Senin, 12 November 2012

Ah, Kawan..

Kawan, hujan ini membuat kepalaku pening, tapi ia sering sekali menyelubungiku akhir-akhir ini. Aku ingin pergi saja, berteduh. Namun, kau tepuk pundakku dan sodorkan payung. Ah, kau tahu kalau aku memang tak bisa mengabaikan hujan.
Pun kau tunjukkan turbin kecilku, dan berharap ia bisa berputar dengan aliran deras sang hujan yang kucemaskan, agar menjadikan untukku pelita yang 'kan menenangkanku.
Ah, kawan. Terima kasih lagi, dan temani aku menata semua ini.


Ditulis setelah menjalani perjalanan singkat dari kampus ke halte bersama seorang kawan.

Minggu, 11 November 2012

Hujan


Aku ingin bercerita tentang hujan. Kini, entah sejak dan sampai kapan, aku mengubah pandanganku terhadapnya. Aku tidak ingin lagi mempersalahkannya yang telah membuat hariku kelabu, aku tak mau lagi membencinya karena mengurungku dari menjelajahi dunia.
Karena kupikir itulah dia. Tak mungkin aku berharap hujan akan membiarkanku menari riang di taman terbuka tanpa kebasahan. Tanpa ragu ia melingkupiku, seperti halnya tiada sungkan ia menguarkan harumnya tanah padaku.
Kurasa, aku mengagumi keberaniannya mengguyur muka bumi dan melunturkan debu yang menempel di sana, kendati sebagian orang merutuki caranya, terutama saat ia terlalu deras. Terkesan keras. Sungguh, aku melihat sesungguhnya ia tidak keras. Hujan itu tetap meneteskan air, bukan batu.
Maka bila aku memakai payung, bukan berarti aku menolak kehadirannya. Aku hanya ingin buktikan pada mereka, bahwa aku masih bisa menari di bawah naungan hujan. Hujan toh tak melarangku meninggalkan rumah.
Ah, hujan. Meski aku ingin menemanimu, akankah tarianku pantas mengiringi rinaimu? Masihkah kau ingat warna payungku?


Ditulis saat galau dalam perjalanan ke rumah

Jumat, 09 November 2012

Bahkan, dan aku hanya menggeleng-geleng

Siapa kau? Seenaknya saja muncul di sana dan di sini. Merendahkanku bahkan tanpa kata. Menertawaiku bahkan tanpa kita bersua. Mempermalukan diriku bahkan pada entah siapa. Bahkan, kemunculanmu saja tanpa rupa.

Mungkin?

Lagi-lagi hanya ingin bercerita tentang pelangi. Bukan karena ia terlalu dan paling istimewa, melainkan lebih kepada tak ada bahan lain, mungkin?

Pagi itu jalanan masih basah, tapi langit mulai cerah. Dengan langkah-langkah yang kecil tapi cepat aku berusaha menyusul seorang kawan, namun ternyata ia tak berhenti di tempat yang aku kira. Di sanalah aku melihatnya, pelangi.

Tak ada lagi yang terasa berbeda saat melihatnya. Namun entah mengapa, aku melihat, atau mungkin saja berharap melihat, ada yang lain di mata yang sama terkejutnya denganku itu. Seolah ada pertanyaan di balik sana, yang mungkin selamanya tak terucapkan.

Aku jadi merasa bersalah. Akankah tanya itu adalah sebab terciptanya jarak antara kami yang kubuat tanpa sengaja tempo dulu? Padahal, aku sudah siapkan jawaban, bahwa jarak itu tidak kumaksudkan, dan jika dia tak menginginkannya maka bisa saja terhapuskan. Aku dan dia mungkin bisa seperti aku dengan yang lain, atau dia dengan yang lain. Tidak menjadi terlalu asing seperti saat ini.

Atau mungkin saja, ia memang tak pernah terpikir pertanyaan itu. Bahkan tak menyadari apa yang terjadi. Khas dia, bukan?

Ah, sudahlah. Enggan memikirkan apa yang mungkin. Nyatanya, aku tersenyum melihatnya tidak se-mementingkan diri sendiri seperti dulu. Yah, walaupun tak sepenuhnya tanggap apa yang seharusnya dia lakukan.

Ya, aku akan selalu memakluminya. Mungkin ia belum paham.

Hhhh...

Seringkali bingung bagaimana menyampaikannya. Atau, justru sebenarnya belum jelas apa yang ingin disampaikan? Rasanya tak dapat menampilkan diri yang sebenarnya. Namun, apa aku sendiri yakin siapa diriku sesungguhnya? Tidak terima jika orang lain menerka-nerka siapa saya, atau memang tidak mau mengakui apa adanya?