Selasa, 02 Januari 2018

Bismillah

Sudah hampir setahun sejak terakhir kali aku posting di blog ini! Hahaha.. Kalau diibaratkan rumah, blog ini pasti sudah terlihat horor sekali. Penuh debu, sarang laba-laba, dinding yang catnya telah mengelupas, atau bahkan kaca jendela yang pecah karena maling mencoba mencari peruntungan dari sisa-sisa barang yang mungkin ada. (Trus jadi bayangin hahahaha)

Kamu pernah menghadapi situasi dimana sesungguhnya kamu (mungkin) rindu, tapi kamu terlalu malu atau takut untuk bertemu? Ah, apa rindu sepengecut itu? Entahlah, bagiku dunia literasi seperti itu. Jauh di dalam hatiku, aku semacam merasa iri pada diriku yang dulu, yang banyak membaca tanpa ragu. Setiap kali pulang membeli buku, langsung aku lahap sampai habis. Bahkan tak jarang dalam perjalanan pulang sudah kusobek plastik pembungkusnya karena tak sabar mengintip apa isinya. Berada dalam perpustakaan pun menjadi hal yang paling membahagiakan. Menghirup aroma buku-buku yang berjajar rapi bisa menjadi hal yang menenangkan bagiku. 

Menulis pun menjadi candu bagiku. Aku memang belum pernah menerbitkannya. Jangankan diterbitkan, mengirim ke penerbit saja tak pernah. Ah, bahkan bisa dibilang aku tidak pernah menyelesaikan tulisanku! Hahaha. Aku hanya suka menulis apa yang aku pikirkan saat itu. Jadi, setiap kali memikirkan hal yang lain, ya aku tinggal tulisan yang lama untuk menuliskan hal yang baru. Selalu seperti itu. Aku menulis hanya untuk bersenang-senang. Aku menulis apa yang aku sukai.

Ah, entah sejak kapan aku mulai meninggalkan dua hal yang sangat kusukai dulu itu. Aku sok sibuk dengan berbagai hal baru. Kini, untuk memulai kembali, rasanya sangat canggung. Bukan berarti aku tak pernah membaca, tentu. Hahaha. Hanya saja aku melakukannya sekarang benar-benar karena ada tujuannya. Untuk ujian lah, untuk bahan diskusi, dan sebagainya. Aku tidak membaca hanya karena aku ingin lagi. Aku bahkan seringkali takut memulai membaca hanya karena aku takut jika aku tak sempat merampungkannya, aku akan sedih :(

Jumat, 20 Januari 2017

Dimana Aku menjadi Aku






Berbeda dengan dua hari sebelumnya, ketika aku membaca pertanyaan #VoluntripChallenge #SepekanBercerita #Day3 ini dahiku berkerut. Dimana aku bisa menjadi diriku sendiri? 


Setelah mengerutkan kening, jujur saja yang terlontar di benakku adalah pertanyaan, bukannya jawaban. Memangnya diri sendiri itu yang seperti apa, ya?
 

Pertanyaan ini mengantarkanku pada sebuah percakapan sok filosofis dengan salah satu rekanku beberapa hari sebelumnya. Meski kami berbeda sudut pandang, kami sama-sama suka mempertanyakan diri ini. Mungkin juga bedanya adalah, dia merasa belum menemukan jawaban final, sedangkan aku merasa sudah menemukan jawaban sementara. Hehehe. Apa bedanya? Ya pokoknya beda.

Aku menerima dan mengakui bahwa pemahamanku dapat berubah kapanpun, seiring dengan pengalaman baru yang kualami dalam hidup. Tapi aku tidak hendak membahas mengenai pemikiran sok filosofisku sekarang, karena selain waktuku terbatas (FYI aku hanya bisa membuka blog di kantor setelah selesai mengerjakan tugas), aku tidak yakin dapat mengungkapkannya dengan jelas tanpa muter-muter bin ngawang

Singkatnya, yang aku pahami saat ini mengenai diriku adalah bahwa aku memiliki banyak peran dalam hidup. Aku sebagai anak, sebagai adik, sebagai pekerja, relawan, teman, tetangga, gadis Jawa, warga Indonesia, dan sebagainya, dan sebagainya. Kesemua peranku itu tentunya memiliki semacam 'aturan main' yang membuat wajahku bervariasi. Tata bahasaku ke teman mungkin tidak kupakai saat berbicara dengan orang tua murid privatku. Caraku tertawa di depanmu bisa jadi lain dengan senyum malu-malu meong di hadapan si dia. Tapi, aku sendiri tidak tahu tata bahasa seperti apa, gaya tertawa yang bagaimana, yang menunjukkan bahwa aku dalam keadaan yang aku banget. Bahkan terkadang ketika berada di tempat dan dengan orang-orang yang sama, aku bisa menjadi berbeda. Terkadang aku menjadi anak baik yang membuat mamaku sayang banget sampai mau menyisiri dan menguncir rambutku tanpa kuminta. Kadang pula aku menjadi anak bandel yang membuat mamaku sengaja membuat kegaduhan hanya agar aku bangun. Seringkali aku bersenandung seperti Cinderella sambil mencuci piring, tapi tak jarang pula aku melakukannya sambil ngedumel. Lalu, aku yang diriku sendiri itu yang seperti apa ya?

Kembali lagi ke pemahamanku mengenai diri, sejauh ini yang aku yakini tentang diri ini adalah kendati aku memiliki banyak peran, ada satu yang menjadi core-nya. Wajah dasar yang tanpa riasan apapun. Identitas yang tanpanya, peran-peranku yang lain tak akan ada.

Jawabannya mungkin terkesan agak serius. Aku menganggap bahwa statusku sebagai makhluk Allah adalah inti keberadaanku. Tanpa menjadi makhluk Allah, aku bahkan tidak ada di dunia ini, kan? Hihihi. Itulah yang menurutku menjadi inti dari keberadaanku. Status-status atau peran-peranku lainnya, tentu saja (harus) mengikutinya. Sebagai anak, aku harusnya menjadi anak yang sholehah, sebagai teman, harusnya aku menjadi teman yang saling mengingatkan dalam kebaikan #halah. Ya pokoknya kurang lebih  begitu lah pemahamanku mengenai diri. Meski aku pun sangat mengakui bahwa dalam menjalankan peran-peran tersebut, aku masih sangat jauh dari ideal, dalam artian sesuai dengan identitas utamaku itu.

