu dan berharap ia menghampiriku untuk mengakhiri hujan dan mengantarku pada sinar mentari lagi.

Mr. Rainbow, do you mind to be my "rainbow" again?