Oke, rasanya cukup ya pemaparanku mengenai diri. Panjang, mbleber, dan tidak menjawab ya, hahaha. Mari kita kembali lagi ke pertanyaan ka Ombi yang super berat itu (dan membuatku jadi berpikir berat dan menulis agak berat). Untuk pertanyaan itu, aku merasa mendapat jawaban sore hari kemarin (tepat di hari pertanyaan ini diajukan oleh ka Ombi), yakni ketika aku menghadiri sebuah acara dari NGO terkemuka negeri ini yang sedang meluncurkan produk penelitiannya berupa peta kemiskinan. Selama acara berlangsung, aku hampir tidak kehilangan fokus. Aku bahkan sama sekali tidak mengantuk, meski pemaparan para pembicaranya cukup serius (baca: agak berat), waktunya siang hari setelah makan siang pula. Terlebih lagi, entah mengapa aku semacam merasa excited di dalamnya meski hanya menjadi penonton. Di tengah puluhan orang yang tak ku kenal itu, aku seperti merasa memiliki koneksi dengan atmosfer tema acaranya, merasa terhubung dengan pembahasannya, merasa se-visi dengan mereka, orang-orang yang peduli terhadap isu yang juga kupedulikan.

Maka, kendati tanpa berinteraksi banyak (karena acara itu didominasi interaksi satu arah, meski aku sempat bertanya dan dijawab oleh pembicaranya juga), aku merasa bahwa di tengah lingkungan seperti itulah aku menjadi diriku sendiri. Aku seperti bisa memeluk diriku sendiri saat itu, ketika setiap apa yang kudengar, kupikirkan, terhubung dengan perasaan bahwa untuk itulah aku diciptakan.

Hal itu juga kurasakan saat berdiskusi dengan mama, khususnya ketika membahas tentang hidup. Mama adalah salah satu orang yang dengannya aku merasa nyambung ketika mendiskusikan hal-hal mendasar dalam hidup. Hal-hal yang memunculkan kembali wajah asliku yang seringkali terhiasi topeng-topeng aturan main.

Perasaan itu juga kurasakan ketika bersama teman-teman relawan, yang meski dengan berbagai dinamika yang ada, kita tetap memiliki keterhubungan. Kita sama-sama peduli pada orang lain, pada lingkungan, pada makhluk-makhluk ciptaan Allah.


Maka, sudikah kamu menjadikan rumah kita sebagai tempat dimana aku menjadi diri sendiri?

Bagaimana Cara BANGKIT dari Kegagalan/Kekecewaan?

Tulisan ini tetap kuposting kendati aku telah menjawab tantangan di hari kedua melalui instagram. Mungkin kamu jadi akan sedikit lebih tahu tentang masa laluku hihi.
Peringatan : Tulisan ini cukup panjang dan penuh drama. Hahaha

---

Di hari kedua #VoluntripChallenge untuk #SepekanBercerita ini, pertanyaan yang diajukan Ka Ombi makin serius saja. Kata 'bangkit' pun diketik dengan capslock semua. Bahkan di-underline dengan garis tebal (yang entah kenapa) berwarna pink. Ngeri. Hahaha

Pertanyaan diawali dengan pertanyaan-pertanyaan pembuka : Pernah Kecewa? Pernah Gagal? Pernah terhianati? Pernah ada pada posisi benar-benar tak termotivasi?


Lagi-lagi, respon pertamaku adalah senyum. Senyum dengan tampang agak-agak bego, karena sambil berpikir. Hahaha. Sambil berjalan ke kantor, aku memikirkan cerita apa yang akan aku bagikan hari ini.

Sejauh ingatanku, aku sangat jarang merasa kecewa mendalam terhadap suatu hal karena (sepertinya) aku orangnya susah berharap. Mungkinkah karena kultur Jawa yang terkenal dengan ke-nrimo-annya itu mengalir dalam darahku? Entahlah, tapi kupikir sedikit banyak aku terpengaruh oleh 'ajaran' mamaku untuk senantiasa bersabar.. Mohon bersabar, ini ujian.. 

Sebenarnya, kalau kecewa-kecewa kecil seperti ditinggal kereta yang berangkat tepat di depan mata, bahkan ditinggal nikah oleh gebetan yang bahkan tidak tahu kalau aku ada (bacanya biasa saja ya, iyaa itu kecewa kecil saja, kok), aku tentu pernah mengalaminya. 

Kegagalan-kegagalan (yang menurutku juga biasa-biasa saja) juga seringkali kutemui. Gagal menurunkan berat badan? Sampai sekarang, hahaha. Tidak pernah terpilih menjadi petugas upacara sejak TK karena kurang tinggi? Tidak lolos seleksi menjadi pemain drum band (ekskul yang ngehitz saat aku SMP)? Tidak lolos seleksi olimpiade bahkan pada tahap paling awal (internal sekolah)? Tidak jadi lulus kuliah dalam waktu 3,5 tahun? Tidak kunjung dipanggil untuk interview setelah puluhan lamaran pekerjaan sudah kukirim? Tidak lolos seleksi pekerjaan bahkan ketika sudah di tahap paling akhir? Hanya bisa turut berbahagia (serius, bahagianya beneran) melihat keberhasilan teman-teman dekatku (ada yang sudah menerbitkan buku, ada yang menjadi mahasiswa berprestasi, ada yang dapat beasiswa, bahkan juga tidak sedikit yang sudah menikah)? Aku pernah. Mungkin terlalu sering sampai aku lupa berapa banyak 'kegagalan'ku. Tapi ya sudah, hidupku tidak luluh lantak juga, kan? Jadi, rasanya tidak usah ya aku ceritakan. Rasanya bukan hal yang amazing saja untuk bisa melalui hal-hal yang biasa seperti itu. 

Oke, oke, kalau kamu masih penasaran caranya. Sederhananya, aku orang yang memiliki kecenderungan pada internal locus of control. Kurang lebih artinya memandang keberhasilan/kegagalan adalah karena diri sendiri (kalau definisi versiku sendiri, tentu aku melibatkan Allah di dalamnya). Jadi, ketika menyaksikan keberhasilan orang lain dan aku hanya di bangku penonton, aku sadar betul bahwa Allah tidak memberikannya padaku karena aku tidak cukup pantas mendapatkannya. Usahaku masih jauh dari cukup. Ketika gebetan-ku menyebarkan undangan pernikahannya, aku juga kemudian menyadari bahwa kami memang tidak berjodoh.

Sederhana, bukan?

Tapi, kalau kamu mau salah satu contoh kepedihan dramatis yang kualami dan bagaimana aku melaluinya, boleh lah kupilihkan satu cerita hidupku. Hihihi.

Ada satu hal yang cukup membuatku menangis tersedu-sedu beberapa bulan lalu. Kekecewaan ini cukup mendalam buatku, karena cukup memporak-porandakan kepingan-kepingan hidup yang sedang aku susun (lebaaay hahahaha). 

Ini tentang karir. Aku memahami karir berbeda dengan pekerjaan (job). Sederhananya, karir lebih bersifat jangka panjang, sedangkan pekerjaan sebaliknya. Berdasarkan hasil browsing ketika aku membuat tulisan ini, perbedaan keduanya adalah seperti ini: A job can be just going to work to earn a paycheck. A career is a journey that includes all your jobs, experiences, and training in the same field or career cluster (MyMnCareers, n.d.). Jadi, bisa dibilang bahwa aku meyakini bahwa pekerjaanku adalah bagian dari upayaku membangun karir. Sama persis dengan perumpamaan yang disebutkan di web tersebut : If life were a video game, a job would be just one level. Having a career means that you are committed to playing the game to get better over time and advance to higher levels.

Jadi, kenapa aku menangis?
Aku menangis karena anak tangga pertamaku terpaksa kutinggalkan lebih cepat dari yang aku rencanakan. 

Tenang, aku tidak dipecat, kok. Hehehe. Alhamdulillah atasanku sebenarnya justru menyayangkan pengunduran diriku, meski beliau tidak bisa menahanku lebih lama.

I decided to resign from my first job because my parents told me to do so.


Tragis ya sepertinya. Seolah-olah orang tuaku sebelas-dua belas dengan orang tuanya Siti Nurbaya. Bedanya, Siti Nurbaya dipaksa menikah, aku dipaksa berpisah (dari pekerjaanku). Aku tidak tahu bagaimana reaksi Siti Nurbaya menanggapinya, yang jelas saat itu aku menangis sesenggukan.

Benar-benar tersedu.

Entah berapa kali aku ber-istikhoroh, bertanya kesana-sini, membuat coret-coretan tentang plus minus-nya jika aku resign dan jika tidak, kemudian menangis lagi saat kebingungan.

Pada awalnya, aku lebih banyak merasa kesal. Berbagai pikiran buruk hilir mudik di kepalaku, dan (jahatnya) itu tentang orang tuaku sendiri. Aku kecewa karena papaku sangat menunjukkan bahwa beliau tidak suka aku bekerja seperti itu pada saat itu. Bahkan kudengar beberapa kali papa bilang ke orang yang menanyakan aktivitasku bahwa aku belum bekerja!! Hey!! Tahu rasanya bagaimana? Sakitnya tuh di sini..

Padahal aku tahu dalam hatinya beliau mengakui bahwa pekerjaan seperti yang kulakukan saat itu adalah pekerjaan mulia..

Aku sempat kecewa habis-habisan pada beliau.

Beberapa waktu berlalu, aku merasa Allah menjawab doaku. Aku memang meminta yang terbaik, bukan meminta untuk bisa bertahan di pekerjaan itu. Perlahan-lahan aku mulai merasa tidak nyaman, lelah, seperti ada yang kurang tepat..

Aku pun sampai pada pemahaman bahwa yang baik belum tentu tepat. Aku tahu pekerjaan yang kulakukan baik. Tapi mungkin kurang tepat untukku saat itu. Aku terlalu terpaku pada rute hidup yang kususun, tanpa menyadari bahwa sesungguhnya aku hanyalah makhluk yang tidak tahu apa-apa.

Banyak jalan menuju Roma, bukan?

Seperti ketika aku ingin mem-posting tulisan ini di hari yang tepat namun ternyata tak bisa, karena blog-ku tidak bisa dibuka di rumah. I've tried, even several ways, to do that.

Tapi toh ada hal-hal yang berada di luar kapasitasku. Mungkin di situ lah aku (sebagai orang yang memiliki kecenderungan internal locus of control tadi) diuji.

Jadi, yang kulakukan adalah mencari rute baru. Rute yang mungkin sangat berbeda dengan rute yang kurencanakan semula. Bisa jadi itu cara Allah menuntunku, kan?

Maka, sungguh benar apa yang dikatakan oleh MC kondangan yang suaranya viral itu:

Mohon bersabar.. :)


P.S. : Aku pernah membuat sebuah rekaman curhat di akun soundcloud-ku tentang "Yang Baik Belum Tentu Tepat" itu. Monggo kalau mau dengar di 13amelya :D hehe. Peringatan: kamu bisa saja bosan mendengarnya.

Selasa, 17 Januari 2017

Apa yang Kamu Pikirkan Hari Ini?

Jujur saja, aku tersenyum ketika membaca pertanyaan itu. Seperti yang ada di kolom status facebook bukan, sih? Maklum, sudah lama aku tidak menggunakan media sosial itu. Aku hanya sesekali saja membukanya jika ada link yang aku tuju mengarah ke sana. Kalau diingat-ingat, sudah lama pula aku tidak meng-update status di facebook. Lebih pengen update status di KTP sih wkwkwk. 


Bicara soal status, aku jadi teringat sesuatu. Kalau kamu berusia sebaya denganku, sepertinya kamu akan tahu pembicaraanku mengarah kemana, hahaha. Jadi aku tak usah muter-muter ya menjelaskannya >,<

Pernikahan. Itu adalah salah satu yang seringkali muncul di lingkungan pergaulanku beberapa bulan (atau tahun?) ini. Prosesi yang sebenarnya singkat saja, tapi sangat mengubah status, bahkan juga hidupmu. Dari yang semula anak gadis, menjadi istri orang. Semula dikasih uang jajan oleh orang tua (malu meeel masih suka minta jajan sama ortu -_-), jadi dijajanin sama orang. Semula berbaktinya sama orang tua yang sudah merawat sejak masih di kandungan, jadi membaktikan diri pada... orang yang baru kenal berapa lama?

Senantiasa dikelilingi topik tersebut, aku jadi ikut-ikutan memikirkannya #alasan. Tapi sejujurnya aku juga bingung sih apa yang mau dipikirkan mengenai ini wkwkwk. Baru tadi pagi saat di kereta aku iseng browsing soal persiapan pernikahan. Kuakui aku masih merasa malu untuk mengikuti kajian-kajian yang membahas soal ini. Jadi, aku baca saja blog-blog orang yang membahasnya.

Berdasarkan beberapa tulisan yang aku baca, serta hasil mengingat wejangan dari salah satu rekan yang sudah menikah, salah satu yang penting untuk aku pikirkan adalah tujuan menikah.

Untuk apa aku menikah?

Jadi, sepertinya mulai hari ini aku akan memikirkan itu. Kalau di skripsi, itu sih masih di bab satu ya, hihihi.


P.S. : Tulisan ini adalah jawaban dari #VoluntripChallenge #SepekanBercerita yang dilontarkan oleh  Kak Ombi

Selasa, 21 April 2015

Galon atau Nostalgia Semata?

Apakah musim hujan benar-benar sudah berlalu?
Lalu, mengapa kau masih menjelma tetesan gerimis yang kerap menggangguku
Juga mewujud awan mendung yang membuatku termangu

Saat itu, bukankah sudah benar-benar kuhanyutkan dirimu?

Sabtu, 14 Februari 2015

Hujan season 2

Lebih dari setahun lalu
Hujan mengurungmu di dekatku
sekaligus melepasmu dari hatiku

Kini
Ada gerimis yang menyerupai
Tapi aku tak peduli lagi

Selasa, 21 Oktober 2014

Siapa itu Sahabat?

[Saat mengubrek-ubrek draft, aku menemukan ini. Sudah lama sekali aku menulisnya, tapi kenapa dulu belum langsung ku posting ya? Hehe]


Sehabis baca note-nya bang Tere Liye, saya jadi teringat pada sahabat-sahabat saya. Setuju sekali saya pada apa yang ditulis pada catatan tersebut.


Pun saya jadi terngiang ucapan salah satu rekan saya beberapa bulan lalu. Ia mengatakan bahwa ia merasa tidak memiliki sahabat. Sahabat, baginya, terlalu istimewa hingga sulit rasanya menempelkan predikat itu pada satu orang pun.

Saya tidak mengatakan bahwa saya tidak pernah merasakan hal yang sama dengannya. Sahabat, pun bagi saya, adalah orang-orang yang istimewa. Lebih dari sekadar teman mengobrol, teman bekerja, apalagi teman satu golongan saja. Hanya saja, sekarang saya dengan berani mengatakan bahwa saya memiliki sahabat, bahkan banyak. Kenapa? Entahlah, yang jelas saya berpikir bukan saya yang menurunkan "standar sahabat" saya sehingga banyak yang "lolos kualifikasi", melainkan karena mereka, sahabat-sahabat saya, adalah orang-orang yang sangat baik dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dan saya sungguh menghargai dan menghormati mereka sehingga titel "sahabat" itu saya lekatkan pada mereka. Dengan kata lain, bukan saya yang mengobral gelar itu, melainkan mereka memang pantas mendapatkannya.

Memang, bagaimana kriteria sahabat menurut saya?

Saya tidak bisa mengatakannya, karena itu urusan hati *tsaah :p*, tapi yang jelas, yang sejauh ini saya pahami (mungkin kelak akan ada pemahaman lain bagi saya), ketika kami sudah lama berpisah, sudah lama tidak berkomunikasi, sudah lama tidak terhubung secara fisik, hati kami tidak pernah berpisah, tidak pernah berhenti menjalin komunikasi, tidak pernah terputus. Bagaimana mengetahuinya? Mudah saja, saya tidak pernah merasa jauh dari mereka. Sehingga, ketika kami benar-benar bertemu, obrolan kami mengalir seolah tanpa ada jeda sebelumnya.

Maka, kelekatan terhadap sahabat bukanlah pada tataran fisik, misalnya kemana pun selalu bersama seperti kembar siam. Bukan, bukan itu yang saya maksud. Kelekatan itu ada di hati.

Ya, sejauh ini baru itu yang saya pahami. Mungkin sebenarnya ada hal-hal lain yang menjadikan mereka begitu berharganya bagi saya hingga saya sebut mereka sebagai sahabat.

Senin, 20 Oktober 2014

mencari kesalahan

aku masih melacak jejakmu yang terserak
bukan tuk pastikan kau lah yang layak
karena aku justru khawatir
jika tak kutemukan bukti tuk buatmu menyingkir

Minggu, 19 Oktober 2014

kujawab saja entah

apakah jiwa kita tertukar?
karena kutemukan kata-kataku dalam tulisanmu

apakah kita kembar?
karena kudengar lagu yang sama dengan lagu yang kau tulis dulu

apakah kau pencuri, atau aku yang telah kehilangan?

atau

apakah kau dan aku sebenarnya satu?

Senin, 01 September 2014

Why do I go?

Tulisan ini sebenarnya sudah lama saya buat, tapi baru sempat saya posting sekarang hehe.

Postingan ini masih terkait dengan perjalanan saya dengan keluarga BPI 10 ke Buniayu. Di dalam goa minat khusus, selain berseru-seru ria, ada satu momen yang menarik buat saya. Ketika kami sedang beristirahat di tengah perjalanan, tepatnya di pinggir sungai bawah tanah, Bang Nur sebagai pemandu kami meminta kami untuk mematikan seluruh sumber cahaya, yakni senter dan headlamp. Keadaan sontak menjadi gulita. Pekat. Bang Nur kemudian berbicara tentang alam kubur. Saat itu kami mendengar debur air sungai yang terdengar syahdu, tetapi apa yang akan kita dengar saat di alam kubur? Saat itu kami masih bisa berpegangan pada teman di sebelah, bernapas dengan leluasa di dalam area yang cukup luas itu, tetapi apa yang kita alami di dalam ruang sekitar 2x1 meter seorang diri kelak?

Kisah Malam Pertama Di Alam Kubur
Ilustrasi alam kubur (gambar diambil dari sini)

Well, setelah melakukan sedikit perenungan tersebut, kami melanjutkan perjalanan (tentu dengan bantuan senter dan headlamp kembali, hehe). Kali ini, saya merenungi kembali perjalanan kami.

Ya, saya takjub dengan indahnya stalagtit dan stalagmit goa, tetapi lalu apa? Untuk apa sebenarnya saya melakukan perjalanan ini? Sekadar membuktikan bahwa saya 'keren' karena bisa menyusuri goa? Pembuktian pada siapa? Orang lain kah, atau justru pada diri saya sendiri? Tapi, lalu untuk apa pembuktian itu? Apa yang harus dibuktikan?
Sebenarnya, sampai sekarang saya pikir motivasi saya dalam melakukan perjalanan, baik ke gunung, ke pantai, ke laut, ke goa, atau bahkan ke kota-kota, adalah kesukaan saya. Saya melakukannya simply karena saya suka. 
Tapi, apa itu cukup? Apa itu bermanfaat? Apakah kesukaan, atau kesenangan, yang saya rasakan ini sebanding dengan uang yang saya habiskan, tenaga yang saya keluarkan, waktu yang saya gunakan, yang mungkin bisa saya gunakan untuk hal-hal lainnya? Apakah kesenangan keluarga saya ketika saya berada di tengah-tengah mereka pantas saya korbankan untuk kesenangan pribadi saya itu?

Apakah kesenangan saya ini juga dapat membuat saya senang nanti, di alam setelah dunia ini?

Saya tidak tahu, sungguh. Bahkan sampai saat ini, saya masih melakukannya tanpa mampu menjawab pertanyaan yang saya ajukan sendiri di atas.



Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
1. Karena kesenangan orang – orang Quraisy.
2. (yaitu) kesenangan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas,
3. Maka hendaklah mereka menyembah Rabb Pemilik Rumah ini ( Ka’bah).
4. Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.
(Q.S. 106: 1-4)

Selasa, 01 Juli 2014

BPI 10 goes to Buniayu (Day 2)

Though the road's been rocky it sure feels good to me.”

― Bob Marley


Dengan cukup excited keluarga BPI 10 bersiap-siap menelusuri goa minat khusus di pagi hari Minggu itu. Meskipun tubuh masih pegal-pegal setelah caving di goa semi khusus di hari sebelumnya, bayangan akan sejuknya Curug Bibijilan yang menanti kami di ujung goa cukup membakar semangat kami. Akhirnya, pagi-pagi kami sibuk fitting baju ;)

Dipiliiih dipiliiih :D (foto oleh ummi Uswah)

Setelah tampak keren dengan wearpack berwarna mencolok itu, kami asyik berfoto-foto selama sekitar 1 jam! Bukan, bukan karena terlalu narsis sampai lupa waktu, tetapi karena sebelum kami berangkat ada rombongan lain, dan memang diberi jarak yang cukup dengan rombongan tersebut :)

Mumpung warna bajunya masih kece, puas-puasin foto dulu ya :p (foto oleh )

Pintu masuk goa minat khusus ini berbeda dengan goa minat umum dan semi khusus. Kami melewati beberapa rumah warga, ber-kyaaa kyaaa melihat bayi-bayi anjing yang menggemaskan, hingga tiba di sebuah pagar kecil yang mengawali petualangan kami :)

Excitement campur sedikit tegang membuat saya cukup kalem sebelum meluncur ke dalam goa vertikal ini. Kyaaaaaaaaaaaa!!! Seru! Rasanya seperti terbang!
Ketika menjejakkan kaki di dasar goa, saya sempat merasa linglung sebentar. Rasanya nyawa saya masih ketinggalan di atas, hehehe.

Sayangnya saya gak sadar kamera :'( (foto oleh pakde Marta)

Setelah satu persatu hingga semua dari kami turun, kami mulai bergerak menyusuri goa yang basah ini. Berkali-kali kami berjalan di sungai yang terkadang terasa agak kuat arusnya. Di sini saya seperti anak kecil yang takjub melihat banyak sekali kelelawar, di samping stalaktit dan stalakmit yang tentunya kece-kece bingits.
Beberapa kali medannya menantang, seperti berjalan melipir tepat di samping dinding goa dengan berpegangan pada tali, sedikit rappeling, lalu yang lagi-lagi bikin perut saya mulas (baca: yang paling malesin) adalah berkubang lumpur lagi!




The terrain is challenging, isn't it? (foto-foto oleh pakde Marta)

Ada kejadian yang sebenarnya malas saya ingat, yaitu saya tidak bisa berjalan karena celana saya terinjak oleh kaki saya sendiri. Celana bahan saya (yang lebih cocok untuk menghadiri acara resmi itu) memang bertekstur agak keras. Tidak mudah sobek, tapi juga jadi menyulitkan langkah saya dalam situasi itu. Setelah celana itu terinjak saya sendiri, kaki saya tidak bisa lagi mengangkat. Huuuuuh, saya coba berkali-kali mengerahkan seluruh tenaga dan upaya *lebay*, sampai saya lelah sendiri. Akhirnya saya harus diberi bantuan. Kaki saya dikeluarkan dari lumpur dan celana saya digulung. [Peringatan! : Pakailah pakaian, khususnya celana, yang tidak hanya kuat, tetapi juga PAS! Jangan kepanjangan kayak saya]

Setelah menggerapai jalanan penuh lumpur, dengan beberapa bantuan berbonus (bonusnya masker lumpur gratis!) finally saya yang termasuk dalam rombongan belakang berhasil melalui pintu pagar kecil seperti di awal, dan menjumpai sinar matahari yang terik. Sembari menunggu pick up yang akan mengantar ke Curug Bibijilan, kami terpaksa berjemur hingga sekujur tubuh penuh lumpur pun seperti kue kering.



 We're like cookies, aren't we? -_- (foto oleh bang Jo)

'Selamat' ya dapet tumpangan -_- (foto oleh bang Jo)

Lama menunggu pick up yang tak kunjung tiba, kami memutuskan untuk jalan kaki ke Curug Bibijilan. Jaraknya? Hah, saya tidak tahu. Yang jelas rasanya lumayan lah siang-siang berjalan kaki dengan lumpur yang mulai mengering, sepatu boots karet kebesaran yang berisi lumpur, jalanan berkerikil yang naik turun, ditambah lagi pemandangan pick up-pick up rombongan lain yang lewat :"(
Sebagian dari rombongan kami mendapat tumpangan pick up dari rombongan lain, tetapi saya tidak termasuk di dalamnya. Terlalu malas mengejar pick up yang berhenti beberapa meter di depan saya itu. Jadi saya memutuskan untuk menikmati jalan dengan pakde Marta, bang Singgih, dan bang Agung, meskipun lama kelamaan satu persatu dari mereka mendahului saya dan tinggallah saya sendiri :"D

Rasanya legaaaa sekali melihat papan ini! (foto oleh bang Jo)

Sampai di Curug Bibijilan, ternyata saya tidak terlambat terlalu lama, karena mereka sempat bernarsis ria dulu -_-. Di curug tersebut, kami membasuh wajah dan pakaian serta boots kami yang penuh lumpur. Air sungai berarus cukup deras itu pun menjadi keruh, hehehe. Rasanya segaaaar sekali. Sebagian kelelahan kami luruh bersama air yang sejuk itu :D

Serasa jadi bawang putih, nyuci baju di pinggir sungai ;) (foto oleh bang Jo)


Bernarsis ria doloo yes! (foto oleh bang Jo)

Meskipun berat, kami harus segera meninggalkan curug itu. Dengan mobil pick up yang akhirnya datang juga, kami kembali ke rumah bang Nur untuk bersiap-siap pulang.
Tiket kereta Sukabumi-Bogor sudah di tangan (bang Kiki), tetapi sampai waktu keberangkatannya, kami belum sampai stasiun! Alhasil, kami beralih haluan ke terminal untuk naik bus.

Di dalam bus Sukabumi-Ciawi-Depok, sebelum penumpang jadi pepes :") (foto oleh bang Jo)


------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Meskipun hari itu tidak terlalu mudah, aku sungguh menikmatinya.

Sabtu, 28 Juni 2014

BPI 10 goes to Buniayu (Day 1)

Happiness is having a large, loving, caring, close-knit family in another city.” 
― George Burns


Setelah merencanakan selama beberapa bulan, keluarga BPI 10 berangkat ngetrip bareng ke Goa Buniayu di Sukabumi. Sebagian besar dari kami berkumpul di stasiun Bogor untuk kemudian menuju stasiun Sukabumi dengan kereta. Jugijagijugijagijuuug.. Hehehehe. Namun, selain sekian belas orang ini, ada pula yang langsung menuju Sukabumi dengan mengendarai motor. Singkat cerita, kami bertemu di stasiun Sukabumi dan menuju kawasan Goa Buniayu dengan mobil pick up dan motor. Ngeeeeng...

Pemandangan di kawasan Buniayu (foto oleh Mamsky)

Di tempat tujuan, kami disambut oleh keluarga bang Nuryaman yang akan memandu keluarga kami :) Bang Nur sendiri adalah teman pakde Marta, salah seorang anggota keluarga BPI 10. Singkat cerita, rencana semula kami untuk masuk ke goa minat umum sore itu berubah menjadi ke goa semi khusus. Kata bang Nur, goa semi khusus bagus buat latihan kami untuk ke goa minat khusus keesokan harinya.

Beberapa hari sebelumnya saya sempat menanyakan ummi Uswah dan pakde Marta yang sudah berpengalaman ke Buniayu sebelumnya mengenai dress code, karena saya berniat mengenakan baju cantik (baca: rok/gamis) akibat keterbatasan jumlah celana yang saya miliki. Meski mereka mengatakan bisa-bisa saja, entah mengapa saya merasa ada yang gimanaaa gitu. Ternyata keputusan saya untuk mengenakan celana tepat. Yah, meskipun celana bahan saya yang lebih cocok untuk menghadiri acara resmi itu kurang enak untuk caving, sih. Kenapa tepat? Karena kami berkubang lumpur, pakai acara nyemplung ke kubangan air lumpur sepinggang pula :( dan yang lebih mengenaskan adalah...

bukan itu jalurnya. Dengan kata lain, kami disasarin :/

Apa jadinya kalau saya pakai baju cantik? :p (foto oleh pakde Marta)

Aduh, terima kasih banyak kejutannya :"D
Well, tapi ternyata memang itu bagus untuk latihan, karena medan yang akan kami tempuh keesokan harinya kurang lebih seperti itu.
Akhirnya, setelah merangkak dan megap-megap, kami berhasil keluar dari goa latihan tersebut! Yeay!

Di luar langit mulai temaram. Suara adzan maghrib samar-samar terdengar. Syahdu.

Sesampainya di rumah bang Nur, kami membilas tubuh setengah penuh lumpur kami di empang samping rumah. Rasanya... wow, kelihatan banget anak kota-nya. Norak, tapi sangat menikmati. Apalagi ditambah guyuran air hujan. Aduuuuh malam itu beban-beban pikiran seolah ikut luruh terbasuh air hujan :')

In this empang we took a [natural] shower (foto oleh bang Jo)

Setelah mandi, sholat, makan, ngobrol-ngobrol, dan main games untuk semakin mengenal satu sama lain, kami beristirahat untuk menyiapkan energi agar bisa ber-caving dengan ceria keesokan harinya. Goa minat khusus.


Kebahagiaan adalah memiliki keluarga besar di kota lain yang mengasihi, peduli, dan erat (terjemahan bebas dari quote di atas)
Semoga kasih ini, kepedulian ini, dan keeratan ini abadi ya :')
I love you all, BPI 10 members :*


P.S. : Meskipun kita baru saling berkenalan (secara agak resmi) setelah kita menelusuri goa semi khusus ini, tapi sejak awal kita bertemu, aku merasa seperti bertemu keluarga :") #jadicurhat

We're BPI 10 Family [sayangnya gak lengkap :(] (foto oleh ummi Uswah)

Selasa, 10 Juni 2014

Displacement

Sebelum kamu bosan membaca kata maaf yang mungkin beberapa minggu ke depan hingga sekitar 1-1,5 bulan setelahnya akan banyak berhamburan, aku ingin menuliskan kata itu di tulisan ini.
Pertama, aku minta maaf jika terdapat kekeliruan dalam penggunaan istilah yang kupinjam dari salah satu bentuk defense mechanism-nya Pak Freud.
Kedua, aku ingin minta maaf pada dia, yang [mungkin] telah menjadi obyek displacement-ku. Aku sendiri tidak tahu apakah semua yang kulakukan padanya hanyalah bentuk pengalihan diriku dari hal lain yang tak ingin aku tampilkan, sesuatu yang mungkin memang tak pantas untuk ditunjukkan, seperti ke-tidak-tangguhan-ku menghadapi berbagai tugas, kejenuhanku dengan segala rutinitas, atau bahkan mungkin kekesalanku pada sahabatku sendiri. Aku tidak tahu itu, karena mekanisme ini berlangsung tanpa disadari, bukan?
Yang jelas, aku merasa bukan dia masalahku. Aku memang merasa agak kecewa mendapati keacuhannya, agak miris melihat kesetiaannya pada dia-nya dia, agak sedih juga karena tak bisa lagi berharap apa-apa. Lihat, hanya agak. Hatiku tidak sakit-sakit amat.
Jadi, jika dugaanku benar, dia hanya aku pergunakan sebagai pelampiasan atas berbagai gejolak yang tertahankan, hingga aku menjelma seseorang yang bahkan tak kukenali sendiri, jika menghadapinya.

Dear you,
For the childish things I've done, gomen ne.
Have a happy life ever after with her (or anyone)
:D

Jumat, 06 Juni 2014

Random

Seharusnya saat ini aku sedang belajar, karena nanti siang ada ujian dan aku baru membaca sekilas sebagian materinya. Ya, se-ki-las, dan itupun baru se-ba-gi-an.
Tapi, apa yang kulakukan sekarang? Ah, jangan tanyakan apa, karena kamu sedang membacanya.

Sudah lama tidak membubuhkan jejak di ruang sederhana-tapi-istimewa (buatku, setidaknya) ini. Padahal, ada banyak cerita yang seharusnya kurekam di sini untuk kelak kuingat kembali, kurasai kembali, kupelajari kembali, dan tentunya harus kusyukuri kembali.

Sebut saja dia Mamsky, seperti aku suka menyebutnya dengan sebutan itu, yang telah membuatku kembali mengunjungi sudut mungil kehidupanku ini. Thanks, Mams, for making me come back to where I should be, to do what I should do, to be "me" again. *ketjup Mamsky* 

Knowing you, and the others, is one thing that I have to be grateful of.

Jumat, 20 Desember 2013

Lepas

Kulepas kau bersama tetesan awan yang semakin deras
Mengalirkan segala ingin yang tak mungkin
Menghanyutkan asa yang tak pada tempatnya

Jadi biarlah aku yang gersang, sebab rinaimu hanya menjadi air bah di hatiku

Sabtu, 07 Desember 2013

Halte

Sudah biasa, saya pikir, bagi saya untuk membuat perencanaan. Tujuan, impian, cita-cita, dan sejenisnya sudah tidak asing lagi bagi saya. Bahkan, saya pernah membuat tulisan mengenai hal tersebut. Namun, pada dua siang itu saya tersentak. Malu. Apa benar saya sudah tahu tujuan saya?

Dua siang. Dua tempat. Dua situasi. Pertanyaan pada siang, tempat, dan situasi pertama terjawab beberapa minggu setelahnya, tepatnya di siang, tempat, dan situasi yang kedua. Keduanya sama-sama menghentakkan saya dalam hal yang sudah saya paparkan sebelumnya.

Apa tujuan hidup kamu? Sebuah pertanyaan simpel dari dosen saya membuat saya meringis. Saat itu saya yakin saya sudah punya. Saya sering membuat perencanaan dalam hidup saya, mulai dari perencanaan studi, perencanaan karir, kalau perencanaan hidup … mungkin. Mungkin sudah, mungkin juga, hmm, belum. Ah, bukankah saya sudah punya tujuan hidup? Atau, apakah yang saya kira tujuan sebenarnya bukan benar-benar tujuan?

Kali kedua terjadi bukan di dalam kampus. Ketika mengikuti sebuah pelatihan, saya dikenalkan “istilah baru”. Terminal dan halte. Bukan terminal dan halte kendaraan umum seperti yang saya maknai biasanya, melainkan “terminal” dan “halte” dalam hidup. Saya, dan peserta pelatihan saat itu, diminta untuk mengevaluasi “tujuan” yang telah kami tuliskan sebelumnya, apakah “tujuan” itu adalah “terminal” alias tujuan akhir, atau baru “halte” alias tujuan sementara.

Saya menelan ludah. Tanpa lama berpikir, saya menulis kata HALTE besar-besar. Semua ini baru halte. Dari sekian baris mimpi yang saya tulis itu, semuanya bukan yang terakhir, bukan final.

Saya jadi kembali teringat pada “banyak jalan menuju Roma”. Dalam konteks ini, bahkan jika keadaan membuat saya harus melalui jalan yang bukan di mana halte-halte itu berada, itu sejatinya tak mengapa. Lagi-lagi, karena itu hanya persinggahan sementara.

Dan bukan di dunia ini pemberhentian akhir itu berada.

Nampaknya saya terlalu sibuk membayangkan jalan-jalan yang mengantarkan saya pada “halte”, hingga terlupa pada “terminal”.

Namun demikian, itu tidak berarti “halte”-“halte” tersebut menjadi tidak penting. Mereka penting, tapi yang saya pahami sekarang, mereka bukan lagi yang utama.

Jumat, 22 November 2013

Siang, Copet, dan Hak

Slep! Sebuah tangan tiba-tiba keluar dari tas saya ketika saya akan turun dari angkot. Seketika saya speechless.

Bukan tangan hantu ataupun tukang sulap, tapi tangan "jahil" yang memasuki tempat yang bukan haknya, dan terpaksa keluar ketika si empunya barang memergokinya. Segera saya mengecek isi tas, dengan fokus utama pada ponsel (karena barang-barang lain dalam ruang tas yang terbuka itu tidak ada yang penting selain ponsel), dan bernafas lega benda itu masih dengan nyaman berada di ujung bawah tas saya, terlindungi oleh tisu, plastik berisi beberapa masker yang baru saya beli, dan segala barang-barang printilan yang memang sedang berantakan saat itu.

Kejadian itu terjadi dalam waktu singkat, tidak sampai satu menit, yakni ketika saya menunggu supir angkot menyerahkan uang kembalian saya. Saya yang membayar dan menunggu kembalian di dalam angkot (posisi saya saat itu di belakang supir. Saya membayar di dalam karena teriknya matahari membuat saya malas membayar dan menunggu kembalian di luar, alias di samping pintu depan penumpang tempat biasanya saya bayar), tidak menyadari bahwa ada tangan yang membuka tas dan mencoba merogoh isinya saat tatapan saya fokus pada uang kembalian dari pak supir. Saya baru mengetahui hal itu ketika hendak turun.

Setelah melemparkan pelototan pada pelaku, saya turun dengan jantung yang berdegup sangat kencang dan tangan gemetar. Ingin rasanya memaki-maki orang itu, atau setidaknya menyindirnya agar penumpang lain tahu bahwa ada pencopet di tengah-tengah mereka. Sayangnya saya terlalu shocked, takut, sehingga justru tidak bisa berkata apa-apa dan berkeringat dingin sendiri.

Saya masih ingat betul perasaan saya ketika itu. Geram, kecewa, sedih, aaaaargh pokoknya geregetan banget, lah! Seenaknya saja mengambil hak orang lain! Ponsel itu saya miliki bukan tanpa pengorbanan. Ponsel itu dibeli memang dengan uang orang tua, tetapi justru karena uang orang tua itulah yang jauh lebih menyesakkan saya. Apa dia tidak memikirkannya? Pernahkah haknya diambil orang lain begitu saja?

Bus yang saya tunggu-tunggu lama sekali datangnya. Saya langsung mengabarkan beberapa teman saya untuk berhati-hati. Sambil menunggu, saya kembali merasa-rasai perasaan saya. Semakin saya rasakan emosi negatif itu, saya menjadi memahami, seberapa sulitnya situasi kita, hak orang lain tetap tidak boleh dilanggar. Materi moral development yang saya pelajari di kelas beberapa waktu lalu pun terputar kembali.


Ah, jangan-jangan sebenarnya saya sering melukai hak-hak orang lain. Ternyata seperti ini sakitnya.. Sakit sekali.

:'(

Kamis, 24 Oktober 2013

Bonceng Tiga

Pagi itu langit mendung. Tahu saja ia akan kecemasan yang menggelayutiku. Bagaimana tidak, aku akan memulai perjalanan seorang diri, melintasi negara, di mana baik negara asal maupun negara tujuannya bukan negaraku sendiri, dan ini pertama kalinya. Aku mencoba menguat-nguatkan hati, mengingatkan diri akan salah satu cita-citaku. Backpacker. Terdengar keren, bukan?

Setelah mengecek ulang barang-barang dan memastikan tak ada yang kutinggalkan di PSU Lodge selain kaus kaki tipis yang sudah kotor dan berencana kubuang, aku menghubungi salah satu teman baruku di Thailand. Nee, nama panggilannya. Gadis cantik berkerudung itu semalam sebelumnya mengatakan akan mengantarku ke terminal. Aku menunggunya sembari berpamitan pada teman-teman Indonesia yang masih berada di sana.

Di luar, hujan sudah turun dengan cukup deras. Perutku keroncongan, pagi ini sudah tidak ada jatah sarapan. Setelah hujan mulai reda, aku bergegas menuju sebuah minimarket di depan kampus PSU Phuket untuk membeli makanan, kaus kaki baru, dan jas hujan. Sekembalinya dari sana, Nee dan temannya sudah asyik berbincang dengan Valina, salah satu temanku dari Indonesia. Setelah berkenalan singkat dengan teman Nee, aku memutuskan untuk langsung berangkat. Kupikir aku hanya diantar oleh Nee atau temannya. Kalaupun mereka berdua, kupikir kami menggunakan dua motor.

Ternyata, kami berboncengan bertiga dalam satu motor! Nee yang mengendarai, aku di tengah, dan di belakangku teman Nee. Koperku yang berukuran sedang diletakkan di depan Nee, dan ranselku dicangklong oleh kawan Nee. Sebenarnya aku agak khawatir, apalagi jalanan basah setelah hujan. Namun, aku memilih percaya pada Nee yang mengatakan akan baik-baik saja.

Begitulah, selama sekitar 20 menit kami bertiga menuju terminal. Ternyata di Phuket banyak yang sering bonceng tiga, tidak pakai helm, dan hal-hal lain yang biasanya kuanggap sebagai pelanggaran dalam berlalu lintas. Memang, di sana aku tidak melihat polisi, dan kata temanku, entah benar atau tidak, peraturan di sana memang sedemikian longgar karena di sana daerah tujuan wisata, tempat banyak turis berada. 

Tepat saat Nee menghentikan motornya, sebuah bus berwarna putih-biru bersiap keluar dari terminal. Itu bus menuju Hatyai! Kondekturnya, yang adalah seorang wanita, bertanya apakah kami akan ke Hatyai dalam bahasa Thailand. Nee yang menjawab, sementara aku hanya cengar-cengir sambil mengangguk. Dengan sigap ibu kondektur itu mengambil koperku dan meletakkannya di bagasi bawah bus. Setelah bersalaman singkat dan mengucapkan terima kasih, aku mengucapkan selamat tinggal pada Nee, temannya, dan juga Phuket :')

Aku tidak menyangka bisa berteman baik dengan Nee. Sebelumnya, aku hampir tidak pernah mengobrol dengannya, karena entah mengapa jarak kami selalu berjauhan selama kami berkegiatan. Barulah pada saat-saat terakhir, ketika acara sudah usai, Valina yang cukup dekat dengan Nee menghubungkan kami.

Beberapa pekan setelahnya, kami kembali berhubungan melalui chat facebook. Aku mengajaknya ke Indonesia, dan ia mengatakan bahwa kelak jika suatu saat ke Indonesia, aku adalah salah satu orang pertama yang akan diberitahunya :'D


Aku tidak sabar untuk menjemputnya di bandara Soekarno-Hatta :') 





Tulisan ini kubuat sambil menyusun mozaik-mozaik ingatan yang sudah mulai kabur, sehingga tidak bisa detail :'( Sedih sekali pengalaman-pengalaman berharga itu tergerus waktu karena ingatanku tak cukup kuat untuk memegangnya. Semoga lain kali aku tidak lagi malas mengikat kisah perjalananku dalam tulisan. Aamiin.

Selasa, 22 Oktober 2013

Cantik dengan Terluka


Saya bingung ngasih judul apa untuk tulisan ini. Awalnya saya terpikir untuk memberi judul "Melukai dengan Cantik". Namun, kemudian sebuah insight baru membuat saya mengubahnya, ya, seiring dengan pemahaman baru tersebut.

Selamat membaca!

Jumat, 11 Oktober 2013

elegi senja hari

aku mengecap butir-butir tanah yang kujejak
menambal lubang-lubang yang berbiak di hati yang penuh retak
ada sesak yang mendesak
karena jarak

aku bernyanyi setiap pagi
menulikan telinga yang sepi
sibukkan diri menertawai
aku yang sendiri